Sekdisarpus Kota Bandung: Jangan Sampai Kita Amnesia Sejarah

f17088c5 2697 4985 a160 394ccb80ed55
Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Medi Mahendra, (Foto: Mardani Mastiar).

ZONALITERASI.ID Seminar “Penelusuran Arsip Sejarah Para Wali Kota Bandung dan Bangunan Bersejarah di Kota Bandung” yang diselenggarakan oleh Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung pada akhir Juni lalu menjadi ajang penting untuk memperkuat pemahaman dan pelestarian sejarah kota.

Seminar yang digelar di Aula Disarpus, Jalan Seram Kota Bandung ini dihadiri oleh berbagai pihak, mulai akademisi, sejarawan, komunitas sejarah, hingga perwakilan instansi terkait.

Ya, seminar ini merupakan bagian dari upaya sosialisasi kegiatan penelusuran arsip sejarah, yang hasilnya akan dikemas dalam bentuk buku dengan judul “Bangunan Bersejarah di Kota Bandung” dan “Walikota Bandung dalam Tiga Zaman”.

Berikut ini wawancara Dede Suherlan dan Mardani Mastiar dari Zonaliterasi.id dengan Sekretaris Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Medi Mahendra, terkait penyelenggaraan Seminar “Penelusuran Arsip Sejarah Para Wali Kota Bandung dan Bangunan Bersejarah di Kota Bandung”.

Tanya (Zonalitasi.id): Sebenarnya apa tujuan dari diselenggarakannya acara ini?

Jawab (Medi Mahendra): Ini bagian dari upaya kami, Pemerintah Kota Bandung, melalui Dinas Arsip dan Perpustakaan ingin mencoba menelusuri sejarah Kota Bandung sebagai warisan yang sangat besar kepada generasi mendatang.  Sering kali saya sampaikan, saya khawatir generasi anak-anak kita sekarang ini mengalami amnesia terhadap sejarah, lupa terhadap sejarah. Tidak mungkin kita ada hari ini, tidak ada pemerintahan hari ini kalau tidak ada pemerintahan sebelumnya. Kita mencoba untuk menelusuri sejarah, walikota dari masa ke masa, di era pemerintahan Hindia Belanda, pemerintahan Jepang, memasuki masa pemerintahan orde lama dan orde baru.

Tanya: Atas alasan apa harus melakukan penelusuran sejarah?

Jawab: Kita ingin mengungkap sejarah walikota Bandung dari masa ke masa. Saya berpikir bahwa sejarah Bandung itu tidak terlepas dari pemimpin kotanya. Kita tidak mau generasi yang akan datang itu, mereka putus informasi sejarah kotanya. Generasi muda ke depan itu harus punya referensi. Kalau hari ini ada kebijakan pembangunan, karena memang sebelum-sebelumnya sudah merancangkan ada yang namanya pembangunan infrastruktur, karena sebelum-sebelumnya sudah dicanangkan.

Untuk alasan mengungkap sejarah walikota Bandung dari masa ke masa, ada informasi yang simpang-siur. Di kalangan PNS atau ASN misalnya, mereka mengenal walikota Bandung pertama itu adalah Bertus Coops. Padahal sebetulnya sebelum Bertus Coops itu ada lima walikota yang ditugaskan oleh pemerintah Hindia Belanda pada masa itu. Bertus Coops sendiri merupakan walikota pertama yang masuk ke dalam sejarah Kota Bandung. Sebelumnya, asisten presiden yang mendapat tugas menjadi walikota.

Bertus Coops adalah walikota pertama yang mencanangkan berbagai pembangunan infrastruktur yang ada di Kota Bandung. Makanya seringkali kita sampaikan bahwa Bandung ini oleh pemerintahan Hindia Belanda tidak pernah dipersiapkan menjadi kota metropolitan, hanya dijadikan sebagai kota transit. Makanya kenapa muncul istilah Paris van Java sehingga Bandung itu atau lebih nyaman kalau diisi oleh 700 ribu penduduk saja. Tapi, faktanya sekarang kan sudah banyak penduduknya, sampai 2,7 sampai 2,8 juta, sedangkan di siang hari ini bisa sampai 4,5 juta.

Lalu, kenapa kita juga ingin melakukan penelusuran terhadap bangunan-bangunan bersejarah di Kota Bandung, karena Bandung ini salah satu kota yang memiliki banyak cagar budaya. Kita berharap, generasi-generasi muda yang akan datang juga bisa paham yang namanya Gedung Sate itu awalnya seperti apa sih, gedung Balai Kota sekarang, yang dulu katanya merupakan gudang kopi, tapi ternyata sempat hancur lalu dibangun lagi menjadi gedung untuk tempat asisten residen pada masa itu. Terus bagaimana Hotel Homan, bagaimana Hotel Panghegar yang sekarang menjadi El Royale Hotel, bagaimana Hotel Preanger, bagaimana Gedung Isola.

Generasi kita yang sekarang hanya tahu bahwa di Bandung itu banyak bangunan-bangunan cagar budaya tapi tidak tahu sejarahnya. Jika mereka tahu sejarahnya, mereka akan mencintai perjuangan para pendahulu-pendahulunya. Sehingga mereka akan memiliki sebuah pemikiran untuk melanjutkan perjuangan pendahulu-pendahulunya menjadi pribadi-pribadi dan generasi-generasi yang hebat.

Tanya: Sampai periode mana penelusuran sejarah walikota Bandung ini?

Jawab: Kita menyusun sejarah walikota Bandung, mulai zaman penjajahan Belanda, penjajahan Jepang, era Orde lama, orde baru, sampai orde reformasi.

Sebelumnya, kita sudah pernah menerbitkan buku 5 wajah kota Bandung. Itu menceritakan perjalanan walikota Ateng Wahyudi, Wahyu Hamidjaja, Aa Tarmana, Dada Rosada, Ridwan Kamil, dan ditutup dengan epilog Mang Oded. Karena beliau tidak menyelesaikan jabatannya, sudah keburu meninggal dunia, digantikan oleh Pak Yana Mulyana sebagai PAH walikota yang kemudian resmi menjadi walikota walaupun terkena musibah.

Tanya: Siapa saja yang digandeng untuk penulisan buku ini?

Jawab: Karena menulis sejarah ini tidak bisa menulis sembarangan, kita menggandeng para sejarawan dari beberapa universitas, seperti dari Unpad, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan ISBI. Kita berharap sejarah yang nantinya dibukukan bukan semata-mata didasarkan oleh pemahaman kita sebagai orang yang awam, tapi juga ada bukti-bukti dokumentasi kesejarahan, lalu didukung oleh eviden dalam bentuk naskah-naskah kuno yang bisa menjadi referensi dari sebuah cerita sejarah panjang.

Tanya: Sebelumnya pernah ada penerbitan buku penulisan sejarah seperti ini?

Jawab: Sebetulnya dulu sudah pernah dilakukan tapi tidak dilakukan secara masif. Selama 2 tahun ini saya berpikir bahwa sejarah ini jika ini di-ekspos melalui berbagai platform, baik itu sosial media, media cetak, maupun elektronik, mungkin masyarakat yang hari ini haus terhadap informasi tentang kesejarahan, sekarang mereka sudah semakin tahu. Ternyata ada sejarahnya selama ini yang mereka tidak ketahui karena memang terbatasnya akses informasi. (haf)***

 

Respon (51)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *