Dari Achdiat K. Miharja: dari “Atheis” (1949) ke Manifesto Khalifatullah (2005)

achdiat karta mihardja c4668855 74c8 41e0 ba35 f2e5139c48d resize 750
Achdiat K. Miharja, (Foto: Istimewa).

Oleh Nunu A. Hamijaya

Inni Jaailun fil ardhi kholifah

(QS al Baqoroh : 30)

 Jagalah pikiranmu, karena itu benih kehidupanmu.

Kita adalah arsitek dari takdir kita sendiri.

 Segala hal besar dimulai dari pikiran kecil yang dijaga dengan konsisten.Maka, jika ingin hidup berubah, ubahlah cara berpikirmu terlebih dahulu. Sebab, pikiran hari ini adalah nasibmu di masa depan.

Mengenang Aki ACHDIAT Sang KHALIFATULLOH

KELUARGA besarnya memanggil AKI Achdiat, sejak beliau tinggal di Cambera (1961) hingga wafatnya 8 /6/ 2010  usia  99 tahun. Generasi  lahir 90-an dan G-Z , saya tidak yakin  mereka kenal siapa itu Achdiat Karta Mihardja atau  Achdiat K. Miharja, (Menak Cibatu, Garut, 6 Maret 1911-8 Juli 2010). Tokoh  sastrawan ini biasanya dibicarakan dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Mengapa saya menulis tentang beliau? Pertama, secara kesamaan nama ACHDIAT, rupanya punya sejarah tersendiri. Namaku Nunu Achdiat. Kata ayah almarhum  (Husen Hamijaya, 1937-2007), alasan  diberi nama itu karena novelnya ATHEIS (1949) menginspirasi  pemberian  namaku. Kedua, karyanya terakhir menjadi titik balik dari pencarian spiritulitasnya dari  ‘Atheis’  ke  ‘Manifesto khilafatulloh’.

Pertama kali membaca novel  “Atheis”, saat di  SMA (1985/1986). Dalam statusku sebagai mahasiswa IKIP (Diksatrasia,1986), maka  novel ini  menjadi bacaan wajib untuk kajian sastra. Novel Atheis (1949)  bercerita tentang  kegundahan spiritual seorang pemuda bernama  HASAN yang hidup pada masa perang ‘isme’ (Islam dan Komunisme) di Perang Dingin, yang kemudian mengkritisi dogma-dogma agama yang dianggap mengekang kebebasan berpikir. Karya novel ini kemudian ditafsirkan atau bahkan menurut Aki, ‘disalahartikan’ oleh banyak pembacanya sebagai cerminan dari keyakinan Aki sendiri. Kesalahan ini juga sempat dilakukan oleh putranya sendiri.

Novel Atheis menarik perhatian para pakar sastra. A. Teeuw dalam Sastra Baru Indonesia (1970). Demikian juga Ajip Rosidi dalam Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia (1969). Boen S. Oemarjati menerbitkan buku Satu Pembicaraan Roman Atheis (1992) dan menunjukkan analisis tajam tentang novel itu. Soekono Wiryosudarmo (Sastra Indonesia Modern: Pengantar ke Arah Studi Sastra (1985) dan Jakob Sumardjo (Lintasan Sastra Indonesia Modern I (1992) mengulas keunggulan Achdiat dengan novelnya itu.

Cucunya tentang Atheis-nya Aki Achdiat

Dalam penuturan cucunya, Hikmawan Saefullah, “Kebanyakan orang salah paham dengan tulisan Aki…”, tegasnya ketika saya bersilaturahmi ke rumah Aki yang berlokasi di Millen St., Hughes, Canberra pada tahun 2007. “Aki itu bukan Atheis, Aki percaya dengan adanya Tuhan”, tegasnya. Dengan rawut wajahnya yang sudah tua, keriput, dan kondisi tubuh yang rapuh, lalu Aki dengan nada tegas dan bersemangat berkata lagi, kali ini sambil mengangkat jari telunjuknya ke langit.

Menulis “Manifesto Khalifatullah

Achdiat dalam usia 94 tahun masih tetap berkarya. Tahun 2005 ia menerbitkan buku yang menurutnya adalah kisah panjang yang berjudul MANIFESTO KHALIFATULLAH. Nur Mursidi menyatakan, jika dalam Atheis, Achdiat menghadapkan paham komunisme dengan Islam dan si tokoh utama, Hasan, berada dalam tebing skeptisisme, dalam Manifesto Khalifatullah Achdiat menghadapkan sekularisme dengan Islam. Achdiat dalam Manifesto Khalifatullah tegas  mengatakan bahwa manusia adalah wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi, bukan wakil setan. Tampaknya Atheis ataupun Manifesto Khalifatullah merupakan kisah hidup Achdiat dalam pengembaraan spriritual.

Buku  karya Achdiat K. Mihardja, Penerbit Arsy PT Mizan Pustaka, 219 halaman ini ditulis Aki dalam usinya lebih dari  90 tahun ( 2005) dengan keadaan mata  yang nyaris buta, karena katarak dan glaucoma.Namun, kondisi ini tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berkarya di akhir-akhir hidupnya.

Aki Achdiat  (lahir 6 Maret 1911), dalam usia yang hampir satu abad, hadir dengan novel terbarunya, Manifesto Khalifatullah (Mizan, 2005), sebuah novel  gagasan yang mengingatkan pada magnum opus, Mohammad Iqbal, “Javid Namah”. Berbeda  dengan dua novel sebelumnya, di sana kita seperti kehilangan tokoh Hasan yang peragu (Atheis, 1949) atau tokoh Rivai yang diterjang godaan berbagai problem cinta (Debu Cinta Bertebaran, 1973; 2004). Dalam Manifesto Khalifatullah, sikapnya lebih tegas dan lugas. Itulah  estetika yang diusungnya, sekaligus sebagai representasi perkembangan pemikirannya.

Pada peluncuran Manifesto Khalifatullah, sebuah novel bertema agama, Achdiat menyatakan bahwa itu merupakan “balasan atas Atheis” setelah dia menyadari bahwa “Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi wakil-Nya di Bumi, bukan Setan”.

jika dikisahkan dalam bentuk singkat, buku ini menggambarkan sosok manusia yang pada awalnya menafikan keberadaan Tuhan. Ia melalaikan dan hanya percaya dengan kekuatan alam dan kekuatan dirinya sendiri; tidak ada yang dari Tuhan. Namun pada akhirnya seiring dengan berjalannya waktu dan pengalaman hidup yang makin memperkaya pikiran, ia pun berpikir tentang adanya Tuhan; Tuhan benar-benar ada! Seperti yang dialami Jean Paul Sartre (tokoh dalam buku Understanding Secular Religions dari Josh McDowell & Don Stewart), tokoh besar paling terkemuka dari kaum eksistensialis yang ateis itu, pada saat-saat terakhir hari tuanya dalam keadaan renta dan buta pula, telah berterus terang kepada seorang temannya, Pierre Victor yang mantan penganut Mao Tze Tung, bahwa segala-galanya yang ada di dunia ini mesti ada penciptanya. Dan penciptanya itu adalah Tuhan.

Dalam buku ini, Aki mengajak kita mengenali pemikiran orang-orang sekuler, seperti Adam Smith dan Francis Bacon. Prinsip duniawi yang dikenalkan Adam Smith ada 3 yaitu :
1. self interest (mementingkan diri sendiri),
2. competition (persaingan),
3. survival of the fittest (yang kuat yang menang).

Lalu Francis Bacon berprinsip knowlegde is power dalam hal ini pengetahuan manusia merupakan kekuatan tanpa mempedulikan kekuasaan Tuhan.

Dalam salah satu adegan dalam buku ini yang menarik adalah ketika terjadinya debat kusir antara Aki  Achdiat dengan salah seorang dari Amerika yang menyatakan bahwa dia sekuler dan dia menertawakan Pancasila yang mengutamakan ke-Tuhanan namun negaranya korup. Sedangkan Aki Achdiat menjelaskan bahwa sila ke-Tuhanan inilah yang terpenting  dari berdirinya Indonesia. Orang yang menganggap dirinya  sekuler terutama dengan acuan negara barat menganggap bahwa pencipta itu adalah alam, tidak ada Tuhan jika pun ada maka tidak berpengaruh terhadap manusia.

Para tokoh komunispun sempat bertemu dengan Aki Achdiat di antaranya Karl Marx, Engels, dan Lenin. Mereka berpendapat bahwa Tuhan telah meninabobokan para orang miskin degan bayangan surga. Tuhan pun menurut mereka hanya bayangan yang diciptakan oleh manusia dalam mencari kebenaran. Jadi Tuhan yang diciptakan manusia, bukan manusia diciptakan Tuhan.

Menanggapi ketidakpercayaan pada Tuhan, Aki Achdiat memandap  4 hal penting yaitu 1. sadar bahwa manusia diciptakan Tuhan sebagai wakil-Nya di bumi. 2. sadar bahwa manusia harus bisa membaca alam. 3. sadar bahwa umat Tuhan harus menjalankan perintah-Nya. 4. Memanfaatkan kekuasaan dengan bijaksana.

Berkisah tentang   tokoh ‘aku’ yang dalam Kisah Panjang (kispan) –Achdiat yang sudah 43 tahun lebih tinggal di Australia ini lebih senang menyebutnya begitu—ini memiliki pengalaman hidup yang luar biasa. Dikisahkan ia banyak bertemu dengan penggagas utama aliran pemikiran ideology dunia seperti Sidharta Ghautama (yang ditemuinya pertama kali), Karl Max, Engelsm, Bacon, Adam, Smith, Nietzsche. Ia juga bertemu dengan Chairil Anwar, S.T Alisjahbana, Sanusi Pani, Sutan Syahrir.

Masing-masing tokoh tersebut juga saling bertemu dan mendiskusikan ide dan pemikiran mereka, bahkan diceritakan para pemikir tersebut sampai berdebat. Namun pada akhirnya ‘aku’ jatuh hati pada gagasan tokoh Abah Arifin, seorang kyai nyentrik dari Lembah Pasaduka yang mengaku sebagai MBS alias Manusia Biasa Saja. Abah Arifin yang memperkenalkan manifesto khalifatullah (penjelmaan manusia sebagai wakil Allah) kepada aku. Ia bercerita tentang kisah segitiga antara Allah-Manusia (Adam)-Iblis yang ada dalam QS. Al-Baqarah: 35, QS. Al-A’raf: 69, QS. Shad: 71. Dikisahkan iblis sangat menentang ketika diperintahkan untuk bersujud kepada manusia dan makin bertambah iri dengkinya ketika manusia ditunjuk sebagai khalifah di bumi sehingga ia memohon kepada Allah agar diizinkan untuk menggoda dan membelokkan jalan kelurusan manusia sebagai bentuk nyata dengkinya.

Terakhir dalam Kisah Panjangnya Achdiat mengungkapkan melalui tokoh aku;

‘Maka, bagiku orang kuat itu tiada lain dari orang yang kuat untuk menendang sang iblis dan setan-setannya sehingga mereka lari terbirit-birit ke ujung langit. Orang itu kuat karena keteguhan keyakinan dan imannya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia sadar akan tugasnya sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Dia pantang tunduk pada kemauan dan godaan iblis dan setan-setannya. Itulah dia, orang kuat, sang khalifatullah, wakil Tuhan di muka bumi ini! Emoh menjadi wakil setan!’ (Achiat K. Miharja, Manifesto Khalifatullah, Arasy: Juni 2005, hal. 178).

Menurut  Maman S.  Mahayana (2008), “ sebagai  novel gagasan, MK tidak hanya menegaskan sikap hidup seorang  Achdiat dalam memandang Indonesia dan hubungannya dengan berbagai ideologi di dunia, melainkan juga memberi begitu  banyak “PR” kepada generasi bangsa ini, bahwa tantangan global tidak dapat dianggap enteng. Ia berkaitan dengan berbagai usaha banyak pihak untuk menyelusupkan ideologinya agar bangsa ini masuk ke dalam barisannya.” ***

Kaum Al I’anah, 02/2/2026

Nunu A. HamijayaPusat Studi Sunda – Bandung.