PUISI Suheryana Bae

kematian ilustrasi
Ilustrasi "Puisi Suheryana Bae". (Foto: Swa.co.id)

SAJAK-SAJAK KEMATIAN

1

 

aku berlari

dari pertanyaan-pertanyaan filosofis

sebab tak hendak bersusah-susah dengan pertanyaan filosofis tak berujung

 

aku menghindar

dari pertanyaan-pertanyaan filosofis

sebab tidak mau kehabisan waktu dengan berpikir

dan ditertawakan orang-orang

 

aku berhenti

dari menjawab pertanyaan-pertanyaan filosofis

sebab aku tidak pernah siap memasuki jawaban

yang berakhir di tanah merah

 

selamat jalan sahabatku

kau telah menemukan jawaban filosofis di keabadian

meninggalkan kebersamaan, khayalan-khayalan remaja, james bond dan liwet pesantren

 

hik …aku masih bersikeras

belum mau menyelami kedalaman filosofis

hanya tetes air mata

untuk kepergianmu Jat

 

2

 

Jat, kamu mati ya

Padahal istrimu cantik

Anak-anak dalam perjuangan

Dan usahamu melangkah maju

 

(Aku sedang sholawat kepada Muhammad

Mendoakan Ibrahim dan para shalihin

Di samping orang berjubah

Merunduk di hadapan-Nya

Tapi aku teringat kamu)

 

Jat, jasadmu dikubur bumi ya

Terus aku harus gimana

Apakah akan dikubur juga

 

Aku sedang bersujud

Tapi ingat kamu yang suka bolos

Hanya untuk nonton For Your Eyes

Dan aku hanya mengikut

 

Jat, jasadmu tidak lagi melangkah di tanah ya

Bapaku juga

Sampaikan salam dan permohonan maaf

Aku belum pernah berbakti

 

***

 

KEMBALI KE ALLAH

 

ketika beban pekerjaan terasa berat

ketika setumpuk teori tidak lagi menuntun

ketika makan terasa hambar

ketika bantal tidak lagi membawa mimpi

ketika sahabat tidak lagi mengundang senyum

ketika ujung dunia terasa di depan mata

 

Saatnya kembali kepada Allah

bersujud dan menyerahkan segala

Di persimpangan

melihat jejak

menghapus jarak

menenggelamkan langkah kelam

 

sebab hidup

berujung di keabadian

 

26 Oktober 2015

 

***

 

NOL

(13 Pebruari 2020 – 18.42)

 

Dari masjid ke belantara

Kembali ke paimbaran

 

Dari pemandian ke lumpur

Kini mandi di tujuh sumur

 

Dari kampung ke rantau

Saatnya kembali ke kelahiran

 

Hidup bermula dari nol

Kembali menuju nol

 

Eksistensial

Kekasih

Engkau menuju Barat

Aku berjalan arah sendiri

 

Engkau terbangi gumpalan mega

Aku menyelami samudera

 

Kekasih

Di hadapan Nya kita adalah Aku

Dan kami adalah Kamu

 

Lima Puluh Lima Takbiran

Bagai mahasiswa

Menerbangkan mimpi

Hanyut dalam lamunan

 

Keseharian

Hanyalah sedikit menahan lapar

Tidak ke pesta

Atau berebut permaisuri

 

Setelah limapuluh lima takbiran

Saatnya Kembali ke kesederhanaan

 

***

 

PUISI SENJA

 

Melayang di atas mega

mengintip ratu hendak turun ke telaga

— mengapa matamu melirik dan melempar senyum kecil —

 

Terbang menjelajah langit

menampak putri meniti pelangi

menenteng sekeranjang pakaian

hendak mencuci di danau sunyi

—mengapa selendangmu melambai-lambai–

 

……………………..

 

(Dan aku pun kembali ke bilik pertapa

 

***

Suheryana Bae, lahir di Rancah, Ciamis 14 Agustus 1964. Menulis puisi sejak SMA dan puisi-puisinya kerap dimuat di koran Pikiran Rakyat Edisi Ciamis. Selain menulis puisi, dia menulis artikel dan dimuat antara lain di Harian Umum Pikiran Rakyat dan Zonaliterasi.id. Kini Suheryana Bae tinggal di Ciamis Jawa Barat.