ZONALITERASI.ID – Wakil Ketua DPR, Dr. H. Saan Mustopa, M.Si., menegaskan, kampus bukanlah menara gading yang terpisah dari realitas, melainkan laboratorium kehidupan. Di kampus, mahasiswa dipersiapkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Maka dari itu, motivasi sebagai alumni haruslah menebar kemaslahatan dan kemanfaatan di manapun kita berada.
“Yang tak kalah penting adalah menjaga nama baik almamater. Setelah menjadi sarjana, hubungan kita dengan kampus tidak berakhir. Identitas sebagai alumni UPI akan selalu melekat, ke mana pun kita pergi. Menjaga reputasi diri berarti menjaga nama baik kampus. Integritas dan kredibilitas kita adalah cerminan dari reputasi universitas yang kita cintai,” kata Saan, pada Wisuda Gelombang III Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), di Gedung Gymnasium UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Kamis, 16 Oktober 2025.
Alumni IKIP Bandung (sebelum bernama UPI) ini mengungkapkan, selama kuliah, beban akademik yang dihadapi begitu tinggi. Tuntutan untuk memperoleh nilai terbaik dan dorongan dari orang tua tentu menjadi tekanan tersendiri bagi para wisudawan dan wisudawati. Namun, dengan semangat juang, pengorbanan, kerja keras, dan disiplin yang tinggi, semua berhasil mencapai hasil yang luar biasa.
“Hari ini, Saudara menjadi sarjana. Ini adalah pencapaian yang patut dibanggakan. Saya juga mengapresiasi kesabaran para dosen, karena setiap mahasiswa memiliki kemampuan dan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Sekali lagi, saya ucapkan selamat. Namun, perlu diingat bahwa hari ini bukanlah akhir, melainkan baru sepertiga perjalanan kehidupan Saudara. Masih ada perjalanan panjang di depan yang penuh tantangan dan dinamika. Di sanalah ilmu yang diperoleh selama kuliah akan diuji dan diterapkan,” terangnya.
Saan menuturkan, sebagai seorang alumni, ia meyakini bahwa UPI memiliki kemampuan untuk menaklukkan berbagai tantangan kehidupan dengan bekal ilmu dan pengalaman yang diperoleh di kampus.
“Hidup ini, seperti kata Albert Einstein, diibaratkan mengendarai sepeda. Agar tetap seimbang, kita harus terus mengayuhnya. Begitu pula kehidupan, kita tidak boleh berhenti di satu titik; kita harus terus bergerak untuk menjaga keseimbangan dalam menjalani dinamika kehidupan yang panjang ini,” ujarnya.
“Saudara-saudara harus tetap optimis, yakin, dan percaya diri. Apa pun profesi yang akan ditempuh—baik sebagai pendidik maupun di bidang lain—yakinlah bahwa semua pekerjaan yang dilakukan dengan niat baik adalah bentuk ibadah dan pengabdian yang mulia,” sambung Saan.
Saan menambahkan, dirinya teringat pengalaman pribadi saat menjadi mahasiswa IKIP Bandung pada tahun 1988. Ia berasal dari kampung di ujung Karawang, tempat yang saat itu belum memiliki listrik. Sejak SD hingga SMA, ia belajar dengan lampu cempor. Ketika diterima melalui jalur PMDK di Jurusan Fisika IKIP Bandung, cita-citanya sederhana: ingin menjadi guru fisika di SMA. Namun, perjalanan hidup membawanya pada arah yang berbeda.
Sebagai mahasiswa, Saan aktif di berbagai organisasi: menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika, Ketua Senat FMIPA, dan Sekretaris Umum Senat Mahasiswa IKIP Bandung. Ia bahkan turut mendirikan senat mahasiswa.
“Aktivitas-aktivitas itu membentuk karakter, integritas, dan kepercayaan diri saya hingga seperti sekarang. UPI—dulu IKIP Bandung—adalah tempat yang menempa saya menjadi pribadi yang berani, mandiri, dan berkarakter. Karena itu, saya tidak akan pernah melupakan jasa kampus ini. Dari sinilah saya belajar arti perjuangan, kesadaran sosial, dan pentingnya berkontribusi bagi masyarakat,” ucapnya.
“Saya pribadi sangat berterima kasih kepada seluruh sivitas akademika UPI, para dosen, dan pembimbing yang telah membentuk saya hingga hari ini. Banyak di antara mereka yang telah tiada, tetapi jasa dan ilmunya akan selalu saya kenang.”
“Untuk para wisudawan dan wisudawati, saya berpesan: jangan pernah merasa sendiri. Kita semua adalah keluarga besar UPI. Mari terus berkolaborasi, saling mendukung, dan saling menguatkan demi menjaga nama baik Universitas Pendidikan Indonesia,” pungkas Saan. (des)***











