Oleh Nunu A. Hamijaya
BADAK putih, yang patungnya ditemukan di Kota Bandung dan diabadikan menjadi logo Kodim 0608 Cianjur dan nama lokasi lapangan bola mengusik pertanyaan, benarkah ada spesies badak berwarna putih?
Keberadaan ‘badak putih’ diperoleh dari sumber Babad Cibalagung. Babad Cibalagung tersebut mengisahkan bahwa badak putih yang ngamuk berasal dari Kesultanan Cirebon. Bagaimana spesies ‘badak putih’ mungkin sampai ke tanah Jawa?
Di Cianjur pun dikenal sebutan ‘badak Cihea’, berasal dari daerah Cihea, Gununghalu, Haurwangi, Ciranjang Cianjur. Bahkan menjadi semacam babasan, ‘kawas badak Cihea’. Artinya: dibasakeun ka jalma nu keur leumpang dieureunkeun teu daékeun tapi terus bablas baé, jadi jelema kurang ajar (seseorang yang berjalan tidak melihat kiri-kanan meskipun dipanggil-panggil, terus berjalan ke depan).
Badak Sunda, yang lebih dikenal sebagai badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) memiliki kulit berwarna abu-abu gelap hingga kehitaman. Badak Sunda adalah spesies badak Asia bercula satu, yang kini hanya ditemukan di Taman Nasional Ujung Kulon. Saat ini berstatus sangat terancam punah dan habitat aslinya hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Populasi pada 2024 diperkirakan hanya sekitar 81–100 individu. Badak sumbu, badak Sunda, atau badak bercula satu yang termasuk famili Rhinocerotidae dan merupakan salah satu dari lima spesies badak yang masih ada.
Badak Sunda adalah hewan herbivora yang gemar memakan dedaunan. Si pemilik nama Rhinoceros sondaicus ini banyak diburu untuk mendapatkan culanya yang konon berkhasiat sebagai obat. Padahal, menurut penelitian di Ohio University, cula badak tidak memiliki khasiat apapun karena hanya terdiri dari zat Keratin.
Hingga akhir abad ke-19, penduduk Bandung masih bisa melihat badak Jawa (Rhinoceros sondaicus). Itu mengapa muncul nama Rancabadak, tempat berkubang atau mandi badak. Ranca dalam bahasa Sunda artinya rawa. Haryoto Kunto dalam bukunya, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, juga menceritakan pada 1866, masyarakat sering melihat kawanan badak berkeliaran di Cisitu, daerah yang tak jauh dari kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) saat ini. Pada masa itu, Bandung masih penuh hutan belukar yang berpaya-paya. Badak dan harimau sering memasuki daerah permukiman penduduk.
Hari Badak Sedunia
Mengingat arti pentingnya badak, maka setiap tanggal 22 September diperingati sebagai Hari Badak Sedunia. Bersumber dari worldanimalprotection.org, Hari Badak Sedunia merupakan hari yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran tentang badak. Faktanya, badak termasuk hewan yang sangat terancam punah, sehingga perlu dilindungi keberadaannya oleh semua orang.
Menurut International Rhino Foundation, saat ini, hanya terdapat lima spesies badak yang tersisa di dunia dengan jumlah kurang lebih 27.000 individu. Itu adalah badak hitam, badak putih, badak Sumatra, badak Jawa, dan badak bercula satu besar.
Setiap spesies badak memiliki penampilan yang sedikit berbeda. Namun yang jarang diketahui banyak orang yaitu jenis bibir badak menyesuaikan jenis makanan mereka. Badak hitam yang memakan tumbuhan memiliki bibir runcing seperti kait, fungsinya untuk mencari daun dari semak-semak dan pepohonan. Badak putih pemakan rumput punya bibir persegi, untuk memudahkan mencari makanan di tanah. Sementara itu, badak Sumatra memiliki bulu lebat di telinga dan tubuhnya, serta menjadi satu-satunya badak bercula dua di Asia. Badak Sunda/Jawa dikenali dari lipatan kulitnya yang menyerupai lapisan pelindung.
Badak Sumatra merupakan spesies badak terkecil di dunia. Sebagai badak terkecil di dunia, ukuran tubuh badak Sumatra hanya berkisar antara 600 hingga 1.000 kg. Padahal, rata-rata berat badak mencapai 2.500 kilogram.
Habitat Badak Putih
Badak putih (Ceratotherium simum) adalah salah satu dari lima spesies badak yang masih ada dan salah satu dari sedikit spesies megafauna yang tersisa. Berdasarkan informasi ilmiah, jenis badak putih berasal dari Afrika dan hampir mengalami kepunahan. Salah-satunya adalah Badak Putih Utara merupakan subspesies yang tersebar di beberapa wilayah Afrika.
Badak putih utara sempat dikira punah pada akhir abad ke 19. Tapi pada 1895, sebagian kecil badak ditemukan di Afrika Selatan pada 1895. Sebuah studi pada 1979 dan 1986 mengungkapkan populasi badak putih berjumlah 50 ekor. Badak putih utara rata-rata berusia 27 hingga 30 tahun di dalam penangkaran. Sedangkan di alam liar usianya bisa mencapai 39 sampai 43 tahun. Ukurannya bisa mencapai 3,6 meter dengan berat 3,5 ton. Mengutip situs WWF, ternyata nama badak putih utara atau Nothern White Rhino bukan merujuk pada arti warna putih, akan tetapi berdasarkan bahasa Belanda dari ‘wijde’ yang berarti lebar.
Salah Arti: Wijde (Belanda) menjadi White (Inggris)
Hutan sabana Afrika menjadi habitat penting bagi ribuan spesies satwa, termasuk badak putih dengan sebaran alami di Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Kenya, dan Uganda. Meskipun disebut badak putih, satwa darat terbesar kedua setelah gajah ini justru tidak berwarna putih. Nama tersebut diyakini muncul dari kesalahpahaman istilah Belanda wijde yang berarti lebar. Warna kulit satwa ini sebenarnya abu-abu. Penamaan tersebut berasal dari kata Afrikaans wijde yang berarti lebar, merujuk pada bentuk mulutnya, dan bukan warna kulitnya. Kesalahan penerjemahan ke dalam bahasa Inggris membuat kata wijde disalahartikan sebagai white.
Badak putih merupakan mamalia darat dari keluarga Rhinocerotidae dengan nama ilmiah Ceratotherium simum. Saat ini, terdapat dua subspesies badak putih yang tercatat, yaitu badak putih selatan (Ceratotherium simum simum) dan badak putih utara (Ceratotherium simum cottoni).
Sayangnya, badak putih utara telah dinyatakan punah secara fungsional sejak tahun 2018. Kondisi ini terjadi karena hanya tersisa dua individu betina di dunia, sehingga tidak memungkinkan lagi terjadinya perkembangbiakan alami.
Menurut International Rhino Foundation, badak putih merupakan spesies badak dengan populasi terbanyak dibandingkan empat spesies badak lainnya. Saat ini, jumlah populasinya diperkirakan mencapai 17.464 individu yang tersebar di 11 negara di Afrika, dengan konsentrasi terbesar berada di Afrika bagian selatan.
Dengan demikian, sebenarnya ‘badak putih’ yang disebut oleh masyarakat Sunda, dengan berbagai mitosnya bukanlah badak berwarna putih, akan tetapi badak Sunda (Jawa) yang berwarna abu-abu kehitaman. Jika pun dimaksud adalah spesies ‘badak putih Afrika’ (Ceratotherium simum) bagaimana dan dengan cara bagaimana sampai ke Tatar Sunda? Jadi, badak putih yang dimaksud sebenarnya adalah badak Sunda. Apakah ‘patung badak putih’ harus diganti warnanya menjadi abu-abu sebagaima seharusnya? ***
PPS Bandung, 30 Maret 2026
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.











