Humor Prof. Garnadi dan Pesan Menuju Sang Khalik

WhatsApp Image 2026 02 15 at 06.57.04
Prof. Dr. Garnadi Prawirosudirjo, M.Sc., (Foto: Istimewa).

Oleh Dinn Wahyudin

Pengantar: alm. Prof. Dr. Garnadi Prawirosudirjo, M.Sc. seorang ilmuwan dan Guru Besar Ilmu Biologi  dan Rektor IKIP Bandung (1971-1978), hampir seluruh waktu dalam perjalananan hidupnya, ia dedikasikan dalam pengkhidmatan di bidang pendidikan.

Seorang guru besar biologi duduk termenung di kursi meja kerjanya yang sunyi. Ia tekun membedah sel dan perilaku serangga  sampai pada satu kesimpulan sederhana: Semakin dalam ilmu ditelusuri, semakin dekat manusia pada Sang Khalik. The deeper knowledge is explored, the closer humans are to the Creator. Di tangan Prof. Dr. Garnadi Prawirosudirjo, mikroskop tidak hanya menjadi alat ilmiah, tetapi juga jendela perenungan. Humor bukan sekadar pemanis pembelajaran, melainkan jalan sunyi untuk menyadarkan manusia akan keterbatasannya di hadapan kebesaran semesta Sang Khalik.

Sebagai seorang guru besar biologi, Prof. Garnadi dikenal bukan hanya karena ketajaman analisis ilmiahnya. Ia juga sangat piawai cara menghadirkan sains dengan senyum intelektual. Dalam suatu ruang kuliah, biologi tidak ia suguhkan sebagai ilmu yang kering dan berjarak. Melalui tutur bicaranya yang pelan terstruktur rapih, ia ungkapkan cerita kehidupan yang kadang justru terasa ironis ketika dibandingkan dengan perilaku manusia. Baginya, alam—terutama dunia serangga—menyimpan humor yang sangat rapi. Bukan sebagai humor buatan (artificial humour), melainkan humor yang lahir dari logika biologi yang terlalu efisien untuk tidak direnungkan. Di situlah mahasiswanya sering tertawa kecil. Bukan karena lucu dalam arti ringan, tetapi karena merasa “tersindir” oleh fakta alam dan kehidupan satwa.

Salah satu contoh yang kerap ia gunakan adalah kehidupan koloni semut – salah satu ilmu kepakarannya. Hampir semua semut yang kita lihat bekerja tanpa lelah. Mereka mencari makan, mengangkut beban, merawat larva, membangun dan menjaga sarang. Semua itu dilakukan oleh semut betina (female ant). Ia steril, tidak bereproduksi, tidak terkenal, dan tidak pernah tampil sebagai pahlawan koloni. Sebaliknya, semut jantan (male ants) memiliki peran biologis yang sangat singkat: muncul pada waktu tertentu, kawin dengan ratu, lalu mati. Begitulah Sang Khalik mengaturnya.  Ketika fakta ini disampaikan di kelas, humor Prof. Garnadi mengalir secara apik, halus penuh wibawa. Alam seolah berkata bahwa fungsi lebih penting daripada gengsi.  Dan efisiensi lebih utama daripada simbol. Tawa yang muncul bukan jenis tawa meremehkan. Melainkan tawa reflektif.  Pembagian peran ini terasa sangat tegas. Nyaris tanpa kompromi sosial. Begitulah Sang Khalik mengaturnya.

Humor biologi itu menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan pola aktivitas semut. Semut pekerja memang berjenis semut betina, tetapi tidak semua semut betina bekerja pada malam hari. Aktivitas mereka ditentukan oleh spesies dan kondisi lingkungan. Yaitu kondisi suhu, kelembaban, predator, dan ketersediaan sumber makanan. Di daerah tropis, banyak spesies semut lebih aktif pada sore hingga malam hari karena suhu lebih rendah dan risiko dehidrasi lebih kecil. Di titik inilah Prof. Garnadi biasanya meluruskan dengan senyum: ”Alam tidak mengenal stereotip, hanya mengenal adaptasi”. Humor muncul bukan dari kesalahan fakta. Tetapi dari kecenderungan manusia menyederhanakan alam dengan kacamata sosialnya sendiri.

Yang menarik, humor Prof. Garnadi tidak pernah jatuh menjadi satire kasar atau lelucon bertendensi bias gender. Ia bekerja sebagai ironi biologi dan sindiran sosial yang sangat lembut. Semut betina digambarkan bekerja keras, efisien, dan nyaris tanpa suara. Banding dengan semut jantan hadir sebentar, menjalankan fungsi reproduksi, lalu selesai. The game over.  Alam tidak sedang menghakimi, tetapi manusia yang menangkap pola itu sering tersenyum karena melihat cermin dirinya sendiri. Di sinilah biologi berubah menjadi bahasa kemanusiaan:  menyampaikan kritik tanpa pidato, dan memberi pelajaran tanpa menggurui.

Pada akhirnya, humor dalam pandangan Prof. Garnadi adalah strategi pedagogis sekaligus sikap intelektual. Ilmu pengetahuan tidak harus disampaikan dengan wajah tegang dan jargon yang menakutkan. Dengan kepekaan dan ketepatan ilmiah, kehidupan serangga dapat menjadi jendela untuk memahami kerja, disiplin, pengorbanan, dan rasionalitas alam. Humor biologi bukan untuk menertawakan alam, melainkan untuk menertawakan keseriusan manusia yang sering lupa bahwa alam telah “berpikir” jauh sebelum manusia belajar memikirkannya.

Menuju Sang Khalik

Prof. Garnadi Prawirosudirjo juga  memandang hubungan antara ilmu dan iman bukan sebagai dua wilayah yang saling berhadap-hadapan. Ilmu dan iman dimaknai sebagai dua cara manusia membaca kenyataan hidup dari sudut yang berbeda namun saling melengkapi. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami keteraturan alam, mekanisme kehidupan, dan hukum-hukum yang bekerja di balik fenomena empiris. Sementara itu, iman memberi arah makna, tujuan, dan nilai yang membimbing bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.

Sebagai ilmuwan biologi, ia justru melihat bahwa kedalaman ilmu pengetahuan dapat membuka ruang kesadaran religius yang lebih matang. Kompleksitas kehidupan, keteraturan sistem alam, serta harmoni antarunsur biologis tidak berhenti pada penjelasan teknis semata, tetapi menumbuhkan rasa kagum dan kerendahan hati manusia di hadapan Sang Pencipta. Ilmu, dalam pandangannya, adalah jalan sunyi menuju kesadaran transendental—sebuah perjalanan intelektual yang bermuara pada pengakuan akan kebesaran Yang Maha Mengatur.

Dengan demikian, pemikiran Prof. Garnadi Prawirosudirjo menegaskan bahwa integrasi ilmu dan iman adalah fondasi penting bagi pengembangan pengetahuan, pembentukan etika, dan pembangunan manusia seutuhnya. Ilmu menjelaskan dunia sebagaimana adanya, sementara iman memberi arah tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dalamnya. Keduanya berjalan bersama—dan justru dalam perjumpaan itulah manusia menemukan jalan pulang menuju Sang Khalik.

Semoga almarhum Prof. Dr Garnadi Prawirosudirjo telah berada dengan tenang di alam barzah, di tempat yang sangat dimuliakan Allah SWT. Seraya dipanjatkan doa: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin. ***

Buku Rujukan

Garnadi Prawirosudirjo. (1974). Kehidupan Serangga yang mengagumkan. Jakarta: Bhatara.

Garnadi Prawirosudirjo. (1975). Integrasi Ilmu dan Iman. Jakarta: Bulan Bintang.

Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wakil Rektor I Universitas Koperasi Indonesia (IKOPIN University).