ZONALITERASI.ID – Perjuangan belajar tidak mengenal batas, termasuk bagi penyandang disabilitas netra. Itu terlihat dari kisah Saefudin Fajar Putra (27), siswa Wyata Guna Bandung yang kini mulai mampu membaca Alquran Braille setelah melalui proses belajar yang penuh kesabaran.
Bagi Fajar, perjalanan belajar Alquran Braille bukan hal mudah. Di awal pembelajaran, dia mengaku kesulitan mengenali huruf-huruf melalui titik Braille.
“Awal-awal paling susah mengenali hurufnya. Ini huruf apa, titiknya apa. Tapi kalau terus dilatih, lama-lama bisa,” kata Fajar, dikutip dari keterangan yang disampaikan Diskominfo Kota Bandung, Selasa, 17 Maret 2026.
Fajar mulai memahami perbedaan huruf Braille Arab dengan Braille Indonesia setelah belajar secara langsung di Wyata Guna.
Kini dia telah mempelajari dua juz dari Surah Al-Baqarah.
“Dulu kalau lihat orang awas baca Alquran rasanya pengen juga bisa. Alhamdulillah sekarang sudah bisa membaca. Senang sekali,” ucapnya.
Fajar berharap semakin lancar membaca Alquran. Bahkan dia tidak menutup kemungkinan untuk menjadi pengajar agar bisa membantu teman-teman disabilitas netra lainnya.
“Kalau cita-cita, saya sebenarnya ingin jadi penyanyi. Tapi kalau bisa mengajar juga, saya ingin berbagi ilmu,” pungkasnya.
Kegigihan dan Kesabaran
Instruktur Alquran Braille di Wyata Guna, Tine Gustini, mengungkapkan, Fajar baru mempelajari Alquran Braille sekitar empat bulan. Meski awalnya tidak bisa sama sekali, kegigihan dan kesabarannya membuahkan hasil.
“Alhamdulillah sekarang Fajar sudah bisa baca tulis Alquran Braille. Barusan juga sudah dicoba membaca salah satu surat pendek,” kata Tine.
Menurutnya, metode pembelajaran bagi penyandang disabilitas netra sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembelajaran membaca Alquran pada umumnya. Para siswa tetap memulai dari Iqra, mengenal huruf hijaiyah, tanda baca hingga akhirnya membaca Alquran Braille.
Namun, ada pendekatan khusus yang diterapkan dalam proses belajar. Jika di sekolah umum pembelajaran dilakukan secara klasikal, maka bagi siswa netra metode yang digunakan lebih bersifat individual.
“Awalnya memang secara klasikal, tetapi setelah itu pembelajaran dilakukan satu per satu agar lebih fokus menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa,” terangnya.
Tine telah mengajar Alquran Braille selama lebih dari 20 tahun. Selama itu pula dia menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika mengajar siswa yang baru mengalami kebutaan di usia dewasa.
“Tantangan terbesar biasanya pada kepekaan perabaan. Kalau sudah dewasa, kadang kepekaan jari untuk membaca Braille tidak sepeka yang sejak lahir. Karena itu banyak yang memilih menghafal. Tapi kalau mereka punya semangat tetap bisa belajar membaca,” ucapnya.
Kendati begitu, dedikasi Tine selama dua dekade telah melahirkan banyak murid yang kini menjadi pengajar dan ustadz bagi sesama penyandang disabilitas netra.
“Paling mengharukan, banyak alumni dari Sentra Wyata Guna yang sekarang menjadi ustaz dan bahkan mengajar juga di sini. Mereka menjadi penerus kami,” imbuhnya. (des)***











