ZONALITERASI.ID – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) secara resmi menyelesaikan program renovasi rumah milik Mak Tati (70), warga Desa Mekarsari, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Senin, 6 April 2026.
Hunian yang ditempati nenek dengan kondisi ekonomi miskin ekstrem itu, berdiri selama sekitar 20 tahun dan dalam kondisi tidak layak huni.
Serah terima rumah dihadiri oleh Rektor, Wakil Rektor, serta perwakilan alumni kepada warga sebagai bagian dari program pengabdian kepada masyarakat berbasis energi terbarukan dan peningkatan kualitas hunian.
Sebagai informasi, dalam rentang dua decade, Mak Tati menempati rumah yang tidak memenuhi standar kelayakan dan tanpa akses listrik. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kualitas hidup, terutama dalam aspek keamanan, kesehatan, dan aktivitas sehari-hari.
Dalam menghadapi persoalan yang dihadapi Mak Tati, UPI melaksanakan program bedah rumah terhadap hunian Mak Tati yang sebelumnya tidak layak. Proses pembangunan dilakukan secara intensif dan selesai dalam waktu sekitar satu minggu.
Selain itu, UPI mengimplementasikan sistem listrik mandiri berbasis tenaga surya yang memungkinkan masyarakat memperoleh akses energi tanpa biaya operasional. Sistem ini memanfaatkan panel surya dan baterai sebagai sumber penyimpanan energi.
Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A., menjelaskan, kondisi yang dihadapi Mak Tati merupakan bagian dari persoalan struktural yang masih dihadapi sebagian masyarakat, khususnya terkait akses listrik.
“Masih banyak masyarakat yang belum menikmati listrik, meskipun infrastruktur sudah tersedia. Salah satu kendalanya adalah keterbatasan biaya untuk instalasi dan pembayaran listrik bulanan,” ujarnya.
Ketua pelaksana program, Drs. Yaya Sonjaya, M. Si., menuturkan, pembangunan rumah dilakukan dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat.
“Pembangunan rumah ini kami targetkan selesai dalam satu minggu, dan alhamdulillah dapat tercapai sesuai rencana melalui kerja sama dengan masyarakat setempat,” jelasnya.
Menurut Yaya, proses renovasi rumah juga melibatkan partisipasi aktif warga sekitar melalui kegiatan gotong royong yang berlangsung selama beberapa hari.
“Ini menunjukkan adanya keterlibatan sosial dalam mendukung keberhasilan program,” katanya.
Yaya menambahkan, ke depan akan dilakukan pengembangan program ekonomi produktif serta transfer pengetahuan terkait pengelolaan teknologi energi surya.
“Keberlanjutan program mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat serta edukasi terkait pemeliharaan sistem listrik agar dapat digunakan dalam jangka panjang,” imbuhnya.
Bantuan 10 Unit Panel Surya
Pada kesempatan sama, perwakilan alumni, Asep Haluesna atau yang lebih dikenal dengan nama Asep Stroberi, memberikan bantuan 10-unit panel surya kepada Masyarakat.
Kata Asep, kolaborasi antara alumni dan perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam memperluas dampak program sosial.
“Program ini akan terus berlanjut sebagai bagian dari komitmen untuk memberikan manfaat kepada masyarakat melalui kolaborasi,” ujarnya.
Aman dan Nyaman
Sementara itu, Mak Tati, warga Desa Mekarsari yang mendapat bantuan renovasi rumah dan akses listrik dari UPI, mengungkapkan, program itu membawa dampak langsung terhadap rasa aman dan kenyamanan.
“Dulu kalau hujan Emak suka mengungsi ke rumah tetangga karena pasti bocor di sana sini, suka takut rumah rubuh juga rumah benar-benar gelap, bahkan sampai sekitar 20 tahun tidak ada penerangan listrik,” ujarnya.
“Biasanya kalau malam, Emak masih suka mendengar suara celeng di sekitar rumah, sekarang kondisinya sudah lebih aman karena ada penerangan,” sambungnya.
Meskipun telah terjadi peningkatan kondisi hunian dan akses energi, kebutuhan dasar lain seperti air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat setempat.
“Selain listrik, kebutuhan utama warga saat ini adalah air bersih,” tutur Mak Tati. (des)***











