ZONALITERASI.ID – Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh empati, kesabaran, dan dukungan cenderung lebih tenang, percaya diri, dan mudah membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Sebaliknya, suasana rumah yang penuh tekanan atau respons emosional yang keras dapat membuat anak lebih mudah cemas dan kesulitan mengekspresikan perasaannya.
Berpijak pada realitas itu, terlihat bahwa cara orang tua bersikap sehari-hari berpengaruh besar terhadap perkembangan emosional anak.
Mengutip Your Tango, Minggu, 31 Mei 2026, terapis somatik dari Amerika Serikat, Yolanda Renteria, membagikan beberapa kebiasaan sederhana yang sering dimiliki orang tua dengan tingkat kesabaran tinggi. Sikap-sikap ini dapat membantu anak merasa lebih aman secara emosional sekaligus mendukung perkembangan rasa percaya diri mereka.
Berikut beberapa sikap orang tua yang dapat membantu anak tumbuh lebih tenang dan percaya diri:
1. Berusaha memutus pola asuh yang tidak sehat
Banyak orang tua tanpa sadar menerapkan pola pengasuhan yang sama seperti yang mereka terima saat kecil, termasuk kebiasaan memarahi atau menghukum anak secara berlebihan. Padahal, pengalaman masa kecil setiap orang dapat memengaruhi cara mereka bereaksi saat menghadapi anak.
Menurut Renteria, orang tua perlu mulai menyadari bahwa disiplin tidak selalu harus dilakukan dengan cara keras.
Anak justru lebih mudah memahami aturan ketika dibimbing dengan tegas tetapi tetap penuh empati. Dengan berusaha memutus pola pengasuhan yang kurang sehat, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi anak untuk berkembang.
“Jika Anda mengingat masa kecil Anda dan masih percaya bahwa Anda pantas dihukum ketika melakukan kesalahan/bertingkah buruk, kemungkinan besar Anda juga percaya hal yang sama berlaku untuk anak-anak sekarang,” kata Renteria.
2. Mau belajar cara mengasuh anak yang lebih baik
Menjadi orang tua tidak selalu mudah, apalagi setiap anak memiliki karakter yang berbeda. Karena itu, penting bagi orang tua untuk terus belajar memahami kebutuhan emosional anak dan mencari pendekatan pengasuhan yang lebih efektif. Belajar dari buku parenting, psikolog anak, atau pengalaman orang tua lain dapat membantu seseorang lebih siap menghadapi tantangan dalam mengasuh anak.
Saat orang tua memiliki lebih banyak pemahaman, mereka juga cenderung lebih tenang dalam merespons perilaku anak.
3. Mendengarkan dan memerhatikan anak
Anak sering mencoba membangun koneksi dengan orang tua melalui cerita sederhana, permainan, atau pertanyaan kecil sehari-hari. Meski terlihat sepele, respons orang tua terhadap momen-momen tersebut sangat penting bagi perkembangan emosional anak.
“Anak-anak selalu berusaha terhubung dengan orang dewasa melalui berbagi dan bermain,” ungkap Renteria.
Ketika anak merasa didengarkan dan diperhatikan, mereka akan merasa dirinya berharga. Perasaan inilah yang kemudian membantu membangun rasa aman dan percaya diri sejak dini.
4. Tidak langsung menganggap tantrum sebagai perilaku buruk
Tantrum sering membuat orang tua frustrasi. Namun, ledakan emosi pada anak sebenarnya bisa menjadi tanda bahwa mereka sedang kewalahan menghadapi perasaan yang belum mampu diungkapkan dengan baik. Daripada langsung memarahi anak, orang tua dapat mencoba memahami apa yang sebenarnya dirasakan anak saat itu. Dengan pendekatan yang lebih tenang dan empatik, anak akan belajar bahwa emosi adalah hal yang wajar dan bisa disampaikan tanpa rasa takut.
5. Peka terhadap emosi anak
Anak tidak selalu mampu menjelaskan perasaannya lewat kata-kata. Karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap ekspresi wajah, bahasa tubuh, atau perubahan perilaku anak. Kepekaan ini membantu orang tua memahami kapan anak merasa sedih, kecewa, takut, atau membutuhkan dukungan emosional. Saat anak merasa emosinya dipahami, mereka biasanya lebih mudah merasa aman dan nyaman di rumah.
6. Mengajak anak bermain dan menikmati momen bersama
Bermain bersama bukan hanya aktivitas menyenangkan, tetapi juga menjadi cara penting untuk membangun kedekatan emosional dengan anak. Meluangkan waktu untuk tertawa, bermain, atau melakukan aktivitas sederhana bersama dapat membantu anak merasa dicintai dan diterima.
Selain memperkuat hubungan, kebiasaan ini juga membantu anak belajar mengekspresikan diri dengan lebih bebas dan percaya diri.
7. Memberikan kasih sayang secara konsisten
Anak membutuhkan rasa aman untuk tumbuh dengan baik. Salah satu cara membangunnya adalah dengan menunjukkan kasih sayang secara konsisten, baik lewat kata-kata maupun perhatian sederhana sehari-hari. Ucapan seperti “Ayah dan Ibu sayang kamu” atau pujian terhadap usaha anak dapat membantu mereka merasa dihargai. Ketika anak tumbuh dengan dukungan emosional yang positif, mereka cenderung lebih percaya diri, mampu mengelola emosi, dan merasa nyaman menjadi dirinya sendiri. (des)***











