Momen Haru Saat Ayah dan Anak Dapat Penghargaan sebagai Dosen ITB Berprestasi

WhatsApp Image 2026 03 12 at 10.37.222
Dua dosen ITB dari generasi yang berbeda, ayah dan anak yang berprofesi sebagai dosen di Kampus Ganesha, menerima penghargaan sekaligus, (Foto: ITB).

ZONALITERASI.ID – Dua dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) dari generasi yang berbeda, ayah dan anak yang berprofesi sebagai dosen di Kampus Ganesha, menerima penghargaan sekaligus. Keduanya ditetapkan sebagai dosen ITB berprestasi.

Sang ayah, Dr. Hakim Luthfi Malasan, M.Sc., dosen dari Kelompok Keahlian (KK) Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, memperoleh penghargaan dalam Bidang Pengajaran.

Sementara putranya, Prananda Luffiansyah Malasan, S.Ds., M.Ds., Ph.D., dosen dari Kelompok Keahlian (KK) Manusia dan Desain Produk Industri, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ITB, menerima penghargaan dalam Bidang Penelitian/Karya Inovasi.

Saat penghargaan diberikan pada Sidang Terbuka Dies Natalis ke-67 ITB, di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, Jalan Ganesa Bandung, awal Maret lalu, momen emosional pun muncul.

Prananda mengungkapkan, dirinya sangat bahagia sekaligus terharu. Bagi dia, momen ini menjadi semakin bermakna karena dapat berbagi penghargaan dengan sang ayah.

“Senang dan terharu karena kebetulan tahun ini saya mendapat penghargaan bersama bapak saya. Penghargaan ini juga kami dedikasikan untuk almarhumah ibu saya,” ujarnya, dikutip dari laman ITB, 13 Maret 2026.

Prananda menambahkan, momen tersebut semakin menyentuh ketika melihat sang ayah membawa foto ibunya saat menerima penghargaan.

“Penghargaan ini bukan hanya tentang capaian profesional, tetapi juga tentang perjalanan keluarga yang penuh dukungan,” ucapnya.

Prananda mengungkapkan, menjadi dosen sekaligus peneliti perlu dilandasi oleh passion dan ketulusan.

“Dedikasi yang dilakukan dengan tulus akan membawa dampak dan apresiasi dengan sendirinya,” ucapnya.

ITB sebagai “Rumah”

Sementara itu, Hakim Luthfi Malasan, tak banyak berkomentar tentang perasaannya setelah menerima penghargaan dengan sang putra. Namun, saat dia membawa foto sang istri saat menerima penghargaan, menunjukkan begitu besarnya peran keluarga terhadap kariernya selama ini.

Menyikapi profesinya sebagai dosen, Hakim menuturkan, ITB bukan sekadar tempat bekerja. Selama lebih dari 30 tahun, kampus ini telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Dia bahkan menghabiskan banyak waktunya di Observatorium Bosscha, salah satu laboratorium astronomi milik ITB yang terletak di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Lingkungan observatorium yang tenang dan jauh dari keramaian menjadi tempat penting bagi pembentukan karakter ilmiahnya.

“Observatorium Bosscha jadi tempat untuk mengembangkan pola pikir ilmiah. Tempat inilah yang membawa saya berinteraksi dengan komunitas ilmiah internasional,” terangnya. (des)***