Oleh Nunu A. Hamijaya
Cihea dalam Karya Yuhana
Dalam kesusastraan Sunda, Yuhana (nama pena dari Akhmad Bassah, 1895-1930) adalah sastrawan, novelis, dan wartawan Sunda terkemuka sebelum kemerdekaan yang aktif menulis pada masa kolonial (1920-an). Karya sastra terkenalnya Tjarios Agan Permas. Ia rupanya menaruh perhatian pula pada bidang sejarah. Buku Lalampahan Pangeran Nampabaya sareng Pangeran Lirbaya bukan semata-mata legenda, karena ternyata memuat pula catatan-catatan tahun, catatan-catatan peninggalan serta tempat yang amat penting bagi penulisan sejarah. Sebuah daerah yang hampir tidak pernah disebut-sebut dalam sejarah nasional. Dalam kata pengantarnya, Yuhana mengemukakan bahwa cerita ini ditulis berdasarkan cerita-cerita kesejarahan yang masih terdapat di kalangan masyarakat Ciranjang, Cianjur pada waktu itu. Di samping itu, dilakukan juga beberapa perbandingan dengan babad. Oleh karena itu Rusyana dkk. (1987:37) menyatakan bahwa buku itu dapat disebut berisi babad dalam corak penyajian baru. Tulisan Yuhana diakuinya sebagai hasil penelitian lapangan (Kartika, 1979:39).
Menurut Yuhana, (Kartika dkk. (1979:35-38) yang mula-mula mendirikan keraton di Cihea adalah raja Majapahit yang bernama Prabu Jaka Susuruh atau Prabu Hariang Banga, yang namanya sering disebut dalam ceria Pantun Sunda. Di samping Raja Susuruh, yang pernah menguasai Cihea ini adalah seorang keturunan Pajajaran yang bernama Raden Rangga Gading. Bekas-bekas peninggalannya ditemukan di kampung Panghiasan, Desa Gunung Halu sekarang, berupa bekas-bekas keraton, pecahan benda dari kaca, piring, dan mangkuk-mangkuk kuno yang diduga buatan Cina.
Lebih lanjut Yuhana menjelaskan bahwa setelah raja ini meninggalkan Cihea, kurang lebih tahun 1380, maka daerah itu menghutan kembali. Tahun 1645 barulah ada pendatang baru ke sana. Prabu Cakrakusumah atau Sultan Agung Mataram. Sesudah tahun 1645 Sultan Agung mengutus dua orang pembesar yaitu Tumenggung Nampabaya dan Tumenggung Lirbaya, kakak adik, yang selanjutnya disebut pangeran karena mereka adalah keturunan pangeran, masih kerabat dengan Pangeran Purbaya yang dikisahkan dalam Babad Batawi.
Dalam rangkaian peristiwa-peristiwa selama perjalanan itulah terjadi sasakala beberapa nama tempat. Antara lain kampung Batununggul, karena di situ terdapat batu besar tempat beristirahat mereka, Cihea karen di daerah itu penuh dengan kayu hea, Pasir Tangkolo (terdapat banyak pohon tangkolo, kampung Nyampay (tempat Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya menyampirkan destarnya), kampung Pangkalan (tempat mereka mangkal), Batu Tumenggung (batu bekas mengasah pedang Nampabaya yang dilemparkan ke sungai, kali Cinungnang (lokasi ketika Pangeran Nampabaya menyuruh orang-orang menabuh gamelan, dan kampung Pasanggrahan (tempat Pangeran Nampabaya dan Pangeran Lirbaya mulai membuka tempat peristirahatan).
Maka terbentanglah daerah Cihea menjadi negeri yang ramai. Dalem Nampabaya memerintah negeri dengan baik, adil, dan bijaksana. Sebagai patihnya adalah Pangeran Lirbaya. Dalem Nampabaya mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Pangeran Nerangbaya. Sementara itu, Pangeran Lirbaya sebagai patih yang bijaksana ternyata beralih perhatian. Kini ia lebih sering memisahkan diri dari kakaknya, banyak mendalami ilmu dan bepergian. Dalam hal menuntut ilmu ia akrab dengan Dalem Cibalagung, yang terkenal dengan nama Aria Wiratanudatar, di Cikundul.
Keduanya akrab bersahabat. Dalam Babad Cikundul persahabatan kedua pembesar negeri ini dibicarakan waktu Dalem Cikundul memindahkan ibu kota dari Cikundul (Cibalagung) ke Cianjur, serta peristiwa melepaskan diri dari kekuasaan Banten dan pindah mengabdi kepada Sultan Mataram tanpa melalui peperangan.
Pangeran Nerangbaya yang menggantikan Dalem Nampabaya mula-mula berlaku adil dan bijaksana, tetapi ia kemudian lupa akan kemajuan negeri. Ia lebih tertarik dengan wanita-wanita cantik, hingga ia menikahi Ayu Baron, seorang penyanyi dan penari dari Samarang. Setelah merasa bosan dengan permaisuri Ayu Baron, ia menikahi putri Cikundul sebagai istri kedua. Ayu Baron merasa tersisihkan sehingga kabur . Dalem Nerangbaya mencarinya, dan menemukannya di dekat sungai Citarum dalam keadaan sakit payah hingga meninggalnya. Jenazahnya dimakamkan di kampung Pangkalan, sampai sekarang terkenal dengan nama makam Eyang Ayu Baron.
Dalem Nerangbaya pun tidak lama kemudian meninggal dan dimakamkan di atas sebuah bukit dekat Cihea, terkenal dengan nama Embah Dalem Pasir. Sedangkan patihnya yang dimakamkan di Cikawung dikenal dengan nama Sembah Dalem Cikawung. Maka lenyaplah pemerintahan Mataram di Cihea. Sultan Amangkurat yang menggantikan Sultan Aung tidak lagi berminat membuat koloni lagi. Apalagi daerah itu kemudian diserahkan kepada Kompeni sebagai upah, karena telah membantu Mataram dalam peperangan dengan Banten pada tahun 1677. (Sumber Bacaan : Kartini, Tini dkk. 1979. Rusyana, Yus dkk. 1987; Surianingrat, Bayu. 1982. Wiradiredja, Hanafiah dkk. 1993; Nurwansah, Ilham, 2024).
Dalam versi diktat berjudul Sejarah Kanjeng Dalem Cikundul (Yayasan Wargi Cikundul: 1996) disebutkan bahwa Bupati Cihea yang terkenal adalah Dalem Pasir Mataram yang makamnya masih ramai dikunjungi penjiarah di gunung Cupu, Cihea, Haurwangi. Dalem Pasir Mataram hidup sezaman dengan Dalem Cikundul, nama kecilnya adalah Raden Nerangbaya. Sedangkan Cihea dibangun atas instruksi Sultan Mataram Amangkurat I (1646-1677). Penguasa kesultanan Mataram ini terkenal dekat dengan penjajah Belanda dan selalu curiga terhadap para bupati ditatar Sunda akan berontak kepadanya. ***
Kaum, Cianjur, 6 Maret 2026.
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.











