Guru Profesional Harus Memiliki Kepribadian yang Baik (2, Habis)

c9ad1aebfea0a21cfe56d4b719b68b4c M
Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A., (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A.

UNTUK menjadi seorang guru yang berkepribadian baik, seseorang juga harus memiliki sifat manajerial, dengan fleksibilitasnya dalam menghadapi para siswa dalam kelas. Dia harus memiliki keahlian dalam perencanaan kelas, mengorganisasi kelas sejak hari pertama dia bertugas, cepat memulai kelas, melewati masa transisi dengan baik, memiliki kemampuan dalam mengatasi dua atau lebih aktivitas kelas dalam satu waktu yang sama. Kemudian dia juga harus mampu memelihara waktu bekerja serta menggunakannya secara efisien dan konsisten, dapat meminimalisasi gangguan, dapat menerima suasana kelas yang ribut dengan kegiatan pembelajaran, memiliki teknik untuk mengontrol kelas, dapat memelihara suasana tenang dalam belajar, dan tetap dapat menjaga siswa untuk tetap belajar menuju sukses[6]. Dan semua yang dilakukannya harus bisa dipertanggungjawabkan pada kepala sekolah dan komite sekolah, sehingga tidak ada satu pihak pun yang merasa dirugikan dengan layanan guru profesional, dan bahkan semua pihak merasa puas dengan layanan pembelajaran dari mereka.

Kompetensi kepribadian juga harus dilengkapi dengan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya, dia harus mampu mengembangkan dua karakterisitik interaksi guru dengan lingkungannya melalui dua budaya, collegiality, dan collaborasiCollegiality bermakna interaksi guru dengan sesamanya baik dalam aspek intelektual, sosial, moral, emosional, dan bahkan mungkin dalam aspek politik atau kebersamaan dalam aktivitas organisasi profesi, Sedangkan collaborasi lebih pada konteks kerja sama intelektual, saling membimbing dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran, evaluasi, dan berbagai aktivitas diskusi penyelesaian berbagai persoalan pekerjaan sebagai guru[7]. Dua karakter kepribadian guru tersebut, akan beririsan dengan kompetensi sosial, tapi masih lebih kuat sebagai kompetensi kepribadian, karena guru profesional harus mampu berinteraksi dan mengembangkan relasi sosialnya minimal dengan kolega guru dan tata usaha di sekolahnya, tidak boleh teralienasi dari lingkungannya. Bagaimana guru bisa berkomunikasi dengan orang tua siswa, jika berkepribadian sangat tertutup atau lebih suka menyendiri, introvert, dan tidak menyukai berkomunikasi dengan orang lain, padahal perkembangan siswanya harus disampaikan pada orang tuanya, pada kepala sekolah, atau pada pada walinya.

Inilah lima ciri kompetensi kepribadian calon guru atau guru profesional, yang terkait langsung dengan tindakan mereka sebagai seorang guru, agar mampu menghantarkan para siswanya menjadi smart and competitive citizen, melalui proses pembelajaran yang dikelola oleh dia dengan melibatkan tiga kompetensi lainnya, pedagogik, profesional, dan sosial. Akan tetapi masih banyak kompetensi kepribadian yang harus dipenuhi guru profesional dan sangat mendukung karya-karya profesi mereka sebagai seorang guru. Sifat-sifat tersebut antara lain adalah sebagai berikut[8].

1. Adaptability in instructional interaction, mudah menyesuaikan diri dengan situasi kelas, guru bisa dengan mudah mengubah suasana belajar dengan sesuai dengan kebutuhan psikologis siswa, daripada mempertahankan skenario pembelajaran yang sudah dirancang tapi kurang sesuai dengan situasi kelas.

2. Humor, guru yang humoris, periang dan dapat membangkitkan suasana belajar kembali segar, akan lebih berpeluang untuk dapat menyampaikan materi ajar dengan baik, dan akan lebih membuat para siswa senang belajar, nyaman dan terhindar dari kelelahan.

3. Memiliki tanggung jawab profesional yang baik, guru mempersiapkan program pembelajaran, disain, skenario, alat dan berbagai kepentingan proses pembelajaran dipersiapkan sebelum kelas dimulai. Dan semua persiapan tersebut mereka dedikasikan untuk kemajuan siswa, dengan penilaian yang fair, dan selalu terbuka untuk melakukan perbaikan dengan mengeksplorasi saran serta masukan pada para siswanya.

4. Enthusiasm,guru yang sangat antusias dalam membelajarkan para siswanya, atau menyampaikan pelajaran kepada para siswanya, akan sangat membantu dalam membangun dan menghidupkan serta meningkatkan motivasi siswa dalam partisipasi proses pembelajaran di dalam kelas atau di luar kelas.

5. Argreeableness, ini merupakan sifat atau karakter yang harus terus dibina pada semua guru dan calon guru, yakni sifat mudah atau bisa menerima perbedaan, dan mudah memahami pendapat orang lain, dan bisa menikmati relasi kolegial, dalam keadaan sependapat atau tidak sependapat tentang sesuatu. Sifat-sifat yang harus dikembangkan untuk kepribadian ini antara lain adalah, sifat rendah hati, memiliki belas kasih kepada sesama, kooperatif, dapat menerima keluhan, sederhana, gampang memaafkan dan bisa dipercaya.

6. Caring, yakni memiliki kepedulian yang baik kepada siswa, sejawat, orang tua siswa dan seluruh kelompok sosial yang dilayaninya. Seorang guru yang memiliki perhatian pada para siswanya akan membuka akses bagi mereka di setiap saat, dan akan selalu membantu untuk kemajuan para siswanya. Guru yang memiliki kepedulian akan selalu mengembangkan pedagogi yang dapat mendorong para siswa belajar, dia akan memahami perasaan para siswanya, dan dia akan mampu mengetahuai apa kebutuhan para siswanya. Dan guru yang peduli akan tetap menjaga hubungan dengan para siswanya dalam situasi apapun juga.

7. Acceptance, sikap menerima, yakni bisa menerima siswa dengan apa adanya, memahami mereka dengan berbagai problema dan keistimewaan yang dimilikinya. Sikap menerima didasarkan pada sebuah keyakinan bahwa setiap individu memiliki potensi untuk dikembangkan, dan menyiratkan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk menjadi seperti yang sedang dia kerjakan, dan guru harus mendorong siswanya untuk mempercepat pencapaian apa yang diinginkannya. Sikap menerima memiliki beberapa segi, antara lain menghadapi siswa dengan sangat bersahabat, peduli, senantiasa memberikan bantuan, dan terakhir seorang guru sebaiknya tidak serta merta menghakimi atau menginterpretasi perbuatan siswa, tapi fahami perbuatan mereka[9]. Kalau keliru, diperbaiki dengan cara-cara yang bisa diterima mereka.

8. Empathy[10]. yakni memahami dan menerima pengalaman orang lain (siswa) seolah-olah pengalamannya sendiri, lalu terlibat dalam proses memelihara, mengembangkan dan atau memperbaikinya dengan tetap menjaga pendirian orang lain (siswa) tersebut[11]. Sikap empati bisa ditunjukkan dengan cara dia berkomunikasi yang mampu dan biasa mendengarkan dengan sangat hati-hati, akurat, dan dengan sensitivitas yang sangat mendalam.

9. Di samping itu semua, guru dan calon guru harus memiliki sifat-sifat stimulatif, mendorong siswa untuk maju, hangat, berorientasi pada tugas dan pekerja keras, toleran, sopan, dan bijaksana, bisa dipercaya, fleksibel, dan mudah menyesuaikan diri, demokratis, tidak semata mencari reputasi pribadi, mampu mengatasi stereotipe siswa, bertanggung jawab terhadap kegiatan belajar siswa, mampu menyampaikan perasaannya, dan memiliki pendengaran yang baik[12].

Inilah beberapa sifat kepribadian guru yang ideal yang bisa diharapkan akan mampu membawa perubahan pada tradisi belajar para siswa, agar menjadi SDM bangsa yang cerdas berdaya saing. Dan supaya mereka nyaman dalam pelaksanaan tugas, maka para guru dan calon guru harus diyakinkan bahwa profesi guru adalah pilihan terbaik baginya. Tidak boleh sinis dengan pekerjaannya. Dia tidak boleh berkata bahwa profesi keguruan adalah profesi orang-orang miskin. Mereka harus bangga dengan profesinya sebagai seorang guru. Tidak baik bagi seorang guru untuk mempermasalahkan profesi keguruannya dengan mengaitkannya pada indeks gaji yang tidak memadai, karena dia masuk setelah dia tahu bahwa gajinya tidak memadai. Kalau tidak suka dengan indeks gaji seperti itu, ambil putusan segera, dan cari alternatif yang lebih baik. Tidak boleh profesi keguruan menjadi terhina oleh guru sendiri hanya karena indeks gajinya yang tidak memadai. Wallahu a’lam bi al-Shawab. ***

Daftar Bacaan

Maria Liakopoulou, The Professional Competence of Teachers: Which qualities, attitudes, skills and knowledge contribute to a teacher’s effectiveness, International Journal of Humanities and Social Science Vol. 1 No. 21 (Special Issue) – December 2011.

  1. Murale, R Preetha, dan Juhi Singh Arora, Employee Commitment and Patient Satisfaction: An Initial Reflection from Indian Healthcare Sector, Paper was Presented in the Conference on Advances in Environmental Science and Energy Planning, 2015.

Jason A. Colquitt, Brent A. Scott, and Jeffery A. LePine,Trust, Trustworthiness, and Trust Propensity: A Meta-Analytic Test of Their Unique Relationships With Risk Taking and Job Performance, Journal of Applied Psychology Copyright 2007 by the American Psychological Association 2007, Vol. 92, No. 4,

Dr. Linda Elder and Dr. Richard Paul, Analytic Thinking How To Take Thinking Apart And What To Look For When You Do The Elements of Thinking and The Standards They Must Meet, CambrIdge UnIverSIty, UK 2009

Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, 2004, h. 113

Lucy M Jarzabkowski, The social Dimensions of Teacher Collegiality, Journal of Educational Enquiry, Vol. 3, No. 2, Murdoch University, Western Australia, 2002, h. 2

Minghui Gao and Qinghua Liu, Personality Traits of Effective Teachers Represented in the Narratives of American and Chinese Preservice Teachers: A Cross-Cultural Comparison, International Journal of Humanities and Social Science Vol. 3 No. 2, 2013, h. 85

Eva Burchardt and Ralf Schiebuhr Christian, Basic Personal Competencies for Teachers, Counsellors, Supervisors, Albrechts−Universität zu Kiel Erziehungswissenschaftliche, h. 3

Ioannidou F., Konstantikaki V., Empathy and emotional intelligence: What is it Really About? International Journal of Caring Sciences 1(3):118–123, 2008, h. 119

[1]Maria Liakopoulou, The Professional Competence of Teachers: Which qualities, attitudes, skills and knowledge contribute to a teacher’s effectiveness,International Journal of Humanities and Social Science Vol. 1 No. 21 (Special Issue) – December 2011.

[2]V. Murale, R Preetha, dan Juhi Singh Arora, Employee Commitment and Patient Satisfaction: An Initial Reflection from Indian Healthcare Sector, Paper was Presented in the Conference on Advances in Environmental Science and Energy Planning, 2015.

[3]Jason A. Colquitt, Brent A. Scott, and Jeffery A. LePine,Trust, Trustworthiness, and Trust Propensity: A Meta-Analytic Test of Their Unique Relationships With Risk Taking and Job Performance, Journal of Applied Psychology Copyright 2007 by the American Psychological Association 2007, Vol. 92, No. 4,

[4]Dr. Linda Elder and Dr. Richard Paul,Analytic Thinking How To Take Thinking Apart And What To Look For When You Do The Elements of Thinking and The Standards They Must Meet, CambrIdge UnIverSIty, UK 2009

[5] Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis, Sebuah Model pelibatan Masyarakat dalam penyelenggaraan Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, 2004, h. 113

[6] Ibid., h. 111

[7]Lucy M Jarzabkowski,The social dimensions of teacher collegiality,Journal of Educational Enquiry, Vol. 3, No. 2, Murdoch University, Western Australia, 2002, h. 2

[8]Minghui Gao and Qinghua Liu, Personality Traits of Effective Teachers Represented in the Narratives of American and Chinese Preservice Teachers: A Cross-Cultural Comparison, International Journal of Humanities and Social Science Vol. 3 No. 2, 2013, h. 85

[9]Eva Burchardt and Ralf SchiebuhrChristian, Basic Personal Competencies for Teachers, Counsellors, Supervisors, Albrechts−Universität zu KielErziehungswissenschaftliche, h. 3

[10] Ibid., h. 4

[11]Ioannidou F., Konstantikaki V., Empathy and emotional intelligence: What is it really about?, International Journal of Caring Sciences 1(3):118–123, 2008, h. 119

[12] Dede Rosyada, Op.cit., h. 102

Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A.lahir di Rancah, Ciamis, 5 Oktober 1957. Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI), pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, pernah menjabat Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI (2011-2014) dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2015–2019).