Oleh Didin Tulus
SEHABIS pameran buku di Semarang, aku tidak langsung pulang ke Bandung. Sisa buku yang tak terjual sudah kukirim lewat paket, agar beban perjalanan lebih ringan. Namun, hatiku masih penuh rasa ingin tahu, seolah ada panggilan untuk menempuh jalur lain. Maka aku melanjutkan perjalanan: dari Semarang ke Surabaya, lalu ke Jember, menyeberang Gilimanuk, hingga akhirnya menuju Bali.
Terminal kecil di kota Jember menjadi saksi awal kisah ini. Di sana aku mencari bus jurusan Denpasar. Setelah mendapatkannya, kutaruh tas berisi pakaian ganti di bagasi atas kepala. Tas itu sederhana, tapi di dalamnya tersimpan harta kecil: beberapa buku yang baru saja kubeli di pameran. Ada Hoegeng karya Ramadhan K.H. dan Salim karya Ajip Rosidi. Aku membelinya di stan orang Yogya, karena sedang diobral murah. Harga asli di Gramedia Rp120.000, tapi di sana hanya Rp15.000. Aku merasa beruntung, seolah menemukan permata di tengah keramaian.
Bus masih kosong, menunggu penumpang. Aku sempat ke toilet dan membeli makanan untuk bekal. Namun ketika kembali, dadaku serasa ditusuk: bus Damri itu sudah tidak ada! Orang-orang bilang bus baru saja berangkat. Seketika aku panik.
Awalnya aku mencoba menenangkan diri. “Ah, biarlah,” pikirku. Tas itu hanya berisi pakaian ganti. Tapi begitu teringat buku-buku di dalamnya, tubuhku gemetar. Buku bukan sekadar barang. Ia adalah sahabat, guru, sekaligus pengingat perjalanan. Membayangkan buku-buku itu hilang membuatku hampir menangis.
Aku segera bertanya apakah ada ojek. Syukurlah, ada. Dengan suara terburu-buru aku meminta diantar mengejar bus itu. Ojek melaju kencang, menembus jalanan Jember yang berdebu. Angin menampar wajahku, tapi hatiku hanya fokus pada satu hal: menyelamatkan tas berisi buku.
Akhirnya, dari kejauhan tampak pantat bus Damri. Aku berteriak agar ojek menambah kecepatan. Kami berhasil menghentikan bus itu. Setelah membayar ojek, aku masuk dan duduk tepat di bawah bagasi. Dengan tangan gemetar, kutarik tas itu. Begitu tas berada di pelukan, aku tersenyum lega.
Buku-buku itu tidak jadi hilang. Aku mendekapnya erat, seolah memeluk kenangan. Perjalanan panjang ini bukan sekadar lintasan kota demi kota, melainkan kisah tentang betapa berharganya buku dalam hidupku.
Setiap buku memang punya kisah. Hoegeng bukan hanya tentang seorang polisi teladan, tapi juga tentang integritas yang jarang kutemui. Salim bukan sekadar karya Ajip Rosidi, tapi juga pengingat bahwa sastra bisa lahir dari obralan murah, dari tangan yang rela berbagi. Buku-buku itu menjadi saksi bahwa perjalanan bukan hanya soal jarak, melainkan tentang pertemuan dengan makna.
Di Bali, ketika akhirnya aku duduk di tepi pantai, aku membuka kembali buku-buku itu. Angin laut menyapu halaman, seolah ikut membaca. Aku tersenyum, mengingat betapa hampir saja aku kehilangan mereka. Dan aku sadar: perjalanan ini akan selalu kuingat bukan karena pemandangan indah atau kota yang kulalui, melainkan karena kisah sederhana tentang mengejar bus demi menyelamatkan buku. ***
Didin Tulus, editor, penulis, penggiat literasi di Kota Cimahi.











