Oleh Achmad Tans
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS Al-Anbiya: 87)
Pertanyaan yang Tidak Pernah Tua
Di antara ribuan pertanyaan yang pernah diajukan manusia sepanjang sejarah, mungkin tidak ada yang lebih sederhana sekaligus lebih dalam daripada pertanyaan ini: “Siapa aku”? Pertanyaan itu terdengar biasa. Bahkan mungkin terlalu sederhana. Namun sesungguhnya, di balik tiga kata tersebut tersembunyi pergulatan filsafat, spiritualitas, psikologi, dan peradaban yang tidak pernah selesai dibahas sejak manusia pertama menginjak bumi. Menariknya, pertanyaan itu tidak hanya muncul di ruang kuliah filsafat, di perpustakaan para ilmuwan, atau di majelis para ulama. Ia juga muncul dalam karya seni, syair, lagu, dan doa.
Salah satu lagu yang pernah mengusik batin banyak pendengarnya adalah lagu “Siapa Aku” yang dipopulerkan oleh Deddy Stanzah. Terlepas dari bagaimana kehidupan pribadi penyanyinya dipersepsikan oleh masyarakat pada zamannya, lagu tersebut menghadirkan sesuatu yang sangat manusiawi: kegelisahan tentang identitas diri.
Dan anehnya, ketika mendengarkan lagu itu, banyak orang larut dalam perenungan. Mengapa? Karena jauh di dalam hati manusia, pertanyaan “siapa aku” bukanlah pertanyaan asing. Ia adalah pertanyaan fitrah.
Ketika Dunia Ramai, Jiwa Justru Bertanya
Kita hidup di zaman yang penuh jawaban. Jika ingin tahu cuaca, ada aplikasi. Jika ingin tahu lokasi, ada peta digital. Jika ingin tahu informasi, ada mesin pencari. Namun di tengah melimpahnya jawaban itu, manusia justru semakin sering kehilangan jawaban atas pertanyaan yang paling penting: Siapa aku sebenarnya?
Kita tahu pekerjaan kita, jabatan kita, gelar kita, nomor identitas kita. Tetapi apakah semua itu benar-benar menjelaskan siapa diri kita? Seorang direktur yang kehilangan jabatannya tetap manusia. Seorang profesor yang pensiun tetap manusia. Seorang petani yang tidak lagi memiliki sawah tetap manusia. Jika demikian, berarti identitas sejati manusia tidak mungkin hanya melekat pada profesi, status sosial, atau kekayaan. Ada sesuatu yang lebih dalam. Ada sesuatu yang lebih hakiki. Dan fitrah manusia terus mencari jawaban itu.
Lagu yang Bertanya, Bukan Menggurui
Salah satu alasan mengapa lagu-lagu kontemplatif sering bertahan melintasi zaman adalah karena ia tidak memaksa pendengar menerima kesimpulan tertentu. Ia bertanya. Ia mengetuk. Ia mengajak bercermin. Lagu “Siapa Aku” tidak berdiri sebagai ceramah. Ia hadir sebagai kegelisahan. Dan justru karena itulah ia terasa dekat. Sebab sebagian besar manusia tidak sedang kekurangan informasi. Mereka sedang kekurangan refleksi. Mereka tidak memerlukan lebih banyak kebisingan. Mereka memerlukan ruang untuk mendengar suara hati sendiri.
Dalam konteks ini, lagu menjadi seperti cermin. Ia tidak memberikan wajah baru. Ia hanya memantulkan wajah yang selama ini kita hindari.
Dari Lagu Menuju Lautan Nabi Yunus
Menariknya, perjalanan pencarian jati diri ternyata tidak hanya ditemukan dalam karya seni. Alquran bahkan menghadirkan salah satu momen introspeksi paling indah dalam sejarah manusia. Ketika Nabi Yunus `alaihis salam berada dalam perut ikan besar, beliau mengucapkan doa yang kemudian diabadikan oleh Allah:
لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Sekilas doa ini pendek. Namun jika direnungkan, ia mengandung struktur spiritual yang luar biasa.
Pertama, tauhid: “Tidak ada Tuhan selain Engkau”.
Kedua, tasbih : “Maha Suci Engkau.”
Ketiga, muhasabah: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
Perhatikan apa yang tidak ada dalam doa tersebut. Tidak ada kalimat: “Umatku yang salah, keadaan yang salah, takdir yang salah, pihak lain yang salah”. Yang ada hanyalah keberanian untuk bercermin. Dan mungkin di sinilah letak salah satu puncak adab seorang Nabi.
Peradaban Menyalahkan versus Peradaban Muhasabah
Salah satu penyakit terbesar manusia modern adalah kegemaran mencari kambing hitam. Ketika ekonomi sedang bermasalah, lingkungan rusak, pendidikan gagal, masyarakat rusak, kita menyalahkan pihak lain. Sebagian kritik itu mungkin benar. Namun ada satu pertanyaan yang sering terlupakan: apa kontribusi kesalahan yang berasal dari diriku sendiri? Fitrah manusia sebenarnya memahami pentingnya pertanyaan ini. Karena perubahan besar hampir selalu dimulai dari keberanian mengakui keterbatasan diri. Nabi Yunus tidak sedang melakukan penghukuman diri. Beliau sedang melakukan kejujuran diri. Dan kejujuran adalah pintu pertama menuju perbaikan.
Abu Nuwas dan Tangisan Seorang Pendosa
Dalam tradisi Islam, banyak orang tersentuh oleh syair taubat yang dinisbatkan kepada Abu Nuwas:
“Ya Allah, aku tidak pantas masuk surga-Mu, tetapi aku juga tidak sanggup menghadapi neraka-Mu.”
Mengapa syair ini begitu menyentuh?
Karena ia lahir dari tempat yang sama dengan doa Nabi Yunus: pengakuan akan kelemahan diri. Tentu keduanya berbeda jauh. Nabi Yunus adalah seorang Nabi. Abu Nuwas adalah manusia biasa.
Namun ada satu irisan spiritual yang menarik: mereka tidak sedang membela diri. Mereka tidak sedang mencari alasan. Mereka tidak sedang menyusun pembenaran. Mereka sedang jujur. Dan kejujuran seperti itulah yang sering membuat hati manusia bergetar.
Karya dari Seniman yang Menyentuh Jiwa
Pertanyaan ini sering muncul. Bagaimana mungkin seorang seniman menghasilkan karya yang begitu dalam? Jawabannya mungkin terletak pada fitrah. Fitrah tidak selalu mati. Ia bisa tertutup. Ia bisa terlupakan. Ia bisa terdistorsi. Tetapi tidak mudah dihapus. Kadang-kadang, di tengah kehidupan yang kacau, fitrah menemukan celah untuk berbicara. Ia muncul dalam syair. Ia muncul dalam lagu. Ia muncul dalam tangisan malam. Ia muncul dalam doa. Mungkin karena itu kita tidak jarang menemukan karya yang sangat jujur lahir dari orang-orang yang sedang bergulat dengan dirinya sendiri. Bukan karena dosa melahirkan kebenaran, melainkan karena fitrah masih berusaha menembus lapisan-lapisan dosa itu.
Krisis Identitas Peradaban Modern
Hari ini, dunia menawarkan banyak identitas pengganti. Manusia dinilai dari: saldo rekeningnya, jumlah pengikutnya, gelarnya, kekuasaannya, atau kepemilikan asetnya. Akibatnya, ketika semua itu hilang, manusia sering merasa kehilangan dirinya.
Padahal Alquran memberikan identitas yang jauh lebih kokoh. Manusia adalah Hamba Allah
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56).
Manusia adalah Khalifah di bumi
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”
(QS Al-Baqarah: 30).
Dan manusia adalah mahluk luk fitrah
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurutnya.” (QS Ar-Rum: 30).
Inilah identitas yang tidak bergantung pada pasar, jabatan, atau popularitas.
Siapakah Aku?
Jika seluruh narasi ini dirangkum, maka jawaban fitrahnya mungkin seperti ini:
Aku bukan sekadar tubuh. Aku bukan sekadar profesi. Aku bukan sekadar angka statistik. Aku bukan sekadar konsumen. Aku bukan sekadar produsen. Aku bukan sekadar pemilih. Aku bukan sekadar pekerja. Aku adalah makhluk yang berasal dari tanah, diberi ruh oleh Allah, ditugaskan sebagai Abdillah sekaligus Khalifah, dan suatu saat akan kembali kepada-Nya. Dan karena itu, pertanyaan “siapa aku?” pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang identitas. Ia adalah pertanyaan tentang tujuan. Tentang amanah. Tentang arah pulang.
Catatan tentang Sebuah Lagu dan Kesadaran yang Mengetuk Hati
Di titik ini, menarik untuk kembali menengok lagu “Siapa Aku” yang menjadi pintu masuk perenungan kita. Lirik lagu tersebut memiliki kekuatan yang tidak mudah diabaikan. Ia tidak terdengar seperti lagu yang sedang menyalahkan dunia. Ia juga tidak terdengar seperti lagu yang sedang menuntut orang lain untuk berubah. Sebaliknya, yang muncul justru nuansa perenungan diri.
Ada kata-kata yang mengajak manusia bercermin. Ada kesadaran tentang perjalanan hidup yang tidak abadi. Ada isyarat bahwa waktu terus bergerak menuju batas yang tidak dapat ditawar. Dan yang paling terasa adalah hadirnya kegelisahan eksistensial yang sangat manusiawi: Aku ini sebenarnya siapa?
Dalam perspektif fitrah, pertanyaan semacam itu bukanlah tanda kelemahan. Justru sering menjadi awal kebangkitan kesadaran. Sebab selama manusia masih sibuk menghitung kesalahan orang lain, ia biasanya belum siap memperbaiki dirinya. Tetapi ketika ia mulai bercermin, menghitung umurnya, mengingat keterbatasannya, dan menyadari bahwa waktu hidup tidaklah tanpa batas, maka sesungguhnya sebuah pintu sedang terbuka dalam jiwanya. Karena itu, lagu “Siapa Aku” dapat dibaca sebagai sebuah karya yang mengandung nuansa pertobatan batin. Bukan pertobatan dalam pengertian formal yang bisa kita pastikan keadaannya, melainkan pertobatan dalam arti kesadaran yang mulai mengetuk hati.
Kesadaran bahwa manusia tidak hidup selamanya. Kesadaran bahwa ada batas waktu. Kesadaran bahwa ada perjalanan yang akan berakhir. Kesadaran bahwa sebelum menilai dunia, seseorang perlu terlebih dahulu menilai dirinya sendiri.
Dan bukankah semangat semacam itu memiliki irisan yang indah dengan doa Nabi Yunus? Bukan karena keduanya setara—tentu tidak. Doa Nabi Yunus adalah wahyu yang suci, sedangkan lagu adalah karya manusia. Namun keduanya sama-sama mengarahkan pandangan ke tempat yang sama: bukan kepada kesalahan orang lain, melainkan kepada kejujuran diri sendiri.
Di situlah mungkin letak kekuatan lagu tersebut. Ia tidak menawarkan jawaban panjang. Ia hanya mengajukan pertanyaan yang tepat. Dan sering kali, perjalanan pulang menuju fitrah dimulai bukan dari jawaban yang hebat, melainkan dari satu pertanyaan yang jujur: “Siapakah aku”?
Ketika Pertanyaan Menjadi Jalan Pulang
Mungkin itulah sebabnya lagu-lagu yang bertanya tentang diri selalu terasa legenda ris. Karena jauh di dalam hati manusia, ada kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang. Kerinduan untuk mengetahui asal usulnya.
Kerinduan untuk memahami tujuan hidupnya. Kerinduan untuk kembali kepada fitrahnya. Lagu “Siapa Aku” menghidupkan pertanyaan itu. Syair taubat Abu Nuwas memperlihatkan kerendahan hati di hadapan Allah. Doa Nabi Yunus menunjukkan ke mana pertanyaan itu harus berlabuh. Dan Alquran memberikan jawabannya. Maka ketika suatu hari kita bertanya: “Siapakah aku”? Barangkali jawaban paling jujur bukanlah gelar yang kita sandang, bukan pula harta yang kita miliki. Melainkan pengakuan sederhana seorang hamba yang sedang belajar mengenal Tuhannya:
“Ya Allah, Engkau Maha Suci. Aku masih banyak kekurangan. Tunjukkan aku jalan kembali kepada fitrah yang Engkau titipkan dalam diriku.”
Perjalanan menuju fitrah tidak selalu dimulai dari jawaban yang besar. Kadang ia dimulai dari keberanian berdiri di depan cermin, lalu bertanya dengan jujur:
“Siapakah aku”?
Sebab sering kali, awal hidayah bukan ketika manusia merasa telah menemukan semua jawaban, melainkan ketika ia cukup jujur untuk mulai mengajukan pertanyaan yang benar.
Satu pertanyaan yang jujur memang lebih berharga daripada seratus jawaban yang tergesa-gesa.Wallahu’alam. ***
Achmad Tans , XFITVAL (Explorer Fitrah Values); Penikmat Seni-Budaya.











