Terkait Naiknya Harga BBM, Akademisi Majalengka Menilai Gejala 98 Mulai Tampak

WhatsApp Image 2026 06 14 at 05.16.42 1
Rektor Universitas Majalengka (Unma), Otong Syuhada, (Foto: Herik Diana).

ZONALITERASI.ID – Naiknya harga bahan bakar minyak untuk jenis Pertamax, hingga menimbulkan turunnya aksi para mahasiswa di Bunderan HI, Jakarta, pada Jumat, 12 Juni 2026, membuat akademisi di Kabupaten Majalengka angkat bicara.

Salah satu akademisi, Otong Syuhada, yang saat ini menjabat Rektor Universitas Majalengka (Unma), mengatakan, kenaikan harga Pertamax dan fenomena lainnya yang terjadi di masyarakat dalam enam bulan hingga satu tahun terakhir ini adalah menurunnya daya beli.

“Jika situasi ini tak bisa dikendalikan, maka tak menutup kemungkinan harga-harga akan meningkat. Yang terdampak adalah kelas menengah, yang lebih parah, bisa jadi banyak pekerja yang terkena PHK,” ujarnya, saat dimintai tanggapannya perihal situasi terkini, Sabtu, 13 Juni 2026.

Pria yang akrab disapa Otsu ini menambahkan, dampak yang semakin meluas ini yang paling terdampak yakni masyarakat kelas menengah. Mengingat para pekerja di bidang industri maupun kantor swasta dan negeri termasuk dalam kategori kelas menengah.

“Sementara kebutuhan keluarga kelas menengah ini cukup banyak. Salah satunya, mereka punya anak-anak yang sedang study di perguruan tinggi, ” ucapnya.

Jika kondisi harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik, maka kelas menengah dikhawatirkan akan semakin kebingungan mengatur keuangan, termasuk dalam hal mengatur biaya pengeluaran untuk pendidikan anak-anaknya.

“Kita berharap ke depannya situasi semakin membaik. Tapi saya melihat gejala 98 itu situasi dan kondisinya sudah terasa. Cuma kita berdoa, jangan sampai hal itu terulang lagi, ” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan akademisi lainnya, E. Mulya Syamsul. Dekan Fakultas Agama Islam Unma ini mengatakan, kenaikan harga BBM jenis Pertamax justru akan semakin menyulitkan para petani di pedesaan.

“Sebab para petani yang tinggal di pegunungan itu, mayoritas membeli Pertamax yang dijual di kios Pertamini, sebab kalau ke SPBU jaraknya cukup jauh, ” ucapnya.

Syamsul menambahkan, BBM jenis Pertalite tidak dijual di jalur-jalur pedesaan maupun gang-gang sempit pedesaan. Sementara masyarakat petani lebih memilih bertindak cepat dan simpel dengan memilih yang paling dekat.

“Jika petani di desa sudah menggunakan BBM yang mahal, maka harga sayuran yang mereka angkut sudah dipastikan akan naik juga harganya, ” ucapnya. (Herik Diana)***