ZONALITERASI.ID – Scott Galloway, penulis asal Amerika Serikat (AS), membuktikan, nilai yang kurang bagus semasa sekolah bukan akhir dari segalanya. Kondisi tersebut tetap bisa menjadikannya orang dengan kekayaan triliunan.
Kini, penulis buku Notes on Being a Man dan profesor di New York University (NYU) Stern School of Business ini memiliki karier mentereng. Dia bercerita, dulunya pernah memiliki nilai kurang bagus semasa sekolah.
Dilansir dari Majalah Fortune, saat sekolah menengah, Galloway kebanyakan mendapat nilai B dan C dan tidak belajar untuk SAT (tes masuk perguruan tinggi di AS). Bahkan nilai SAT yang dia raih jauh di bawah rata-rata universitas top di AS. Dia juga sempat ditolak masuk University of California, Los Angeles (UCLA).
Ia mengaku kecewa karena saat itu diejek sebagai “siswa yang kreatif dan pintar”.
“Suatu hari saya pulang, dan saya sangat kesal. Sepanjang hidup saya, orang-orang selalu mengatakan bahwa ‘saya kreatif, pintar, lucu, dan sebagainya’,” katanya.
Sempat Bekerja hingga Kembali Daftar UCLA
Usai ditolak masuk UCLA, Galloway muda bekerja dengan memasang rak. Gajinya sekitar USD 17 per jam.
Meski sudah bekerja, dia masih ingin masuk UCLA. Akhirnya, proses lamaran ke UCLA dia ajukan proses banding.
Namun, karena adanya peraturan ‘khusus’, dia diterima sebagai ‘putra asli’ California. Galloway lahir di New York City, tetapi dibesarkan terutama di daerah Los Angeles.
Dia pun masuk di jurusan ekonomi UCLA dan lulus pada 1987, demikian dilansir laman NYU Stern.
Miliki Kekayaan Mencapai Rp 2,5 T
Meski dulu sempat punya nilai jelek semasa sekolah dan hampir ditolak UCLA, kini Galloway memiliki harta mencapai Rp 2,5 triliun. Bahkan dia juga aktif menyumbang untuk almamaternya, UCLA.
Menurutnya, nasib anak muda tidak bisa ditentukan oleh institusi seperti sekolahan atau individu lain. Setidaknya itu yang dia yakini dari pengalamannya.
“Tidak ada institusi atau individu yang dapat mengenali atau menjadi penentu kehebatan pada seorang anak berusia 18 tahun,” ujarnya.
“Dalam lima tahun terakhir (saya) telah memberikan kembali USD 16 juta (Rp 267 milar, kurs Rp 16.678) kepada UCLA,” sambung Galloway.
Dari pengalamannya, Galloway meyakini kesempatan menempuh pendidikan tinggi harus diberikan kepada sebanyak mungkin anak. Di sisi lain dia mengkritik, banyak perguruan tinggi sekarang didasarkan pada kelompok ekonomi orang-orang kaya.
Data menunjukkan bahwa di AS, masuk perguruan tinggi saat ini jauh lebih sulit daripada 20 tahun yang lalu. Misalnya, menurut KD College Prep, tingkat penerimaan untuk kelas mahasiswa baru Harvard tahun 1995 adalah 11,8%. Untuk mahasiswa baru tahun ini, tingkat penerimaannya hanya 4,2%.
“Pendidikan tinggi mewakili tren berbahaya di Amerika di mana kita telah kehilangan rasa cinta (menghargai) terhadap orang-orang yang (memiliki potensi) luar biasa,” pungkas Galloway. (haf)***





