ZONALITERASI.ID – Pada 2026, Forum Komunikasi Wartawan Santri (Forkowas) memasuki usia ke-14 tahun.
Dari segelintir orang, kini anggota organisasi yang berdiri pada 9 April 2012 ini mencapai hampir 40 wartawan. Mereka mayoritas telah tersertifikasi melalui Uji Kompetensi Wartawan (UKW).
Selain itu, pesatnya perkembangan Forkowas, tak hanya dirasakan oleh wartawan. Berawal dari sekadar ruang berkumpul dan “ngaliwet” para pemburu berita, Forkowas telah mengokohkan diri menjadi pilar informasi dan edukasi bagi warga Sumedang.
Ketua Umum Forkowas, Azis Abdullah, mengungkapkan, jauh sebelum memiliki struktur yang mapan, Forkowas adalah ruang rindu bagi para kuli tinta yang kerap melepas lelah setelah meliput di Gedung Negara atau DPRD Sumedang.
“Dulu kami hanya sebatas awak media yang aktif liputan di Sumedang, baik cetak, elektronik, maupun online. Kami sering kumpul-kumpul, mengetik berita sambil lesehan,” ujar Azis, dalam sebuah sesi podcast.
Memasuki usianya yang ke-14, Forkowas melakukan reposisi identitas yang semakin religius dan humanis dengan tajuk Forum Komunikasi Wartawan Santri.
Sisi spiritual ini dipertegas dengan pembentukan Majelis Taklim Bersatu (MTB) di bawah bimbingan ulama kharismatik Sumedang, K.H. M. Abdul Qodir Al-Manafi.
Turun ke Wilayah Perbatasan
Selain menampilkan sisi religius, Forkowas juga kerap aktif turun ke wilayah perbatasan yang sulit terjangkau untuk melakukan aksi bakti sosial dan diskusi publik.
Beberapa garapan Forkowas yang langsung bersentuhan dengan masyarakat, di antaranya
Literasi Digital Santri dan Klinik Informasi Desa.
“Program Literasi Digital Santri bertujuan membekali generasi muda pesantren dengan kemampuan literasi digital. Adapun untuk Klinik Informasi Desa, memberikan bimbingan teknis menulis dan pengambilan gambar bagi perangkat desa agar mampu mengelola saluran informasi mandiri,” sebut Azis.
Pencetak Wartawan Profesional
Prestasi membanggakan lainnya yang tak banyak diketahui publik adalah peran Forkowas sebagai “pencetak” wartawan profesional. Organisasi ini telah menjadi sekolah alam bagi banyak jurnalis yang memulai karier dari nol hingga akhirnya sukses berkiprah di media skala nasional, regional, maupun lokal.
Keberhasilan Forkowas menarik perhatian berbagai kalangan. Salah satunya disampaikan salah satu jurnalis senior.
Dalam testimoni bertajuk “Ini Soal Forkowas, Kata Insan Pers”, dia menekankan satu pesan kunci yaitu profesionalisme.
“Semoga semakin eksis, semakin profesional, dan tetap jaga kode etik jurnalis,” ujarnya, dalam unggahan video, Jumat, 27 Maret 2026.
Corong Aspirasi
Kata Azis, di tengah dinamika media digital yang kian deras, Forkowas akan tetap teguh, bukan sekadar wadah profesi, melainkan corong aspirasi.
“Kami akan terus menjaga kekompakan dan marwah profesi dengan satu prinsip utama, mengutamakan kepentingan masyarakat di atas segalanya,” ucapnya.
“Empat belas tahun Forkowas adalah bukti bahwa berita terbaik bukanlah yang sekadar mendapatkan klik terbanyak, melainkan yang mampu membawa perubahan nyata bagi mereka yang tak bersuara. Karena pada akhirnya, pena adalah pedang bagi ketidakadilan dan jembatan bagi harapan masyarakat,” pungkas Azis. (des)***











