ZONALITERASI.ID – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar pengukuhan 12 guru besar pada upacara akademik Pengukuhan Guru Besar UPI Tahun 2025, di Gedung Balai Pertemuan Umum (BPU) UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Selasa-Rabu, 4-5 November 2025.
Adapun pada hari pertama, Selasa, 4 November 2025, digelar pengukuhan 6 guru besar, yakni Prof. Dr. Erlina Winayarti, M.Pd. (FPIPS), Prof. Dr. Juhanaini, M.Ed. (FIP), Prof. Dr. Diding Nurdin, M.Pd. (FIP), Prof. Dr. Ernawulan Syaodih, M.Pd. (FIP), Prof. Dr. Mulyana, M.Pd. (FPOK), dan Prof. Dr. Mamat Supriatna, M.Pd. (FIP)
Sementara pada hari kedua, Rabu, 5 November 2025, 6 guru besar yang dikukuhkan yaitu Prof. Dr. Supriadi, M.Pd. (UPI Kampus Serang), Prof. Gin Gin Gustine, M.Pd., Ph.D. (FPBS), Prof. Ika Lestari Damayanti, M.A., Ph.D. (FPBS), Prof. Dr. Andhy Setiawan, S.Pd., M.Si. (FPMIPA), Prof. Dr. Elah Nurlaelah, M.Si. (FPMIPA) dan Prof. Dr. Heni Mulyani, M.Pd. (FPEB).
Menyusul pengukuhan 12 guru besar ini, UPI kini memiliki 240 guru besar atau 14,6 persen dari 1600 lebih dosen yang ada di kampus ini.
“Jumlah guru besar di UPI saat ini sudah melebihi target. Sebab, target yang ditentukan adalah 10 persen dari jumlah dosen. Namun demikian kami ingin lebih banyak lagi memiliki guru besar. Karena dengan banyaknya guru besar tentu akan makin berkembang pohon dan ranting keilmuan yang kita miliki,” kata Rektor UPI, Prof. Dr. Didi Sukyadi, M.A., seusai pengukuhan guru besar, Selasa, 4 November 2025.
Menurut Prof. Didi, jabatan guru besar bukan sekadar pencapaian akademik tertinggi, melainkan amanah moral dan intelektual. Bahkan, menjadi guru besar berarti siap menjadi lentera keilmuan, menerangi jalan ketika dunia dilanda kabut kebingungan.
“Ia bukan hanya gelar, tetapi tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan etika ilmu,” tuturnya.
Prof. Didi mengungkapkan, guru besar tidak boleh berhenti mencari dan menemukan ilmu. Ilmu harus terus tumbuh melalui penelitian yang bermutu, publikasi yang bereputasi, serta kolaborasi yang berkelanjutan. Guru besar tidak boleh berpuas diri, karena ilmu adalah ladang yang tak bertepi.
“Oleh karena itu saya berpesan agar para guru besar tidak berhenti melakukan riset, meneliti, mencari ilmu, dan tidak berhenti memberi pencerahan kepada mahasiswa dan generasi berikutnya,” katanya.
Prof. Didi menuturkan, para mahasiswa akan terus membutuhkan keberadaan guru besar, baik dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Untuk itu ia mengajak para guru besar membimbing para mahasiswa dan melibatkannya dalam kegiatan riset, kegiatan-kegiatan akademik, maupun kegiatan kepemimpinan.
“Mari kita jadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, bukan kebanggaan pribadi. Kita buktikan Universitas Pendidikan Indonesia mampu melahirkan pemimpin, dan juga pemikiran yang dihormati dunia, tanpa kehilangan akar dan budaya jati diri bangsa,” pungkas Prof. Didi.
Sementara Ketua Dewan Guru Besar UPI, Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum., mengatakan, untuk mencapai jabatan guru besar bukanlah hal yang mudah.
“Ini perjalanan karir yang sangat panjang, mulai dari menjadi dosen, yang kemudian menata karirnya,” kata Prof. Dadang.
Selanjutnya ia mengatakan, pengukuhan guru besar baru ini menjadi capaian bagi UPI yang berusaha untuk terus melesat dengan berbagai program serta karya-karya terbaiknya, khususnya karya dari guru besar.
Karya-karya disertasi para guru besar ini diharapkan akan semakin membawa berkah kepada universitas dan guru besar yang baru dikukuhkan, serta berguna bagi masyarakat.
“Saya berharap pengukuhan 12 guru besar baru ini menjadi inspirasi bagi segenap civitas akademika UPI, baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa,” tutur Prof. Dadang. (des)***





