Gadget Memperlambat Proses Perkembangan Anak

2585320180220136anak main gadget
Penggunaan gadget (handphone) dapat memperlambat proses perkembangan penggunaan gadget (handphone) oleh anak-anak, (Ilustrasi: RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat).

ZONALITERASI.ID – Pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr. Mira Irmawati, menekankan bahaya penggunaan gadget (handphone) oleh anak-anak, yang dapat memperlambat proses perkembangan. Bahkan, dia berpesan untuk tidak memberikan gawai kepada anak-anak hingga usia mereka 2 tahun.

“Pada usia 2 sampai 5 tahun, anak boleh memakai gawai dalam waktu terbatas, yakni tidak lebih dari 1 jam per hari,” kata Mira, dilansir dari Detik.com, Jumat, 10 Mei 2024.

“Dengan membatasi pemakaian gawai, para orang tua dapat mengisi perkembangan dengan kasih sayang dan stimulus yang mendukung keterampilan. Hal ini amat penting untuk mencapai aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan yang jadi pondasi awal kehidupan anak,” sambungnya.

Selanjutnya Mira menuturkan, anak membutuhkan stimulus untuk bisa berkembang. Pada umumnya stimulus berupa rangsangan, supaya anak mencapai kemampuan-kemampuan dalam aspek perkembangan. Sebagai contoh, anak membutuhkan stimulus berupa komunikasi dua arah untuk merangsang kemampuan sosial dan berbahasanya.

Mira menyayangkan perkembangan digital telah mengurangi stimulus ini. Dalam pengasuhan, sebagian orang tua kerap menyodorkan gawai atau gadget kepada anak.

“Memang benar, solusi mudahnya, ya, berikan saja handphone sebagai hiburan bagi anak. Pasti anak senang dan tidak rewel. Namun, ingat bahwa handphone itu tidak memberi stimulus apapun karena hanya komunikasi 1 arah. Anak itu justru perlu bermain dan mengobrol bersama bapak ibu,” tandasnya

Fondasi Kehidupan

Mira mengungkapkan, masa pertumbuhan dan perkembangan adalah momen yang amat krusial untuk setiap individu. Masa-masa tersebut merupakan fondasi kehidupan.

Secara khusus, dia menegaskan pentingnya pemantauan pada dua tahun pertama tumbuh kembang anak.

“Hingga umur 2 tahun, pertumbuhan dan perkembangan anak sangat pesat. Bahkan, otak anak umur 2 tahun sudah mencapai 60 hingga 80 persen seperti otak orang dewasa,” katanya.

Dia menerangkan, pemantauan terhadap pertumbuhan anak meliputi berat dan tinggi badan, sekaligus lingkar kepala.

“Pengukuran dan ukuran ideal sudah tertera dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Maka dia mengimbau kepada para orang tua untuk senantiasa membaca dan memperhatikan panduan di dalamnya dalam memantau tumbuh kembang anak,” ujarnya.

Selain pertumbuhan, lanjut Mira, orang tua juga perlu memantau perkembangan anak. Hal ini mencakup kemampuan motorik (tengkurap, duduk, berdiri, berjalan, memegang, dan menulis), kemampuan sosial (mengenali orang dan bergaul), juga kemampuan bicara dan berbahasa (mengoceh, berbicara, bercerita, serta memahami lawan bicara).

Dia mengaku sering mendapati orang tua yang mengeluh saat anaknya terlambat dalam beberapa aspek perkembangan. Tak jarang orang tua bingung atau bahkan berspekulasi buruk soal keterlambatan tersebut. Padahal, seharusnya orang tua kembali melihat ke akar masalahnya, yakni kenormalan pertumbuhan anak.

“Perkembangan berkaitan dengan pertumbuhan. Apabila ada masalah pada perkembangan, maka sebaiknya orang tua memperhatikan apakah aspek pertumbuhan anak sudah seluruhnya terpenuhi. Maka dari itu, selanjutnya Mira menegaskan pentingnya keseimbangan nutrisi dan stimulasi pada anak,” ucapnya. (des)***

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *