Peneliti BRIN Temukan Jejak Tsunami Purba

peneliti brin purna sulastya putra 1754480280824
Tim peneliti PRKG BRIN menemukan jejak tsunami purba berusia 400-3.000 tahun di selatan Jawa, hingga 2 km dari bibir pantai, (Foto: detikEdu/Trisna Wulandari).

ZONALITERASI.ID – Tim peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan sejumlah jejak tsunami purba usia 400-3.000 di wilayah selatan Jawa. Titik terjauh mencapai 2 km dari bibir pantai.

“Saat itu rata-rata kita paling jauh sekitar 2 km dari sepantai yang kita eksplorasi. Kita coba cari juga yang lebih jauh gitu, tapi lokasi-lokasi (jauh) yang paling efektif itu sekitar 2 kilometer,” kata peneliti PRKG BRIN Dr. Purna Sulastya Putra, M.T., pada diskusi Menggali Jejak Tsunami Purba di Selatan Jawa di Gedung BJ Habibie BRIN, Thamrin, Jakarta, Rabu, 6 Agustus 2025.

“Bukti-bukti tsunami di berbagai daerah selatan Jawa menunjukkan tsunami pernah terjadi Lebak, Banten; Pangandaran, Jawa Barat; Adipala, Cilacap, Jawa Tengah; Kulon Progo, DI Yogyakarta; hingga Lumajang, Jawa Timur antara 3.000-400 tahun lalu,” sambungnya.

Purna menyebutkan, pengumpulan jejak tsunami purba dilakukan sejak 2006, usai gempa dan tsunami Pangandaran, Jawa Barat yang menimbulkan lebih dari 600 korban jiwa.

Untuk mencari tahu terjadinya tsunami, peneliti di antaranya menggali keberadaan lapisan endapan (sedimen) tsunami. Pasir laut pada sedimen ini berwarna terang, kontras dengan tanah rawa di bawahnya.

“Pencarian jejak tsunami dilakukan di cekungan seperti rawa dan laguna karena air dan endapan tsunami bisa menggenang di cekungannya. Ketika memasuki (cekungan yang) rendah itu, mungkin kecepatannya akan berkurang, kemudian dia berpotensi mengendapkan sedimen,” ujarnya.

Ia menambahkan, lapisan endapan tsunami rawa juga lebih aman dari kerusakan akibat proses pascapengendapan. Rawa aktif juga dinilai lebih menjaga lapisan endapan tsunami karena akan terbentuk endapan rawa yang menutupinya, termasuk lapisan daun yang jatuh ke sana.

“Atau di laguna, misalnya. Jadi di lokasi-lokasi seperti itu adalah tempat yang paling bagus untuk mengendapkan tsunami,” ucapnya.

Ia menggarisbawahi, lapisan tsunami tersebut juga bisa hilang karena aktivitas manusia. Untuk itu, rawa atau laguna yang secara alami terisolasi diharapkan bantu kerja peneliti untuk menggali jejak bencana pesisir tersebut.

“Diharapkan, kalau digali lebih dalam, itu masih ada jejak-jejak tsunami ratusan atau ribuan tahun lalu. Mungkin masih ada lagi,” kata Purna.

Membandingkan Lokasi dengan Peta Zaman Belanda

Purna menuturkan, peneliti terkadang tidak mengetahui pasti apakah rawa di dekat pantai cukup tua untuk meneliti jejak tsunami purba. Untuk itu, mereka terkadang membandingkan lokasi rawa saat ini dengan peta-peta di zaman penjajahan Belanda.

“Misalnya ternyata ini rawa yang cukup baru, maka kita harus beralih ke daerah-daerah untuk mencari rawa yang lain, yang sudah cukup tua, yang memungkinkan merekam tsunami, ratusan, dua ribuan tahun yang lalu,” tuturnya.

Ia menuturkan, peneliti juga harus mempertimbangkan cepatnya perubahan garis pantai di selatan Jawa.

“Tapi biasanya, kalau di selatan Jawa ya sekitar 1 kilometer dari garis pantai ini. Karena, di beberapa tempat di selatan Jawa, garis pantainya itu maju ke arah laut sangat cepat. Jadi itu juga harus kita pertimbangkan, karena sedimentasi dan gerakan cukup cepat,” imbuhnya.

Di samping peta tua, pihaknya juga menggunakan aspek sejarah untuk menilik kemungkinan terjadinya tsunami ratusan tahun lalu. Ia mencontohkan, jika suatu wilayah ditinggalkan usai abad ke-15, peneliti coba mencari tahu apakah tindakan tersebut berkaitan dengan tsunami, perang, atau perebutan wilayah.

Purna menambahkan, tim peneliti di lapangan juga bertanya pada warga. Cara ini diharapkan bisa menggali informasi keberadaan jejak tsunami. Informasi-informasi tersebut sangat penting bagi peneliti.

“Pas menggali sumur, itu mereka dapat apa? Ini lapisan tanahnya seperti apa? Itu sering kali kita tanyakan,” tuturnya.

“Nanti di kedalaman 2 meter ada lapisan pasir, misalnya. Nah itu kan informasi menarik yang coba kita, kemudian menjadi kita semangat, misalnya untuk mungkin menggali, gitu,” sambung Purna. ***

Sumber: detikEdu