Oleh Ilham Nurwansah
DI Cianjur siapa yang tidak kenal pawai Kuda Kosong? Dalam setiap peringatan kemerdekaan Indonesia di Cianjur, Kuda Kosong tampil diarak dengan para pengiring berpakaian dan berdandan bak hulubalang kerajaan kuno, lengkap dengan umbul-umbul dan replika tombak. Seekor kuda hitam tinggi besar dipakaikan ragam hiasan, kain alas tunggangan dengan corak hijau, motif sulur emas, serta beragam untaian bunga dan mahkota. Tak ketinggalan juga sebuah payung kebesaran selalu mendampingi kuda istimewa ini. Ia tidak ditunggangi, tetapi dibiarkan kosong. Itulah yang menjadi cikal bakal nama tradisi “kuda kosong” di Cianjur.
Sejak tahun 2018 Kuda Kosong telah terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dengan nomor SK 264/M/2018, dalam domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan. Dengan menyandang status sebagai WBTB, Kuda Kosong menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Cianjur. Hal ini tampak dengan sering munculnya penampilan pawai Kuda Kosong, tidak hanya pada perayaan tahunan kemerdekaan Indonesia saja, tetapi dalam berbagai pawai budaya di luar Cianjur. Pengusulan Kuda Kosong sebagai WBTB mengusung sebuah kisah diplomasi Cianjur-Mataram pada periode abad ke-17.
Dualisme Narasi
Kisah tentang Kuda Kosong memang tercatat dalam naskah-naskah Babad Cikundul. Misalnya dalam versi tertua dengan titi mangsa tahun 1890 koleksi Perpustakaan Universitas Leiden Belanda, disebutkan dalam pupuh Sinom pada 35-36: (35) kula nurutkeun tuladan, ngan ngeunakeun dangding, kitu asal pusakana, malah anggeus galib, baheula nini aki, nu asal pencar Cikundul ari anu kariyaan, sumawon mungguh bupati, kudu baé maké kuda kosong téa, (36) kuda téh dirarahaban, dipayungan jeung diaping, leumpang hareupeun jampana, atawa tukangeun jawi, saurna nini aki, baris nunggangan karuhun, Éyang Surya Kancana, malah sahur Ibu Uti, mun teu kitu rajeun-rajeun sok cilaka.
Demikianlah disebutkan bahwa dalam kepercayaan keluarga bupati Cianjur lama kuda kosong sejak dahulu diperuntukkan sebagai tunggangan Eyang Surya Kancana yang tinggal di Gunung Gede. Menurut naskah babad, ia adalah putra dari Aria Wiratanu I (Dalem Cikundul) hasil pernikahan dengan jin. Dalam naskah Babad Cikundul hanya itu saja keterangan mengenai kuda kosong, yaitu sebuah tradisi dan kepercayaan lama dalam sebuah perayaan di Cianjur. Tidak ada sangkut paut dengan peristiwa pengiriman utusan ke Mataram.
Di sisi lain para praktisi dan pengusung seni helaran Kuda Kosong saat ini juga menyatakan bahwa kisahnya bersumber pada Babad Cikundul, tetapi dari sumber disampaikan turun-temurun secara lisan, bukan dari naskah. Tidak satupun dari mereka pernah membaca naskah Babad Cikundul secara utuh, melainkan fragmen-fragmen pendek saja. Sehingga, jika diperhatikan lebih seksama, kisah yang kini populer tampak menunjukkan perbedaan yang cukup jauh dibanding sumber-sumber tertulis naskah Babad Cikundul yang lebih tua. Bahkan secara tegas menghubungkan kuda kosong dengan kisah pengiriman utusan dari Cianjur ke Mataram.
Dalam narasi kontemporer dikemukakan perihal “tiga biji padi, lada, dan cabai”. Konteks narasi diplomasi “tiga biji” tersebut digadang-gadang sebagai upaya diplomasi damai ke keraton Kesultanan Mataram. Versi ini mengisahkan suatu masa ketika pemerintahan Dalem Tarikolot terjadi gejolak atas kekuasaan wilayah di pulau Jawa. Dengan berdirinya Kesultanan Mataram baru yang begitu kuat, berbagai wilayah mulai tunduk, baik dengan cara diperangi ataupun menyerahkan diri.
Utusan dari Pamoyanan (Cianjur) yang diwakili oleh Dalem Aria Kidul bersama pengiringnya, membawa cinderamata kepada Sultan Mataram (ditafsirkan sebagai Amangkurat II) berupa sepucuk surat yang disebut “Serat Kalih” dan tiga buah kotak yang berisi tiga jenis biji-bijian, yaitu “biji padi, biji lada, dan biji cabai rawit”. Ketiga cinderamata itu konon merupakan simbol bahwa ‘walaupun Cianjur adalah kabupaten yang baru berdiri dan belum memiliki banyak kekayaan, tetapi tidak akan tinggal diam apabila dihina atau dijajah’.
Pembacaan lebih saksama terhadap naskah Babad Cikundul, dan kisah yang sama dengan judul berbeda seperti Babad Menak Sunda, Sajarah Bupati Cianjur, Sajarah Cikundul dan Babad Cianjur (Nyai Mas Syarifah Didoh), ternyata diketahui bahwa “cinderamata” yang dikirimkan oleh utusan pihak Pamoyanan hanyalah sepucuk surat. Perihal tiga kotak yang berisi tiga jenis biji-bijan justru tidak pernah disebutkan dalam naskah-naskah babad.
Naskah Sajarah Bupati-bupati Cianjur koleksi Leiden (1890), dalam pupuh Dangdanggula pada 91 menyebutkan benda yang dibawa dari Pamoyanan hanyalah sepucuk surat yang disimpan dalam kotak dan dibungkus kain putih: (91)…, Dalem Arya Cikondang ngalahir, ménak basa sempal guyon, gancangna genggeus rempug, Arya Kidul enggeus tarapti, bral angkat ka Mataram, jeung gandék sapuluh, surat enggeus dikanagaan, tanda taluk dibungkus ku lawon putih.
Bahkan dalam naskah Babad Cianjur karya Nyai Mas Syarifah Didoh (1974: 14) disebutkan bahwa sesungguhnya surat yang diberikan kepada Sultan Mataram itu sebagai tanda kumureb atau menyerahkan diri (tanda tunduk), agar Cianjur tidak diserang oleh pasukan Mataram. “Énggalna saparantos sadaya rempug, Dalem Aria Kidul parantos tarapti sayagi. Bral arangkat ka Mataram, disarengan ku gandék sapuluh urang, ngintunkeun serat téa ka Mataram. Kabiasaan dina waktu éta, tanda kumereb ka Sinuhun éta serat téh dibungkus ku lawon putih.”
Lalu muncul pertanyaan: sejak kapan narasi “tiga biji” menjadi bagian dari kisah sejarah Cianjur? Sebab, antara tahun 1890 dan 1974 saja narasi itu tidak pernah disebutkan dalam naskah. Paling tidak, naskah tahun 1974 menjadi bukti tertulis paling muda yang kisahnya masih sesuai dengan versi yang lebih tua. Sejak itu, belum ditemukan lagi produksi atau salinan naskah Babad Cikundul, seiring semakin pudarnya popularitas genre kisah babad di Tatar Sunda. Walau demikian, praktik pawai Kuda Kosong dan ritualnya tetap dilaksanakan di Cianjur, hingga diadaptasi menjadi sebuah kreasi tari.
Dokumentasi Kuda Kosong dalam Tari Kreasi (1996)
Penciptaan karya Tari Kuda Kosong oleh Tatang Setiadi pada tahun 1996 merupakan adaptasi langsung dari bentuk asli tradisi Kuda Kosong yang masih hidup di Cianjur pada waktu itu. Komposisi penari dan pemeran tokoh dalam Tari Kuda Kosong terdiri atas 6 orang pembawa umbul-umbul, 10 orang penari putri, 1 orang lengser, 1 orang pembawa gugunungan, 1 orang pembawa payung agung, 1 orang “kuncen” pembawa pedupaan, dan 2 orang pemeran kostum Kuda Kosong.
Adaptasi karya tari ini menjadi bukti dokumentasi penting, bahwa pada tahun 1996 iring-iringan Kuda Kosong tidak membawa tiga jenis biji-bijian maupun sepucuk surat. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa penyertaan tiga jenis biji-bijian ke dalam penyajian iring-iringan Kuda Kosong masuk lebih belakangan setelah itu.
Sebuah sumber lisan menyebutkan bahwa cuplikan tiga jenis biji itu berasal dari sebuah lirik tembang Cianjuran berjudul “Sinom Tegal”. Walaupun demikian, tetap saja dapat diperkirakan bahwa penciptaan langgam tembang Cianjuran mulai terjadi di abad ke-19, sehingga boleh jadi merupakan karya cipta sastrawan-seniman pada periode tersebut.
Benda Pemberian Sultan Mataram
Dalam narasi kontemporer disebutkan bahwa Sultan Mataram menerima dengan baik para utusan dari Pamoyanan, kemudian membalasnya dengan memberikan tiga hal, yaitu satu ekor kuda, satu buah keris dan bibit pohon saparantu. Namun, lagi-lagi narasi tersebut tidak cocok dengan kisah yang terdapat dalam naskah Babad Cikundul.
Dalam Sajarah Bupati-bupati Cianjur (1890) koleksi Leiden, pupuh Dangdanggula pada 94-95 disebutkan bahwa pemberian dari Senapati (Sultan Mataram) ada dua hal, yaitu pisalin sapangadeg (sepasang pakaian ganti), dan hiji pendok emas (sebuah ‘pendok’; keris bersarung hiasan emas), seperti yang tercatat berikut ini: (94)… Sénapati ngawalonan, “Sun tarima persetya Kakangiréki, lawan Sun angken mitra,” (95) Sénapati maparin pisalin, sapangadeg jeung hiji pendok emas, Arya Kidul langkung atoh, enggeus kaidinan mundur, di jalan nya kitu deui, lilana tilu bulan, nepi ka Ciyanjur.
Seekor kuda maupun pohon saparantu tidak disebutkan sebagai hadiah dalam babad. Kisah kuda yang dianggap sebagai hadiah dari Sultan Mataram tampaknya tercampur dengan tradisi iring-iringan pawai kebesaran sebagai penghormatan kepada Eyang Surya Kancana. Adapun pohon saparantu, juga tercampur dengan kisah legenda Raden Longgar Jaya (Eyang Saparantu). Ia adalah seorang pengelana dari Cirebon yang mendapatkan petunjuk untuk pergi ke daerah Cibalagung. Tongkat kayu yang didapatkan atas petunjuk mimpi lalu ia tancapkan di pinggir kampung Cibalagung. Tongkat itu kemudian tumbuh dan konon menjadi pohon saparantu yang ada di Cibalagung sampai sekarang.
Perihal Upeti ke Mataram
Setelah peristiwa penerimaan oleh Sultan Mataram, disebutkan bahwa pihak Pamoyanan mendapatkan keberhasilan. Dalam narasi kontemporer peristiwa itu ditafsirkan sebagai prestasi besar, sebab Pamoyanan diakui sebagai saudara oleh Sultan Mataram, dan dianggap bukan sebagai kabupaten jajahan. Bahkan, sampai disebutkan terbebas dari kewajiban membayar upeti tahunan kepada Mataram.
Jika kita bersandar pada naskah Babad Cikundul, justru kisahnya tidak seperti itu. Malahan, sejak saat itu pihak Pamoyanan harus memberikan upeti kepada pihak Mataram setiap tahun, walaupun jumlahnya tidak besar. Penyerahan upeti itu sebagai tanda bahwa Pamoyanan (Cianjur) tetap setia dan tunduk kepada kekuasaan kesultanan Mataram.
Dalam Sajarah Bupati-bupati Cianjur (1890) pada 99 disebutkan: (99) Ti harita kaluar upeti, ti Cianjur ka ratu Mataram, tapi hanteu pati gedé, ngadeuheus unggal taun, ka Mataram pertanda ngabdi, sok rajeun sasarengan, jeung Dipati Ukur, ari datang ka Mataram, perbupati ngadeuheus ka jero puri, hémpak sila di latar. Demikian juga yang disebutkan dalam naskah Babad Cianjur (Nyai Mas Syarifah Didoh, 1974: 16): Nya ti wangkid harita kaluar upeti ti Cianjur ka Sénopati Mataram, namung henteu ageung, asal mayeng ngadeuheus unggal taun. Tawis kumereb pertanda satia.
Kompromi dan Transformasi Filosofi
Fenomena pergeseran narasi kisah kuda kosong dan diplomasi Cianjur-Mataram yang kita simak di atas pada satu sisi muncul sebagai upaya rasionalisasi mitos agar lebih membumi. Nilai-nilai kepercayaan masa lalu yang bercampur dengan mitologi dan pengagungan tokoh-tokoh sakral dianggap tidak lagi relevan dalam kehidupan masyarakat.
Di sisi lain, tampak pula bahwa hal ini adalah pengaruh dari pelarangan tampilan Kuda Kosong oleh Bupati Cianjur pada tahun 1998-2011, karena dinilai mengandung unsur-unsur yang tidak sejalan dengan syari’at Islam. Periode tersebut menjadi pukulan telak bagi tradisi Kuda Kosong dan para praktisinya, dan dianggap memutus tali paranti yang telah lama dilestarikan di Cianjur. Berbagai upaya mediasi dan dialog dilakukan para tokoh budaya, seniman, dan ulama untuk menghadirkan kembali Kuda Kosong ke ruang publik.
Salah satu syarat mutlak agar Kuda Kosong dapat tampil kembali adalah dengan menghilangkan praktik ritual untuk “menghadirkan” sosok penunggang gaib (Eyang Surya Kancana) sebelum pemberangkatan rombongan. Para budayawan bersepakat dan berkompromi demi kelangsungan ikon tradisi Cianjur ini. Namun, sebagai konsekuensi dari kompromi itu, terjadi transformasi nilai filosofis.
Kuda Kosong yang semula merupakan bentuk penghormatan terhadap tokoh sakral, bertransformasi menjadi pertunjukan murni yang “dipaksa” bersandar pada suatu versi kisah sejarah. Pijakan dari kisah itu pun sesungguhnya tidak benar-benar akurat dengan versi naskah Babad Cikundul. Diplomasi damai menjadi nilai filosofis yang semakin diglorifikasi, walaupun sejatinya hanyalah sebuah pencapaian yang semu.
Narasi dengan nilai-nilai filosofi Kuda Kosong yang baru ini tampak mulai menyebar dan semakin meluas sejak upaya kompromi dilakukan oleh berbagai pihak secara masif. Kisah sejarah, walaupun menyimpang, dianggap lebih logis dan tidak beresiko sampai pelarangan tampil. Penerbitan buku, media masa, dan narasi lisan pun turut dibangun menurut nilai-nilai baru ini. Narasi lama yang lebih otentik justru semakin ditinggalkan, dan oleh pihak tertentu mungkin dianggap sebagai ancaman keberlangsungan tradisi ini. ***
Ilham Nurwansah, Anggota Dewan Pakar Pusat Studi Sunda (PSS), Anggota Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Barat, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Cianjur.











