ZONALITERASI.ID – Masyarakat Indonesia memiliki karakteristik unik saat berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Inggris di Tanah Air sangat dipengaruhi oleh latar budaya dan bahasa lokal.
Pernyataan itu disampaikan Guru Besar Bidang Pragmatik Inggris Fakultas IImu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Aris Munandar, M.Hum., saat pengukuhan sebagai Guru Besar UGM, di Balai Senat UGM, baru-baru ini.
Dalam pidato berjudul ‘Kompetensi Pragmatik Bahasa Inggris dalam Konteks Masyarakat Multilingual Indonesia’, Aris mengungkapkan, masyarakat Indonesia cenderung membawa nilai kesantunan lokal ketika berbicara dalam bahasa Inggris. Itu terlihat dari cara menyampaikan pendapat, meminta maaf, hingga menjaga hubungan interpersonal dalam percakapan sehari-hari.
“Karakteristik bahasa Inggris yang digunakan masyarakat Indonesia memiliki kekhasan yang dipengaruhi bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Praktik berbahasa Inggris dipengaruhi oleh pengalaman sosial, budaya, dan kebiasaan komunikasi masyarakat,” ujar Aris, dikutip dari laman UGM, Minggu, 31 Mei 2026.
Aris menekankan bahwa bahasa Inggris kini telah berkembang menjadi bahasa internasional yang plural.
Bahasa Inggris saat ini tidak lagi didominasi oleh satu kelompok negara tertentu. Bahasa ini telah menjadi alat komunikasi global yang digunakan oleh masyarakat dengan latar belakang budaya yang sangat beragam.
“Komunikasi internasional saat ini justru lebih banyak terjadi antarsesama penutur dari negara non-bahasa Inggris. Bahasa Inggris bukan lagi bahasa yang monolingual, melainkan pluralistis,” ujarnya.
Menurutnya, bentuk penggunaan bahasa Inggris di berbagai belahan dunia akan selalu berkembang sesuai dengan konteks sosial dan budaya masing-masing daerah.
Situasi Budaya yang Berbeda-beda
Kata Aris, kemampuan bahasa Inggris tidak cukup diukur dari ketepatan tata bahasa.
Menurutnya, seseorang perlu memiliki kemampuan untuk memahami konteks sosial lawan bicara dan menyesuaikan pilihan bahasa dengan situasi budaya yang berbeda-beda.
Dia mendorong pendekatan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih terbuka dengan keberagaman praktik komunikasi.
“Masyarakat Indonesia tidak boleh terjebak pada orientasi monolingualisme,” pungkas Aris. (des)***











