ZONALITERASI.ID – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Fotografi (Film) Universitas Pasundan (Unpas) menghadirkan pameran bertajuk “Bernafas—Hidup di Detik Ini”. Pameran yang digelar di Bandung Creative Hub, Jalan Laswi No.7, Bandung pada Februari lalu itu, berangkat dari realitas ritme kota yang kian cepat dan tekanan hidup generasi masa kini.
Pameran ini menjadi ruang jeda bagi publik untuk kembali pada kesadaran paling mendasar: bernapas, menyadari, dan mengakui keberadaan diri di detik ini. Digagas sebagai bagian dari kolaborasi proyek mata kuliah, para mahasiswa memetakan pengalaman psikologis generasi muda melalui tiga ruang konseptual: masa lalu, masa depan, dan masa kini.
Pada ruang pertama, karya-karya cyanotype menampilkan jejak biru sebagai metafora trauma dan ingatan yang menetap. Warna biru dihadirkan sebagai medan emosional yang sunyi, kontemplatif, dan reflektif, mengajak pengunjung menatap luka tanpa dramatisasi berlebihan.
Memasuki ruang kedua, pendekatan visual augmented memperkaya pengalaman audiens. Karya-karya tidak lagi statis—gambar dapat bergerak, muncul, dan menghilang saat dipindai. Pendekatan ini menggambarkan kecemasan akan masa depan: rasa takut gagal, tertinggal, dan merasa tidak cukup. Dalam konteks ini, kecemasan diposisikan bukan sebagai kelemahan, melainkan sebagai bagian dari kesadaran modern.
Pameran juga menghadirkan ruang bertajuk “Pengingat dan Bahtera”, yang menempatkan fotografi bukan sekadar medium representasi, tetapi medium relasi—antara diri dengan diri, serta antara karya dengan audiens.
Selain mengangkat isu kesehatan mental, pameran ini menampilkan karya mahasiswa baru bertema “Sudut Pandang Kota Bandung”. Kota tidak ditampilkan sebagai ikon wisata, melainkan sebagai fragmen keseharian: trotoar, grafiti, wajah-wajah anonim, ritme arsitektur, hingga gang-gang kecil yang menyimpan waktu.
Sejumlah karya bahkan dialihmediakan menjadi perangko—medium komunikasi jarak jauh yang sarat pesan personal.
Dalam ukuran miniatur tersebut, Kota Bandung menjadi arsip visual yang intim dan dapat “dikirimkan” dari satu tangan ke tangan lain. Transformasi ini menegaskan potensi fotografi sebagai medium reproduktif sekaligus dokumenter.
Secara kuratorial, penyandingan tema kesehatan mental dan lanskap kota menunjukkan keterkaitan antara ruang batin dan ruang urban. Kota membentuk ritme psikologis, sementara tekanan sosial dan dinamika urban turut memengaruhi kondisi mental warganya.
Kegiatan berlangsung selama tujuh hari, diawali pada 21 Februari 2026 dengan sejumlah agenda, seperti screening film, artist talk, workshop, dan diskusi.
Salah satu agenda yang menjadi sorotan adalah “Wani Gelut”, forum terbuka di mana mahasiswa pameris mempertahankan serta mempresentasikan karya mereka di hadapan audiens.
Program ini dirancang sebagai ruang pedagogis yang melatih keberanian berargumentasi dan memperdalam landasan konseptual karya.
Sebagai bagian dari proses pedagogis dan reflektif mahasiswa fotografi, “Bernafas—Hidup di Detik Ini” tidak berupaya memberikan jawaban final atas persoalan kesehatan mental maupun dinamika kota. Pameran ini justru menawarkan jeda—ruang untuk melihat, merasakan, dan menyadari. Karena pada akhirnya, hidup—betapapun kompleksnya—selalu berlangsung di detik ini. ***
Sumber: Unpas.ac.id











