Oleh Nunu A. Hamijaya
MENGENAL tokoh teladan, termasuk ulama tentunya bagian dari ikhtiar untuk menjadikannya sebagai buah tutur yang baik sebagaimana yang dicontohkan Nabi Ibrahim As. Waj’al lī lisāna ṣidqin fil-ākhirīn. Artinya: Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga (jannah) yang penuh kenikmatan. (QS as Suara : 84). Ya Robbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukan aku ke dalam golongan orang-orang shaleh (QS as Syuara : 83).
Kesatuan doa Nabi Ibrahim ini memberikan salah satu kunci agar setelah wafatnya menjadi buah tutur atau cerita yang baik yaitu dengan memperoleh hikmah. Jadi, bukan karena mempunyai harta,ilmu, status sosial, dan kekuasaan semata-mata tanpa kepemilikan ilmu hikmah. Hartawan, penguasa, ulama, tokoh siapapun yang memperoleh hikmah saja yang akan menjadi ‘buah tutur yang baik’ bagi generasi berikutnya.
Ada dua nama yang sama untuk orang yang berbeda, meskipun hanya beda ejaannya saja, yaitu H dan Ch. Keduanya tokoh ulama dunia karena pernah belajar di pusat dunia Islam di Makkah. Keduanya berasal dari Biladil Jawi, beretnik Sunda. Yang pertama, ulama yang merintis dan mendirikan pesantren; sedangkan yang kedua tidak. Yang pertama aktif di Sarekat Islam (SI) dan mendirikan persyarikatan oelama; yang kedua sebagai perintis awal persyarikatan Nahdatul Oelama.
Dalam banyak artikel yang ditulis di media online, banyak kekeliruan yang mencampuradukan atau tertukar informasi tentang kedua tokoh ulama ini.
Keduanya, mendapatkan gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah. Siapakah sosok kedua tokoh ulama dimaksud?
Abdul Halim: SI dan Persyarikat Oelama
Abdul Halim Majalengka (26 Juni 1887 – 7 Mei 1962) adalah seorang tokoh pergerakan nasional, tokoh organisasi Islam, dan ulama. Ia lahir dengan nama Otong Syatori, putra bungsu dari delapan bersaudara dari pasangan K.H. Muhammad Iskandar dan Hj. Siti Mutmainah. Ayahnya mengasuh pesantren dan seorang penghulu di Kawedanan, Jatiwangi, Majalengka.
Pemahaman Islamnya disempurnakan saat belajar di Makkah berguru kepada ulama-ulama besar, seperti Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Selama di Makkah, ia banyak bergaul dengan sesama pelajar, seperti K.H. Mas Mansur (Muhammadiyah) dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah (Nahdlatul Ulama ). Ia juga mempelajari kitab-kitab karya Syeikh Muhammad Abduh, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, dan membaca majalah al-Urwatul Wutsqo maupun al-Manar yang membahas tentang pemikiran kedua ulama tersebut.
Setelah tiga tahun belajar di Makkah, Kiai Halim kembali ke Majalengka mendirikan lembaga pendidikan Majlis Ilmi (1911). Setahun kemudian, 20 Rajab 1329 atau 17 Juli 1911, mendirikan Hayatul Qulub, yang tidak hanya bergerak di bidang pendidikan saja, melainkan juga masuk ke bidang perekonomian dan perdagangan. Karena pemerintah Hindia Belanda lebih banyak membela kepentingan pedagang-pedagang bahkan menuduh sebagai biang kerusuhan dalam peristiwa penyerangan toko-toko milik orang Cina menjadi alasan pemerintah Hindia Belanda membubarkan Hayatul Qulub dan melarang meneruskan segala kegiatannya.
Pada tanggal 16 Mei 1916, Kiai Halim secara resmi mendirikan Jam’iyah al-I’anat al-Muta’alimin. Setahun kemudian, HOS Cokroaminoto memberi dukungan terhadap lembaga pendidikan tersebut, yang akhirnya dikembangkan dan diubah namanya menjadi Perserikatan Ulama yang lebih dikenal dengan PUI (Perserikatan Ulama Indonesia). Perserikatan tersebut memiliki panti asuhan, percetakan, dan sebuah pertenunan. Persyarikatan Ulama melalui gouvernements besluit pada 21 Desember 1917. Nama organisasi ini berubah lagi menjadi Perikatan Ummat Islam (ejaan van Ophuijsen: Perikatan Oemmat Islam; POI) pada 15 Februari 1943. Kemudian, melakukan fusi pada 9 Rajab 1371 atau 5 April 1952, antara POI dan POII di Bogor dengan nama Persatuan Ummat Islam. Penggabungan ini merupakan usulan dari Mr. R. Syamsuddin, politikus Masyumi dan mantan anggota BPUPKI.
Pada 1928, ia diangkat menjadi pengurus Majelis Ulama yang didirikan Sarekat Islam bersama-sama dengan K.H. M. Anwaruddin dari Rembang dan K.H. Abdullah Siradj dari Yogyakarta. Ia juga menjadi anggota pengurus MIAI (Majlis Islam A’la Indonesia) yang didirikan pada 1937 di Surabaya. Sekalipun aktif dalam berbagai organisasi itu, Abdul Halim tetap mencurahkan perhatiannya untuk memajukan pendidikan. Hal itu diwujudkannya dengan mendirikan Santi Asromo pada tahun 1932. Dalam periode tahun 1950-an Abdul Halim pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat dan kemudian menjadi anggota Konstituante.
Terdapat dua peninggalan K.H. Abdul Halim yang masih bertahan hingga hari ini, yaitu: pesantren Santi Asromo dan organisasi Persatuan Umat Islam (PUI) yang bergerak di bidang agama, pendidikan, sosial, dan budaya.
Abdul Chalim Leuwimunding: Tokoh Pendiri NU Asal Sunda
Abdul Chalim, menurut penuturan putranya, K.H. Asep Saifuddin Chalim, lahir pada 2 Juni 1898, di Leuwimunding, Majalengka yang dulu masuk Karesidenan Cirebon. Ia lebih dikenal Abdul Chalim Leuwimunding. Sang ayah bernama Buyut Kedung Wangsagama, adalah seorang yang pernah menjadi Kuwu di Leuwimunding.
Dari buku berjudul “K.H. Abdul Chalim Leuwimunding: Pendiri NU, Pahlawan Republik yang Terlupakan” dan buku berjudul “Kiai Besar bin Kiai Besar yang Berpikiran Besar“, karya Mas Joko Pitono dan A. Lazim Suadi, penulis memeroleh informasi shahih tentang sosok beliau. Disempurnakan dengan buku berjudul “Kiai Miliarder Tapi Dermawan: 9 Kehebatan Kyai (Prof. Dr. K.H. Asep Saifuddin Chalim, M.A.)” karya M. Mas’ud Adnan. Buku ini tentang kisah hidup dan kiprah sang anak bungsu KH Abdul Chalim Leuwimunding.
Abdul Chalim saat di Makkah belajar kepada guru asal Rajagaluh yang lama mukim bernama Syeikh Sulaeman dan Sheik Nawawi al Bantani (sayyid Ulama al Hijaz). Adapun ulama seangkatannya saat itu antara lain: Wahab Hasbullah (Surabaya), KH Abbas Abdul Jamil (Buntet,Cirebon), Abdul Halim (Jatiwangi, Majalengka), dan Habib Ahmad Syeikh ayahanda Habib Syarif Muhammad (Ajip Muh, Cirebon).
Yang khas dari cara belajar beliau adalah dengan cara menyanyikan/melagukannya ala Sunda. Hal ini dikenali oleh sahabatnya Wahab Hasbullah, yang kelak mengajaknya untuk aktif dalam kepengurusan pertama Nahdlatul Oelama (NO). Saat di Makkah, ia belajar silat kepada Wahab Hasbullah. Teman latihan pencaknya adalah Abbas (Buntet, Cirebon) dan Mahfudz (Bogor). Adapun santri yang tersohor pencaknya ketika di Makkah adalah Mas Ali (Surabaya) dan Mansur (Cilegon). Semuanya adalah jag-jago silat, kecuali Abdul Halim (Jatiwangi, Asmoro, Majalengka).
“ Kamu sudah pernah belajar ilmu pencak?” tanya Hasbullah.
“Belum”, jawab Abdul Halim.
“Masa orang Jawa Barat (Sunda) yang ahli politik,pandai main catur tidak bisa pencak. Pencak itu untuk kekuatan. Anak muda tidak boleh lemah tenaganya, kamu harus belajar pencak,” pinta Hasbullah.
Bersama kiai-kiai lain di Surabaya, Kiai Abdul Chalim terlibat intens dalam mengorganisasi Taswirul Afkar, Syubbanul Wathon, Komite Hijaz, dan pendirian Jam’iyah NU. Sebelum tahun 1926, menurut penuturan K.H. Masjkur (1982: 21), K.H. Abdul Chalim juga mewakili kalangan ulama pesantren di dalam Kongres-kongres al-Islam, termasuk ketika membentuk Komite Khilafah setelah Khilafah dihapuskan pada tahun 1924 oleh Turki Utsmani. K.H. Masjkur menyebut wakil dari ulama tradisi yang datang di acara-acara Kongres al-Islam, yaitu K.H. Abdul Wahab Chasbullah, K.H. Abdul Kalam (maksudnya adalah KH. Abdul Chalim Leuwimunding), H. Hasan Gipo, H. Saleh Samil, dan H. Ahzab.
Pada tanggal 22 Juni 1922, berkat bantuan, K.H. Amin (Praban), Kiai Abdul Chalim untuk pertama kalinya bertemu kembali dengan K.H. Abdul Wahab Hasbullah, sahabat sekaligus gurunya. Pertemuan itu menjadikan dirinya dipercaya mengajar di Nahdlatul Wathan di Kampung Kawatan VI Surabaya. Selama di Surabaya itulah, beliau bergaul dengan tokoh-tokoh ulama seperti Kiyai Hasyim Asy’ari (Jombang), K.H. Dahlan Abdulqodar (Kertopaten), Raden Asnawi (Kudus), K.H. Alwi Abdul Azis, K.H. Nachrowi (Malang), K.H. Ridwan Abdullah (Semarang), K.H. Nawawi (Pasuruan), dan K.H. Abdul Faqih (Gresik). Bersama-sama tokoh tersebut mereka mendirikan organisasi yang usulan namanya digagas oleh K.H. Alwi Abdul Aziz yaitu Jam’iyyah Nahdlatul Oelama yang artinya kebangkitan ulama.
Susunan Pengurus Besar NO yang pertama adalah:
Syariah
Rois Akbar: K.H. Hasyim Asy’ari (Jombang)
Wakil Rois Akbar: K.H. Dahlan Ahyat (Surabaya)
Khotib Awal: K.H. Abdul Wahab Chasbullah (Jombang)
Kotib Tsani: K.H. Abdul Chalim (Majalengka)
A’wan
K.H. Mas Alwi Abdul Aziz (Surabaya)
K.H. Ridwan Abdullahh (Surabaya)
K.H. Said (Surabaya)
K.H. Abdul Chalim adalah tokoh pendiri NU satu-satunya yang tak punya pesantren. Suatu hari, saat dijenguk K.H. Abdullah Wahab Hasbullah, beliau diingat bahwa dirinya satu-satunya pendiri NU yang tidak punya pondok pesantren. Saat itulah, Kiyai Abdul Chalim mengatakan “Nanti, (salah-satu) anak saya akan mempunyai pondok yang besar.”
Jawaban beliau ini terbukti kemudian, bahwa salah saeorang putranya yang bungsu yaitu K.H. Prof. Dr. Acep Saefudin Chalim, M.A. menjadi pimpinan pondok pesantren besar dan terkenal, yaitu Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto.
Warisan Hikmah Teladan
K.H. Abdul Halim terkenal dengan gagasan ‘Persyarikat Ulama’ dan Persatuan Umat Islam (PUI). Sedangkan, K.H. Abdul Chalim Leuwimunding dengan gagasan Nahdlatul Ulama atau kebangkitan ulama-nya. Kata kunci persyarikat dan kebangkitan ulama serta Persatuan Umat Islam ini semestinya menjadi simpul sinergi dan kolaborasi untuk kejayaan Islam dan umat muslim (izzul islam wal muslimun) di atas kebangsaan Indonesia. Keduanya tidak pernah memperjuangkan ‘kebangsaan Indonesia’ terlepas dari sumber nilai dan orientasinya yaitu Islam itu sendiri. Namun disayangkan, yang terjadi justru pemutarbalikan logika sejarah atau sebagai bentuk politik historiografi.
Tokoh ulama ini sudah wafat. Namun, keduanya telah meninggalkan warisan berupa ilmu, hikmah, dan artefak karya, serta anak-anak keturunannya termasuk murid-muridnya yang tersebar ke seluruh dunia dan berkarya produktif untuk kejayaan Islam. Kiranya kita bisa memanjatkan doa yang sama sebagaimana Nabi Ibrahim as. ***
Pusat Studi Sunda, 8 April 2026.
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.











