Anak Penjual Sayur Keliling Raih Beasiswa S3 di Luar Negeri

649a62658aa13
Jepri Ali Saipul, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris di UM Surabaya yang memiliki orang tua berprofesi sebagai tukang sayur keliling menyelesaikan studi S3 doktor College of Social Sciences, National Sun Yat-Sen University Taiwan, (Foto: UM Surabaya).

ZONALITERASI.ID Kisah inpiratif datang dari anak muda bernama Jepri Ali Saipul, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya). Pria yang memiliki orang tua berprofesi sebagai tukang sayur keliling ini baru saja menyelesaikan studi S3 doktor College of Social Sciences, National Sun Yat-Sen University Taiwan. Jepri mengambil Prodi International Graduate Program of Education and Human Development (IGPEHD).

Ya, perjalanan pendidikan Jepri untuk meraih titel doktor terbilang mulus. Pada tahun 2020 Jepri berhasil mendapatkan beasiswa s3 secara penuh dari Kementrian Pendidikan Taiwan untuk berkuliah selama 4 tahun. Namun, tak menunggu 4 tahun, ia berhasil lulus lebih cepat selama 3 tahun dengan IPK sempurna 4,00.

Namun, di balik kesuksesannya di bidang akademik, Jepri memiliki perjalanan hidup yang tidak mudah. Menurutnya, ada banyak masa sulit yang harus ia lewati.

Jepri mengaku sejak kecil ibunya hanya penjual sayur keliling dengan penghasilan Rp20.000 – Rp30.000 yang kadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara ayahnya bekerja sebagai pembantu di toko di Surabaya.

Dia menyebutkan, saat masih duduk di bangku SD bukan anak yang juara di kelas. Namun dia meyadari, dirinya memiliki keingintahuan yang tinggi untuk terus belajar dan mempelajari hal-hal baru.

“Saya baru menemukan pola belajar yang baru saat duduk di bangku SMP. Saat itu, saya selalu menjadi yang terbaik di kelas dan menjadi ranking 1,” ucapnya, mengutip laman UM Surabaya, Kamis, 6 Juli 2023.

“Pola belajarnya waktu itu setelah selesai membaca, saya coba buat pertanyaan yang ditulis dan saya jawab secara langsung, dan itu saya bawa saat aktivitas sehingga tidak mudah lupa. Dan itu saya terapkan hingga SMA sehingga saya konsisten menjadi juara kelas,” sambungnya.

Jepri mengaku saat bersekolah di SMK PGRI 1 Jombang, dirinya tidak pernah membayar. Pasalnya, dia mendapatkan beasiswa BOS dan prestasi dari sekolah. Pada saat SMK itulah cita-citanya terbentuk. Jepri ingin menjadi pendidik Bahasa Inggris.

Jadi Sarjana Pertama di Keluarga

Jepri menuturkan, dirinya menjadi Sarjana (S1) pertama di keluarganya. Karena, bapak dan ibunya hanya lulusan SD dan kedua kakaknya sekolah hanya sampai SMA.

Dia menuturkan, saat akan masuk perguruan tinggi jalannya tidak langsung mudah. Sebagai orang yang tidak mampu dan ingin berkuliah, dia hanya bermodalkan nekat. Di Surabaya Jepri dititipkan kepada Pakdhe atau yang menjadi saudara ibunya. Keinginan Jepri untuk mengenyam sekolah hingga perguruan tinggi membuat orangtuanya harus berusaha lebih keras.

“Waktu itu saya dua kali gagal ditolak kampus negeri, tidak pantang menyerah, akhirnya saya mendaftar Pendidikan Bahasa Inggris di UM Surabaya dan diterima. Pagi saya kuliah sampai siang, lanjut organisasi. Sore hingga malam saya ngajar les di LBB,” jelasnya.

Dari penghasilan les tersebut, Jepri gunakan untuk memenuhi kebutuhan di Surabaya. Sementara gaji bapaknya digunakan untuk membayar kuliah.

Tak hanya menjadi mahasiswa biasa saja, saat kuliah di UM Surabaya pada tahun 2014, Jepri pernah terpilih menjadi salah satu dari 100 pemuda ASEAN yang mengikuti kegiatan Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) di Kuala Lumpur Malaysia yang diselenggarakan Departemen Luar Negeri di bawah inisiatif Presiden Barack Obama.

Tak hanya itu, pada tahun 2013, dia juga terpilih menjadi salah satu dari 100 ASEAN Youth Eco Leaders yang diselenggarakan oleh National University of Malaysia yang dilaksanakan selama lima minggu.

Dapat Beasiswa LPDP untuk Kuliah S2 

Saat lulus dari UM Surabaya, Jepri langsung bekerja di UM Surabaya di bagian Kantor Urusan Internasional. Hal itu karena kemahirannya dalam berbahasa inggris, sehingga dia langsung diminta bekerja di kampus.

Tak berhenti untuk terus belajar, Jepri mendapatkan beasiswa dari LPDP di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada 2016. Jepri mengambil Jurusan Linguistik Terapan. Jepri juga meriah IPK cumlaude, yakni 3,95. Setelah lulus studi S2, pada tahun 2018 Jepri kembali ke kampus dan menjadi Dosen di UM Surabaya.

Lalu, pada tahun 2020 Jepri kembali melanjutkan studi doktor. Rupanya sebelum dia memilih National Sun Yat-Sen University Taiwan, Jepri juga telah diterima di beberapa kampus luar negeri lainnya, yakni University of Sydney Australia, University of New South Wales, Australia, University of Leeds, United Kingdom, dan National Dong Hwa University, Taiwan.

“Saya memilih National Sun Yat-sen University Taiwan karena beasiswa yang diberikan secara penuh,” ungkap dia.

Sebagai mahasiswa S3 yang lulus lebih cepat, Jepri juga telah publikasi 5 artikel jurnal terindeks Scopus Q1 dan SSCI, workshop, summer course, konferensi internasional di berbagai negara, seperti di Faculty of Education, University of Cambridge, UK.

“Be yourself, be progressive. Menjadi diri sendiri, yakni pribadi yang berprinsip dan mau terus belajar dan berkembang,” pungkas Jepri. (des)***

Respon (33)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *