Politik Historiografi: Al Quds, Kota Kudus, dan Rokok Kretek

WhatsApp Image 2026 01 28 at 12.11.08 1
Nunu A. Hamijaya, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Nunu A. Hamijaya

KISAH kretek dimulai dari kota Kudus, Jawa Tengah.  Pada tahun 1880, seorang warga lokal bernama Haji Jamhari pertama kali menemukan rokok kretek (perpaduan cengkih dan tembakau). Haji Jamhari meracik rokok kretek tersebut untuk meredakan rasa sakit di dadanya.  Dia pun bereksperimen dengan menambahkan cengkih pada rokoknya disertai harapan agar paru-parunya dapat membaik dengan menghirup asapnya.

Pada akhirnya, Haji Jamhari sembuh. Dengan semangat, dia memasarkan penemuannya yang dinamakan ‘kretek’ sebagai obat. Nama ini diambil dari bunyi gemeretak (kemeretek) yang dihasilkan oleh cengkih saat terbakar.

Penemuan tidak disengaja ini ditindaklanjuti oleh Nitisemito, warga Kudus yang melihat peluang untuk mengembangkan kretek. Dia memasarkan kretek dan mulai memroduksi massal rokok baru yang unik tersebut. Dengan melakukan hal itu, maka lahirlah cikal bakal industri raksasa dengan cakupan mendunia.

Namun, perusahaan Nitisemito yang bernama Bal Tiga telah lama punah. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan di Kota Kudus.

Era China Menguasai Industri Rokok: Paradoks  Kota Kudus

Sejak 1950-an, industri  kretek diambil alih oleh orang-orang China. Salah satunya yaitu Oei Wie (1951), pemilik kerajaan  Djarum . Perusahaan ini kini  dilanjutkan oleh dua anaknya, Robert Budi Hartono dan Michael Hartono.

Ya, Kota Kudus yang diambil dari nama masjid di Palestina, al Quds, dalam rentang waktu 200 tahun menjadi kota industri rokok kretek. Suatu labeling sebagai kota rokok kretek yang paradoks, antara rokok dan asapnya dengan kesucian Masjid al Quds (secara fiqhiyah para wali dan para santrinya tidak  merokok).

Dari sekitar  600 pabrikan kretek di Indonesia, sebagian  besar berbasis di Kudus. Djarum  sendiri mempekerjakan kurang lebih 60.000 warga Kudus. Seandainya para wali saat ini masih hidup dan menyaksikan industri rokok kretek berkembang sangat pesat di Kudus, entah  fatwa apa yang akan dikeluarkannya.

Merokok Kretek Bukan Budaya Asli Bangsa Indonesia

“Merokok kretek bukan budaya asli bangsa Indonesia. Itu cuma akal-akalan korporasi. Rokok, tembakau, dan cengkeh kan bukan tanaman asli Indonesia,” ujar sastrawan, Taufiq Ismail, sepuluh tahun yang lalu (2015).

Budaya menghisap  rokok, kata Taufiq, sebenarnya bukan asli Indonesia, itu adalah kebiasaan asing yang dibawa ke Indonesia melalui aktivitas perdagangan.

Menurutnya, itu adalah “titipan” pengusaha rokok. Sepuluh orang terkaya di Indonesia itu adalah pengusaha rokok yang rumahnya di California. Dia menyebut mereka bukan pengusaha tapi pembunuh massal.

Taufiq juga menjelaskan, politisi Indonesia sudah menjalin kongkalikong dengan pengusaha rokok. Buktinya, Indonesia tak meratifikasi kerangka kerja pengendalian tembakau (FCTC) badan kesehatan dunia (WHO). Dari 80 lebih negara, yang tidak ikut FCTC cuma ada tiga negara termasuk Indonesia dan dua negara Afrika.

Setelah dua puluh tahun (November 2005),  hingga saat ini memang  Indonesia  belum meratifikasi WHO Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu dari sedikit negara anggota WHO yang belum terikat perjanjian internasional ini. Indonesia menunda ratifikasi karena pertimbangan dampak sosial-ekonomi terhadap petani tembakau dan industri rokok nasional.

Membaca Politik Historiografi

Dulu, China dikalahkan Inggris akibat rakyat dan tentaranya disuruh merokok hingga kecanduan opium. Jadilah Perang  Candu. Penyelundupan opium membuat China terpuruk, karena harta negara terus mengalir ke Inggris dan jutaan rakyatnya mengalami ketergantungan.

Pada 1839, Kaisar Daoguang mengangkat Lin Zexu sebagai pejabat Komisioner Tinggi China untuk mengatasi penyelundupan opium. Lalu, pada 26 Juni 1839, Lin Zexu berhasil menyita dan menghancurkan opium yang didapat dari gudang pedagang Inggris di China. Aksi pemusnahan opium inilah yang membuat kemarahan Inggris memuncak.

Dampak kekalahan China dalam Perang Candu I, yaitu keterbukaan perdagangan di China, termasuk perdagangan opium; Hong Kong diserahkan ke Inggris; Pelabuhan Guangzhou, Amoy, Foochow, Shanghai dan Ningpo dibuka untuk semua pedagang; dan  China membayar ganti rugi sebesar 60.000 euro.

Itulah salah satu yang menjadi alasan orang-orang China di Indonesia sebenarnya antimerokok. Muncul dugaan, mereka membuat pabrik rokok  justru  untuk melemahkan mental pribumi agar otaknya tidak bisa  berpikir dan intelegensinya melemah. Jadilah mereka hanya sebagai pelayan dan kacung-kacung China dan Barat.

Dampak Merokok

Saat ini (data 2023),  Indonesia masih menjadi negara ketiga dengan jumlah perokok aktif terbanyak di dunia (61,4 juta perokok), setelah China dan India. Tingginya jumlah perokok aktif tersebut berbanding lurus dengan jumlah non-smoker yang terpapar asap rokok orang lain (second-hand smoke) yang semakin bertambah (97 juta penduduk Indonesia). Sebanyak 43 juta anak-anak Indonesia terpapar asap rokok.

Prevalensi merokok di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Perilaku merokok cenderung tinggi pada laki-laki, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa

Merokok pada remaja memengaruhi kekuatan memori jangka pendek. Akaputra et al 2018, menyatakan merokok tidak hanya berpengaruh pada kesehatan fisik. Kebiasaan menghisap tembakau akan berpengaruh terhadap kesehatan fungsi otak dan psikis. Severine Sabia dan koleganya dari Institut Kesehatan Nasional dan Penelitian Medis di Villejuif, Prancis, membenarkan bahwa merokok dapat merusak otak. Dari data yang dikumpulkan dari 5.000 warga Inggris, menunjukkan bahwa mereka yang merokok lebih rendah tingkat ingatannya, dibandingkan mereka yang tidak merokok, jika remaja terus menerus menghisap rokok, maka akan terjadi penumpukan nikotin di otak.

Dalam penelitian itu juga disebutkan, paparan asap rokok sejak dini memengaruhi fungsi sinaptik dan perkembangan otak. Ketika anak masih berusia sangat muda, itu adalah saat mereka masih mengembangkan sistem saraf mereka dan berada dalam kondisi yang sangat rentan terhadap paparan dari lingkungan luar.

Selanjutnya, menurut hasil survei yang dilakukan oleh Yayasan Jantung Indonesia, sekitar 77% siswa mengaku mulai merokok karena ditawari teman mereka. Tanpa disadari, kebiasaan ini membawa dampak yang sangat berbahaya, karena sebatang rokok mengandung lebih dari 4.000 senyawa kimia dan lebih dari 400 zat racun yang dapat merusak tubuh. Selain itu, merokok dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental remaja. Mereka yang merokok cenderung mengalami penurunan fokus belajar, gangguan daya tangkap, penurunan energi, serta munculnya kecemasan yang berujung pada depresi ringan.

Penelitian yang dilakukan oleh Park et. al di Korea Selatan menemukan bahwa anak-anak yang terpapar maternal smoking atau memiliki ibu yang merokok saat mengandung memiliki kecerdasan intelektual atau IQ yang lebih rendah dibandingkan anak-anak yang terpapar asap rokok dari anggota keluarga lain saat dalam kandungan, dan anak-anak yang terpapar asap rokok dari anggota keluarga setelah lahir. Dampak buruk ini muncul karena konsumsi tembakau saat hamil menghambat pertumbuhan uterus, sehingga mempengaruhi nutrisi yang diterima oleh janin dan perkembangan kecerdasannya sebelum lahir. Namun, ibu yang merokok saat hamil bukanlah satu-satunya penyebab menurunnya IQ anak.

Paparan asap rokok pada anak setelah lahir dari anggota keluarga atau lingkungan di sekitar mereka ternyata memiliki dampak yang signifikan terhadap Full Scale IQ, Verbal IQPerformance IQ, perbendaharaan kata, matematika, dan skor desain blok anak. Fungsi verbal terutama adalah yang paling rentan terhadap dampak buruk asap rokok. Paparan asap rokok setelah kelahiran sangat mempengaruhi kemampuan membaca serta tingkat Verbal IQ sang anak. ***

Madrasah al I’anah, 22 Februari 2026

Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *