Oleh Suheryana Bae
PAGI itu aku baru saja menyelesaikan olahraga ringan. Tubuh terasa lebih segar, udara bersih, dan suasana begitu tenang. Sambil mendengarkan alunan musik, aku membaca sebuah puisi karya Al Imam Asy-Syafii.
*”Apa yang ditakdirkan, hai diri,*
*sabarlah engkau menerimanya.*
*Dan engkau aman dari yang tidak ditakdirkan.*
*Dan yakinlah bahwa yang telah ditakdirkan*
*itu pasti terjadi atas diri engkau,*
*baik engkau sabar ataupun tidak sabar.”*
Aku membacanya berulang-ulang. Semakin dibaca, semakin terasa bahwa puisi pendek ini menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada jumlah kata-katanya. Tidak sekadar berbicara tentang takdir, melainkan juga tentang hubungan manusia dengan kenyataan hidup. Tentang bagaimana seseorang menyikapi sesuatu yang tidak dapat diubah.
Di zaman sekarang, nasihat Al Imam Asy-Syafii terdengar sederhana, bahkan mungkin dianggap kuno. Kini kita hidup dalam budaya yang mengagungkan kecepatan, pencapaian, dan kendali. Sejak kecil kita diajarkan bahwa segala sesuatu dapat diraih jika mau bekerja keras. American Dream menjadi simbol keyakinan bahwa siapa pun dapat mencapai apa saja melalui usaha dan kerja keras. Teknologi membuat manusia merasa mampu mengendalikan hampir semua hal. Berbagai kebutuhan –informasi dan komunikasi–dapat dipenuhi hanya dengan sentuhan jari.
Namun di balik semua kemajuan itu, ada kenyataan yang tidak berubah sejak ribuan tahun lalu. Manusia tetap tidak mampu mengendalikan keseluruhan hidupnya.
Kita dapat merencanakan banyak hal, tetapi tidak semua rencana menjadi kenyataan. Kita dapat menjaga kesehatan, tetapi tidak dapat menjamin tubuh terhindar dari penyakit. Kita dapat mencintai seseorang dengan tulus, tetapi tidak dapat memaksa seseorang menemani hidup kita. Kita dapat bekerja keras sepanjang hidup, tetapi tidak dapat memastikan hasilnya.
Di sinilah pentingnya kesabaran.
Kesabaran bukanlah sikap pasif yang membuat seseorang berhenti berusaha. Kesabaran juga bukan berarti menyerah. Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap tenang ketika kenyataan tidak berjalan sesuai keinginan. Kesabaran adalah kekuatan untuk terus melangkah tanpa dikuasai kemarahan, keputusasaan, atau kebencian.
Sering kali manusia menderita bukan karena kenyataan itu sendiri, melainkan karena penolakannya terhadap kenyataan. Kita ingin hidup berjalan sesuai rencana. Kita ingin orang lain bersikap seperti yang kita harapkan. Kita ingin keadaan berubah secepat kilat. Ketika semua itu tidak terjadi, kita merasa kecewa, marah, dan terluka.
Padahal kehidupan memiliki caranya sendiri.
Banyak peristiwa yang tidak dapat dipercepat ataupun diperlambat. Musim berjalan sesuai siklusnya. Kehilangan harus diterima. Kegagalan harus dihadapi. Ada luka yang hanya dapat disembuhkan oleh waktu. Dalam keadaan seperti itulah kesabaran menjadi kebijaksanaan tertinggi.
Kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan diri. Kesabaran adalah kemampuan memahami batas-batas manusia. Lahir ketika seseorang menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya. Ada wilayah usaha yang menjadi tanggung jawab manusia, tetapi ada pula wilayah takdir yang berada di luar kuasanya.
Kesadaran inilah yang menghadirkan ketenangan. Seseorang tetap bekerja keras, terus berusaha, dan senantiasa memperbaiki diri, tetapi hasil akhirnya diserahkan kepada Yang Mahakuasa. Ia melakukan yang terbaik, lalu menerima apa pun ketentuan-Nya dengan lapang dada.
Karena itulah tradisi spiritual dan para bijak sejak dahulu begitu menghargai kesabaran. Mereka memahami bahwa hidup selalu berisi berbagai kemungkinan, dan sebagian di antaranya tidak sesuai dengan harapan manusia. Tanpa kesabaran, manusia akan dipenuhi kekecewaan dan tidak dapat berdamai dengan kenyataan.
Zaman modern justru membuat kesabaran semakin langka. Persaingan yang ketat membuat banyak orang merasa harus selalu berhasil. Kehidupan perkotaan menghadirkan keterasingan, kecemasan, dan tekanan yang tidak ringan. Media sosial membuat orang terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, banyak orang merasa gagal hanya karena hidupnya tidak berjalan secepat atau seindah kehidupan yang mereka lihat di layar.
Dalam kenyataannya, kesabaran adalah kekuatan yang luar biasa. Sama seperti manusia lainnya, orang yang sabar tetap bisa terluka, bersedih, atau menderita. Namun mampu menjaga dirinya agar tidak hancur oleh keadaan yang tidak dapat diubah. Ia tidak membiarkan kesedihan berubah menjadi keputusasaan atau kegagalan berubah menjadi alasan untuk berhenti melangkah.
Ketika membaca puisi Al Imam Asy-Syafii itu, kita diingatkan bahwa sebagian besar kegelisahan manusia lahir dari keinginan untuk menguasai sesuatu yang sebenarnya tidak dapat dikuasai. Kita ingin memastikan masa depan, menghindari kehilangan, menolak perubahan, dan terbebas dari penderitaan. Padahal semesta tidak pernah memberikan jaminan apapun.
Yang dapat dilakukan manusia hanyalah menjalani perannya sebaik mungkin. Berusaha ketika harus berusaha. Berjuang ketika harus berjuang. Memperbaiki kesalahan ketika memungkinkan. Dan ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat diubah, menerimanya dengan kesabaran.
Penting dipahami bahwa kesabaran bukanlah menyerah kepada keadaan. Kesabaran adalah cara berdamai dengan kehidupan. Kesabaran bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kedewasaan. Sebab orang yang sabar memahami bahwa tidak semua yang diinginkan harus dimiliki, tidak semua yang hilang harus diratapi, dan tidak semua yang ditakdirkan dapat ditolak.
Barangkali itulah makna terdalam dari puisi Al Imam Asy-Syafii. Apa yang telah ditakdirkan akan tetap terjadi, baik kita sabar maupun tidak sabar. Jika demikian, mengapa tidak memilih bersabar?
Bukankah hidup akan terasa lebih ringan ketika dijalani dengan hati yang menerima, dengan kepasrahan yang lahir dari keyakinan bahwa Yang Mahakuasa mengetahui apa yang tidak kita ketahui, serta mengatur apa yang tidak mampu kita atur. ***
Suheryana Bae, Kolumnis.











