ZONALITERASI.ID – Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menegaskan, fenomena bullying (perundungan) jadi persoalan serius dalam sistem pendidikan Indonesia, termasuk di lingkungan perguruan tinggi. Bahkan, ada kasus bullying yang mengakibatkan korban meninggal dunia.
“Bullying bukan fenomena baru, bahkan sudah ada sejak dahulu saat saya masih di bangku sekolah dasar hingga menengah. Di masa lalu praktik bullying ini biasanya berupa ejek atau memanggil dengan nama orangtua. Namun, saat ini bullying semakin parah yang dampaknya yang jauh lebih serius,” kata Prof. Didi, saat Focus Group Discussion dan Media Gathering UPI Tahun 2025, di Gedung Partere UPI, Jalan Dr. Setiabudhi 229 Bandung, Senin, 29 Desember 2025.
“Selain di Indonesia, fenomena bullying juga terjadi di berbagai negara seperti Amerika Serikat dan Inggris. Bullying telah menjadi isu nasional dan objek kajian riset serius hingga mendapat perhatian pimpinan tertinggi negara,” sambung Prof. Didi.
Kata Prof. Didi, sayangnya, perilaku bullying kerap disalahpahami sebagai sebuah candaan. Padahal, indikator utamanya terletak pada dampak psikologis yang dialami korban.
“Kalau dua-duanya tertawa mungkin bukan bullying. Tapi kalau yang satu tertawa dan yang lain cemberut, itu sudah bisa masuk kategori bullying,” ucapnya.
Menurut Prof. Didi, akar persoalan bullying salah satunya adalah ketidaksamaan pemahaman tentang definisi dan batasan perilaku bullying.
“Inilah pentingnya kesepahaman bersama antara siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat. Semua pihak harus tahu mana yang termasuk bullying dan mana yang bukan. Kalau pemahamannya sama, maka harus ada garis merah yang jelas dan sanksinya juga jelas,” ucapnya.
Prof. Didi menambahkan, untuk menghadapi dampak negatif bullying, sekolah dan kampus harus memiliki mekanisme khusus, seperti tim atau pejabat yang menangani kasus bullying secara serius dan berkelanjutan.
“Orang tua juga harus dilibatkan dalam setiap penanganan kasus ini bullying. Ini bukan hanya tanggung jawab guru atau kepala sekolah, tetapi tanggung jawab bersama,” katanya.
Pengaruh AI terhadap Psikologi Anak dan Remaja
Pada kesempatan sama, Prof. Didi menuturkan, selain bullying, penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) juga jadi ancaman baru dalam dunia pendidikan. Teknologi ini berpengaruh terhadap psikologi anak dan remaja.
“Generative AI sekarang bisa berperan seolah-olah sebagai psikolog, dokter, atau guru. Masalahnya, tidak semua pengguna mampu membedakan saran yang berdampak positif atau justru negatif,” tuturnya.
“Terkait dampak AI ini, dua anak di luar negeri dilaporkan melakukan bunuh diri setelah terpengaruh interaksi dengan AI, karena dorongan untuk berpindah dari realitas kehidupan yang mereka jalani,” sambung Prof. Didi. (des)***





