ZONALITERASI.ID – Banyak orang tua mengandalkan teguran keras atau bentakan sebagai cara cepat untuk menghentikan perilaku anak yang dianggap bermasalah.
Namun, pendekatan ini sering kali hanya memberikan efek sementara dan bahkan dapat memperburuk situasi dalam jangka panjang.
Dalam pendekatan analisis perilaku terapan, perubahan perilaku tidak cukup hanya dengan menghentikan tindakan yang tidak diinginkan.
Fokus utama justru terletak pada bagaimana mengganti perilaku tersebut dengan alternatif yang lebih adaptif.
Tanpa penggantian yang jelas, anak cenderung kembali pada kebiasaan lama karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi.
Dirangkum dari Psychology Today, Senin, 15 Juni 2026, berikut pendekatan yang lebih sistematis serta berbasis bukti untuk membantu Anda membentuk perilaku anak secara lebih efektif dan berkelanjutan.
1. Memahami Makna Hukuman secara Tepat
Hukuman sering dipersepsikan sebagai tindakan keras yang menyakitkan atau menekan anak.
Padahal, dalam perspektif ilmiah, hukuman adalah segala konsekuensi yang mampu menurunkan kemungkinan suatu perilaku terulang kembali.
Dengan kata lain, hukuman tidak harus berupa kemarahan atau tindakan ekstrem.
Masalah muncul ketika orang tua mencampuradukkan hukuman dengan respons emosional seperti membentak atau mengisolasi anak.
Respons tersebut memang dapat memberikan efek instan, tetapi tidak selalu efektif dalam jangka panjang.
Bahkan, dalam banyak kasus, perilaku anak justru semakin intens karena tidak ada perubahan mendasar yang terjadi.
Selain itu, bentakan sering memberikan “kepuasan emosional” bagi orang tua karena mampu meluapkan stres.
Tanpa disadari, hal ini memperkuat kebiasaan membentak itu sendiri.
Akibatnya, pendekatan yang kurang efektif terus digunakan berulang kali.
2. Mengganti Perilaku, Bukan Sekadar Menghentikan
Setiap perilaku anak memiliki fungsi tertentu, seperti mencari perhatian, menghindari tugas, atau mengekspresikan emosi.
Jika Anda hanya berfokus menghentikan perilaku tanpa memahami fungsinya, maka solusi yang diberikan cenderung tidak tepat sasaran.
Strategi yang lebih efektif adalah menemukan perilaku pengganti yang dapat memenuhi kebutuhan yang sama, tetapi dengan cara yang lebih positif.
Misalnya, jika anak berteriak untuk mendapatkan perhatian, Anda dapat mengajarkan cara meminta perhatian dengan berbicara secara sopan.
Ketika perilaku pengganti tersebut diberikan respons positif secara konsisten, anak akan belajar bahwa cara baru tersebut lebih menguntungkan.
Secara perlahan, perilaku lama akan berkurang karena tidak lagi memberikan hasil yang diharapkan.
3. Mengubah Cara Merespons secara Konsisten
Perubahan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh konsistensi respons orang tua.
Oleh karena itu, Anda perlu menentukan terlebih dahulu perilaku pengganti yang diinginkan, lalu mengajarkannya melalui contoh yang jelas dan sederhana.
Langkah berikutnya adalah memberikan dorongan pada saat situasi yang biasanya memicu perilaku negatif muncul.
Pada momen ini, Anda dapat mengarahkan anak untuk menggunakan perilaku pengganti yang telah diajarkan.
Respons yang tenang dan terarah jauh lebih efektif dibandingkan reaksi emosional.
Terakhir, berikan apresiasi secara konsisten ketika anak menunjukkan perilaku yang diharapkan, baik saat diarahkan maupun secara spontan.
Perhatian positif yang berkelanjutan akan memperkuat kebiasaan baru tersebut, sehingga secara alami menggantikan perilaku lama yang tidak diinginkan. ***
Sumber: JawaPos.com











