Kisah Raya Azzahra, Penulis Produktif dari SMAN 22 Bandung

attachment 1761916732257 1
Raya Azzahra, penulis produktif dari SMAN 22 Bandung yang baru saja menerbitkan novel perdananya berjudul "Sedalam Lautan", (Foto: Dok. Disdik Jabar).

ZONALITERASI.ID Raya Azzahra, siswi kelas XII SMAN 22 Bandung mencuri perhatian lewat prestasi yang tak biasa. Raya baru saja menerbitkan novel perdananya berjudul “Sedalam Lautan“.

Lewat novel yang mengisahkan tiga sahabat yang tumbuh di pesisir laut Pangandaran ini, Raya mendapat apresiasi dalam gelaran Apresiasi Sastra Vol.10 “Sabda Bahasa” yang digelar di SMAN 22 Bandung, baru-baru ini .

Inspirasi cerita novel “Sedalam Lautan” datang dari sosok yang paling dekat dengan Raya, Sang Ibunda. Melalui kisah masa muda ibunya, Raya mengenal suasana, kebiasaan, dan cara hidup masyarakat di era ’80-an.

Muncul Saat Pandemi

Kecintaan Raya pada dunia tulis-menulis muncul saat masa pandemi Covid-19. Ketika aktivitas sekolah terhenti, Raya menemukan ruang baru untuk berimajinasi.

“Waktu Covid kan banyak waktu kosong, aku coba nulis, menggambar, dan lainnya. Aku paling nyaman menulis. Dalam perjalanan menulis selanjutnya, aku banyak terinspirasi oleh para penulis besar, seperti Sapardi Djoko Damono, Tere Liye, dan Tenderlova,” ujar Raya, yang mengusung nama pena “yaraazuree” ini.

Setelah menyelesaikan novel “Sedalam Lautan“, produktivitas Raya dalam menulis berlanjut. Dalam tempo singkat dia menulis novel “Aku Masih Menghitung Hari Tanpamu” dan “28 Jalan Menuju Pulang“.

“Aku merampungkan menulis buku ‘Sedalam Lautan‘ hanya dalam dua bulan, sedangkan ‘28 Jalan Menuju Pulang‘ selesai dalam waktu satu bulan saja,” ucapnya.

“Konsisten, itu kuncinya. Aku usahakan setiap hari nulis minimal seribu kata. Kalau nunggu mood, bakal lama banget. Tapi kalau sudah nyediain waktu, ide biasanya datang sendiri,” sambung Raya.

Banyak Membaca

Saat ditanya caranya mencari ide untuk sumber tulisan, Raya mengungkapkan, kuncinya adalah banyak membaca.

Menurut Raya, di era serbadigital, dia tetap memilih cara klasik dalam menikmati literasi.

“Baca buku itu penting! Bisa baca di internet atau web, tapi buku fisik juga bermanfaat, baik untuk diri maupun kesehatan mata,” imbuhnya.

Di balik capaian prestasi Raya, dia tak melupakan dukungan dari keluarga, teman, dan sekolah.

“Itu yang menjadi bahan bakar semangatku. Keluarga selalu menjadi sumber motivasi untuk terus berkarya. Teman-teman dekat selalu mengapresiasi karya-karyaku. Mereka beli dan baca bukunya. Sekolah juga mendukung banget, bahkan membeli bukunya untuk koleksi perpustakaan,” pungkas Raya.
(des)***

Sumber: Disdik Jabar