ZONALITERASI.ID – Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Kelompok Riset Instrumentasi Lingkungan mengembangkan Quantifiable Coffee Identity (QCI) atau Coffee Passport, sebuah teknologi identifikasi kopi berbasis fingerprint fisikokimia yang mampu menghasilkan identitas ilmiah setiap produk kopi secara objektif, terukur, dan dapat ditelusuri (traceable). Inovasi hasil hilirisasi riset ini dikembangkan untuk menjawab tantangan standardisasi mutu kopi Indonesia yang selama ini masih banyak bergantung pada penilaian sensorik, sekaligus memperkuat daya saing kopi nasional di pasar global.
Pengembangan Coffee Passport merupakan kelanjutan dari roadmap penelitian UPI di bidang instrumentasi lingkungan. Pada 2025, tim peneliti mengembangkan Smart Farming Coffee Garut, sebuah sistem pemantauan kebun kopi berbasis sensor yang mampu memonitor kondisi lahan dari jarak jauh tanpa jaringan internet dengan memanfaatkan tenaga surya. Teknologi tersebut membantu petani memantau kondisi kebun yang berlokasi hingga beberapa kilometer dari pusat pengelolaan. Memasuki 2026, fokus penelitian bergeser dari peningkatan produktivitas menuju pembangunan sistem identitas ilmiah produk kopi melalui teknologi Quantifiable Coffee Identity (QCI).
Ketua Kelompok Riset Instrumentasi Lingkungan UPI, Dr. Selly Feranie, M.Si., menjelaskan, inovasi ini lahir dari permasalahan nyata yang dihadapi petani kopi. Menurutnya, peningkatan produksi belum selalu diikuti dengan peningkatan nilai jual karena belum tersedia sistem identifikasi mutu yang objektif dan mudah dipahami konsumen.
“Saat kami mendampingi mitra petani kopi di Garut, produksi mereka sudah meningkat. Namun, mereka menyampaikan bahwa produknya masih sulit memiliki nilai tambah karena belum memiliki identitas yang kuat. Di sisi lain, penilaian kualitas kopi selama ini masih sangat bergantung pada persepsi masing-masing penikmat kopi. Dari situlah kami melihat perlunya sistem yang mampu mengkuantifikasi identitas kopi secara ilmiah sehingga kualitasnya dapat dijelaskan berdasarkan data, bukan semata-mata opini,” ujar Selly.
Berbeda dengan metode cupping test yang mengandalkan penilaian indera manusia, Coffee Passport memanfaatkan pendekatan berbasis sensor dan analisis data. Sistem ini mengukur sedikitnya lima parameter utama, yaitu profil aroma, derajat keasaman (pH), Electrical Conductivity (EC), Total Dissolved Solids (TDS), dan karakteristik warna (RGB). Kelima parameter tersebut diproses menjadi fingerprint atau sidik jari digital yang menjadi identitas unik setiap produk kopi.
Pada proses pengujian, kopi Arabika Garut yang diproses secara natural diseduh menggunakan air bersuhu sekitar 90°C. Suhu tersebut dipilih karena sensor MQ-135 (modul sensor gas elektronik yang digunakan untuk mendeteksi kualitas udara serta memantau keberadaan gas) mampu menangkap senyawa volatil, khususnya gas yang berkaitan dengan karakter aroma hasil fermentasi, secara optimal pada suhu tinggi. Selanjutnya sistem mengukur nilai TDS, EC, suhu, tingkat ekstraksi, komposisi warna menggunakan sensor TCS3200 (sensor warna digital yang dapat mendeteksi dan mengukur warna suatu objek dengan mengubah intensitas cahaya merah, hijau, dan biru (RGB) menjadi sinyal frekuensi), hingga nilai pH setelah suhu sampel turun di bawah 50°C. Kombinasi seluruh parameter tersebut menghasilkan identitas digital yang konsisten dan dapat direproduksi sehingga kopi dari berbagai daerah dapat dibedakan berdasarkan karakter ilmiahnya.
Selly menjelaskan, teknologi ini merupakan bagian dari konsep besar Quantifiable Coffee Identity (QCI) yang tidak hanya mengidentifikasi larutan kopi (cup lens), tetapi juga akan dikembangkan untuk mengintegrasikan informasi kondisi lahan (soil lens), karakteristik geografis, iklim, hingga data nutrisi tanah.
“Coffee Passport bukan hanya memberikan identitas terhadap produk kopi. Ke depan, kami ingin membangun identitas kopi Indonesia secara utuh, mulai dari kondisi tanah, lokasi geografis, iklim, proses budidaya, hingga karakter larutan kopinya. Dengan demikian, setiap kopi memiliki paspor ilmiah yang dapat memperkuat branding sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar,” jelasnya.
Pengembangan Coffee Passport dilakukan melalui kolaborasi multidisiplin yang melibatkan peneliti bidang fisika, instrumentasi, rekayasa perangkat lunak, Internet of Things (IoT), farmasi, serta mahasiswa Program Studi Fisika UPI. Pendekatan problem solver researcher yang diterapkan tim riset memungkinkan setiap inovasi dikembangkan berdasarkan kebutuhan nyata masyarakat. Prototipe perangkat bahkan berhasil diwujudkan hanya dalam waktu sekitar dua bulan melalui model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang melibatkan mahasiswa secara langsung.
Sebagai implementasi hilirisasi hasil penelitian, Coffee Passport telah diterapkan pada produk UP GAR Garut Coffee, kopi binaan UPI yang menjadi media uji penerapan sistem identitas ilmiah tersebut. Inovasi ini juga sedang dipersiapkan untuk memperoleh perlindungan paten sekaligus telah mendukung naskah ilmiah yang saat ini berstatus under review pada jurnal internasional bereputasi di bidang Food Control.
Ke depan, UPI menargetkan pengembangan Indonesia Coffee Database, yaitu basis data nasional yang menghimpun fingerprint berbagai varietas kopi Indonesia dari berbagai daerah. Saat ini kolaborasi baru dilakukan dengan petani kopi Garut, namun UPI mulai menerima minat kerja sama dari daerah lain, termasuk Lampung, sebagai langkah awal membangun sistem identifikasi kopi nasional. Basis data tersebut diharapkan menjadi fondasi pengembangan standardisasi mutu, perlindungan indikasi geografis, sertifikasi produk, serta memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar internasional.
“Inovasi ini kami kembangkan bukan semata-mata menghasilkan teknologi, tetapi menghadirkan solusi yang memberikan manfaat langsung bagi petani, UMKM, dan industri kopi. Jika kopi Indonesia memiliki identitas ilmiah yang kuat, maka nilai tambah produknya akan meningkat dan daya saingnya di pasar global juga semakin kuat,” pungkas Selly. (des)**











