Oleh Dinn Wahyudin
Prof. Furqon, M.A., Ph.D., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) periode 2015-2020, lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada 2 Oktober 1957 dan wafat di Bandung, Jawa Barat, pada 22 April 2017 dalam usia 59 tahun. Beliau menjabat sebagai rektor ke-8 UPI dan wafat saat beliau masih aktif menjabat sebagai Rektor UPI. Untuk mengenang kepergian Almarhum menghadap Sang Khalik, berikut tulisan singkat tentang almarhum Prof. Furqon.
Almarhum Prof. Furqon dikenal sebagai sosok akademisi yang berdedikasi tinggi dalam pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. Selama menjabat sebagai rektor, beliau berperan penting dalam memperkuat tata kelola kelembagaan, mendorong peningkatan mutu akademik, serta memperluas jejaring kerja sama baik di tingkat nasional maupun internasional.
Kepemimpinannya ditandai dengan komitmen terhadap nilai-nilai profesionalisme, integritas, dan inovasi dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang terus berkembang.
Selain sebagai pemimpin institusi pendidikan tinggi, Prof. Furqon juga dikenang sebagai pendidik dan ilmuwan yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan sumber daya manusia. Pemikiran dan kontribusinya tidak hanya terbatas pada ranah kebijakan, tetapi juga dalam penguatan budaya akademik yang berorientasi pada riset dan pengabdian kepada masyarakat. Warisan intelektual dan keteladanannya tetap menjadi inspirasi bagi sivitas akademika untuk terus berkontribusi dalam memajukan pendidikan yang bermutu dan berdaya saing. Selain kiprahnya di UPI, Prof. Furqon juga aktif dalam berbagai jabatan dan peran penting di tingkat nasional. Ia pernah terlibat dalam sejumlah organisasi profesi dan forum pendidikan tinggi, serta berkontribusi sebagai pemikir kebijakan dalam pengembangan pendidikan nasional. Jejak pengabdiannya yang luas mencerminkan sosok intelektual yang tidak hanya berperan sebagai administrator pendidikan, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam pembangunan sumber daya manusia.
Lima Pemikiran Terbaik
Pertama, berkaitan dengan penguatan Asesmen Berbasis Kompetensi dan Autentik atau Competency-Based and Authentic Assessment. Prof. Furqon dikenal mendorong paradigma asesmen yang tidak hanya mengukur hasil belajar kognitif, tetapi juga menilai keterampilan, sikap, dan performa nyata peserta didik. Gagasannya menekankan pentingnya asesmen autentik sebagai alat untuk memeroleh gambaran utuh tentang capaian pembelajaran, sekaligus sebagai dasar pengambilan keputusan pendidikan yang lebih adil dan komprehensif. Prof. Furqon dikenal mendorong paradigma asesmen yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga mencakup keterampilan dan sikap melalui pendekatan autentik. Ia menekankan pentingnya penilaian yang kontekstual dan berbasis kinerja nyata peserta didik.
Kedua, komitmen yang tinggi pada Integrasi Bimbingan dan Konseling dalam Sistem Pendidikan atau Integration of Guidance and Counseling within the Education System. Dalam bidang bimbingan dan konseling, Prof. Furqon menekankan bahwa layanan bimbingan dan konseling harus menjadi bagian integral dari proses pendidikan, bukan sekadar pelengkap. Ia berpandangan bahwa perkembangan peserta didik harus dilihat secara holistik—akademik, sosial, emosional, dan karier—sehingga layanan konseling berperan strategis dalam membentuk kepribadian dan kesiapan hidup. Dalam bidang bimbingan dan konseling, beliau menekankan pendekatan komprehensif dan terintegrasi dalam sistem pendidikan. Pandangannya menempatkan layanan bimbingan dan konseling sebagai bagian strategis dalam pengembangan peserta didik secara utuh.
Ketiga, Prof Furqon sangat konsisten pada bidang yang berkaitan dengan pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Berkelanjutan atau Continuous Educational Evaluation Model. Salah satu kontribusi pentingnya adalah pemikiran tentang evaluasi pendidikan yang bersifat berkelanjutan (continuous improvement). Evaluasi tidak hanya dilakukan di akhir proses, tetapi menjadi bagian dari siklus pembelajaran yang terus-menerus untuk meningkatkan mutu pendidikan. Model ini menekankan umpan balik (feedback) sebagai instrumen utama perbaikan sistem pendidikan. Kontribusi penting Prof. Furqon terletak pada penekanan evaluasi sebagai proses berkelanjutan untuk peningkatan mutu pendidikan. Ia melihat evaluasi sebagai bagian dari siklus manajemen mutu, bukan sekadar alat ukur hasil akhir.
Keempat, komitmen beliau pada profesionalisasi tenaga pendidik melalui literasi evaluasi atau Professionalization of Educators through Evaluation Literacy. Prof. Furqon juga meyakini pentingnya literasi evaluasi bagi guru dan tenaga kependidikan. Menurutnya, guru harus memiliki kemampuan merancang instrumen penilaian yang valid dan reliabel serta mampu menafsirkan hasilnya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Pemikiran ini berkontribusi pada penguatan kompetensi profesional guru di Indonesia. Beliau menekankan bahwa guru harus memiliki kompetensi evaluasi yang kuat, termasuk kemampuan menyusun instrumen dan memanfaatkan data hasil belajar. Kritiknya terhadap praktik penilaian yang administratif menjadi dasar penting bagi penguatan profesionalisme guru. Pemikiran ini banyak diwujudkan dalam pelatihan guru, modul pembelajaram, serta kontribusi dalam pengembangan kurikulum Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).
Kelima, pemikiran beliau dalam menguatkan pendidikan berbasis nilai dan pengembangan karakter atau Values-Based Education and Character Development. Selain bidang evaluasi pendidikan, beliau juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan berbasis nilai. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan individu cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter, beretika, dan memiliki tanggung jawab sosial. Dalam perspektifnya, asesmen dan bimbingan harus mendukung pembentukan karakter sebagai tujuan utama pendidikan nasional. Prof. Furqon juga menekankan bahwa pendidikan harus berorientasi pada pembentukan karakter dan nilai. Ia melihat bahwa asesmen dan bimbingan harus mendukung tujuan ini secara sistemik.
Sisi Humanis
Sisi humanis Prof. Furqon tercermin kuat dalam gaya kepemimpinan dan interaksinya yang hangat dengan sivitas akademika. Beliau dikenal sebagai sosok yang terbuka, mudah diakses, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak hanya berbicara sebagai pemimpin formal, tetapi juga sebagai pendidik yang memahami dinamika personal dan sosial yang dihadapi individu di lingkungan pendidikan. Pendekatan komunikatif dan empatik ini menciptakan suasana akademik yang lebih inklusif, dialogis, dan berorientasi pada pembinaan, bukan sekadar penilaian.
Selain itu, kepedulian sosialnya juga tampak dalam dorongan kuat terhadap pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian integral dari pendidikan tinggi. Prof. Furqon mendorong agar ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas, terutama dalam peningkatan kualitas pendidikan di berbagai daerah. Ia memandang pendidikan sebagai sarana pemberdayaan, sehingga keberpihakan pada akses, keadilan, dan kualitas pendidikan menjadi bagian dari komitmen moralnya. Nilai-nilai kemanusiaan inilah yang menjadikan warisan beliau tidak hanya terasa dalam sistem dan kebijakan, tetapi juga dalam inspirasi dan teladan yang terus hidup di kalangan masyarakat pendidikan di Tanah air.
Tagline Kepemimpinan
Semangat kepemimpinan Prof. Furqon—baik saat memimpin Universitas Pendidikan Indonesia maupun ketika berkiprah di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan—dapat dirangkum dalam sebuah tagline yang mencerminkan karakter visioner, humanis, dan berbasis mutu: “Memimpin dengan integritas, menguatkan mutu, dan memanusiakan pendidikan.” Tagline ini merefleksikan komitmennya pada tata kelola yang bersih, peningkatan kualitas berkelanjutan, serta orientasi pada pengembangan manusia seutuhnya sebagai inti dari seluruh proses pendidikan. Bukan sekadar slogan, kalimat ini mencerminkan cara beliau bekerja dan berpikir. Integritas menjadi fondasi dalam setiap kebijakan, mutu dijaga dan ditingkatkan secara konsisten, dan yang paling penting—pendidikan selalu ditempatkan sebagai proses memanusiakan manusia. Di tangan beliau, kepemimpinan bukan hanya soal mengelola institusi, tetapi juga tentang memberi arah, membangun kepercayaan, dan meninggalkan dampak yang bermakna bagi dunia pendidikan.
Itulah jejak sunyi seorang pemikir pendidikan yang terus berkomitmen dalam memimpin dengan integritas, menguatkan mutu, dan memanusiakan manusia. Dalam pengkhidmatan yang tulus tanpa henti tanpa lelah itulah, ia menemukan jalan pulang menuju Sang Khalik. Semoga Almarhum Prof. Furqon telah berada dengan tenang di Alam Barzah, di tempat yang sangat dimuliakan Allah SWT. Bisikan do’a terus mengalir: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin. ***
Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).











