“Gelar Cai 2026”, Inisiasi Gerakan Menabung Air dari Rumah hingga Kampus

gelarcai3
Ruang Tepung Baraya Ekotani berfoto bersama saat melakukan aksi nyata kelestarian lingkungan di kawasan Ciparanje, Jatinangor, pada Minggu 5 April 2026, (Foto: Humas FTIP Unpad).

ZONALITERASI.ID Memperingati Hari Air Dunia, Ekotani Mandala menegaskan komitmennya terhadap kelestarian lingkungan melalui aksi nyata bertajuk “Gelar Cai 2026: Ruang Tepung Baraya Ekotani”.

Acara yang berlangsung pada Minggu, 5 April 2026 berfokus pada langkah strategis untuk mengembalikan fungsi lahan sebagai penyerap air alami di kawasan Ciparanje, Jatinangor.

Ekotani Mandala adalah kolektif pendidikan pertanian dan lingkungan yang berbasis di Universitas Padjadjaran. Ekotani Mandala berfokus pada praktik pertanian teknoekologis, konservasi lahan, serta edukasi dan kerjasama bagi akademis dan masyarakat umum.

Ekotani Mandala menggandeng PPAB Rejanawana, Maperpa, dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Sumedang sebagai mitra penyelenggara.

Semangat Kolaborasi Baraya Kegiatan “Gelar Cai 2026” berhasil mengundang organisasi lingkungan, pecinta alam dan mahasiswa se-Bandung Raya dan Sumedang. Tercatat, lebih dari 111 peserta (71 tamu undangan dan 40 peserta umum) hadir untuk berpartisipasi aktif dalam aksi dan diskusi.

“Dalam aksi ini, penyelenggara berhasil mengumpulkan 350 bibit pohon keras yang berasal dari dua sumber utama, BPDAS Cimanuk Citanduy dan SPTH Dinas Kehutanan Jawa Barat. Berbagai jenis bibit, antara lain Durian, Alpukat, Lame, Beringin, dan Raksamala yang dipilih karena memiliki sistem perakaran kuat yang ideal untuk menahan erosi dan meningkatkan laju resapan air ke dalam tanah,” sebut keterangan yang disampaikan Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad, dikutip Selasa, 14 April 2026.

“Penanaman bibit Tahap Satu ini adalah langkah awal dari program jangka panjang. Ke depannya, proses penanaman seluruh 225 bibit pohon akan dilanjutkan dengan bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Kampus Berkelanjutan Serta Keamanan dan Keselamatan Lingkungan Univeritas Padjadjaran untuk memetakan kebutuhan penanaman di lahan universitas secara lebih komprehensif,” sambungnya.

Setelah aksi penanaman di lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi “Sarasehan” atau diskusi santai yang mendalam. Mengambil tema yang selaras dengan tantangan lingkungan saat ini, sesi ini mengupas tuntas isu “Bagaimana Cara Menyulap Lahan jadi Tabungan Air?”.

Diskusi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman teknis dan teoritis mengenai metode konservasi air tanah yang efektif, menggabungkan metode vegetatif (penanaman pohon) dan bagaimana kita menabung air sebagai seorang individu, yang bisa dilakukan di rumah.

Narasumber yang hadir merupakan pakar di bidangnya, yaitu Kharistya Amaru (Dosen Teknik Pertanian Universitas Padjadjaran) dan Rizky Estrada (praktisi independen).

Kharistya Amaru membedah isu ini dari perspektif akademis dan teknis teknik pertanian. Dia menggarisbawahi permasalahan atas kurangnya kepedulian, perawatan dam perlunya bersyukur terhadap lingkungan.

Sedangkan Rizky Estrada memberikan wawasan dari pengalaman praktis di lapangan dalam pengelolaan lahan dan air.

“Penanaman bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja dengan alat bahan yang ada di sekitar kita,” ujarnya. (des)***