Mahasiswa Pascasarjana Poltekpar NHI Bandung Dorong Ekonomi Sirkular di Desa Wisata Kertawangi melalui Budidaya Maggot

WhatsApp Image 2026 05 07 at 02.35.50
Program Studi Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata Poltekpar NHI Bandung menyelenggarakan kegiatan "Diseminasi Pelatihan Pertanian Sirkular Berbasis Maggot", di Desa Wisata Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, (Foto: Istimewa).

ZONALITERASI.ID – Inovasi berbasis lingkungan terus didorong guna mewujudkan destinasi pariwisata yang berkualitas dan berdaya saing melalui penguatan ekonomi sirkular serta pengelolaan limbah berkelanjutan. Menanggapi isu global terkait sampah, Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung menunjukkan komitmennya sebagai institusi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Hal tersebut diwujudkan oleh mahasiswa Program Studi Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata melalui kegiatan “Diseminasi Pelatihan Pertanian Sirkular Berbasis Maggot”, di Desa Wisata Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat dan UMKM yang diterapkan langsung di tengah masyarakat desa.

Kolaborasi Akademisi dan Praktisi

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Kertawangi ini diinisiasi oleh tim mahasiswa Pascasarjana yang terdiri dari Dede Rusnadi, Minati Putri Larasati, M. Rizki Fauzy, dan Rian Andani. Mereka didampingi oleh dosen pengampu, Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M. dan Dr. Sukmadi, S.E., M.M.. Program ini merupakan bentuk kontribusi akademis dalam mendukung pengembangan desa wisata berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular yang aplikatif.

Pelaksanaan kegiatan ini juga didukung oleh PT Biru Inovasi Teknologi dan CV Samudra Jala Sandjaya sebagai mitra sponsor yang memiliki visi serupa dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan.

Solusi Limbah Bernilai Ekonomi

Pelatihan ini menghadirkan narasumber praktisi, Eduard, serta dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, drg. Chanifah Listyarini, M.H.M.. Dalam paparannya, dijelaskan bahwa budidaya maggot merupakan solusi efektif untuk mereduksi volume sampah organik rumah tangga sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru, yakni berupa pakan ternak berprotein tinggi dan pupuk organik.

Kepala Desa Kertawangi, Yanto bin Surya, menyambut positif kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta ini. Dia menilai program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan warganya dalam menjawab persoalan lingkungan sekaligus membuka peluang usaha produktif.

“Pelatihan ini menjadi langkah nyata untuk mendorong masyarakat agar lebih mandiri secara ekonomi, kreatif dalam memanfaatkan limbah, serta semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan desa,” ungkap Yanto.

Keberlanjutan Program

Agar program tidak berhenti pada tahap pelatihan, Dr. Sukmadi, S.E., M.M. dan Dr. Wawan Gunawan, S.Sn., M.M. memberikan arahan strategis untuk memastikan program ini bertransformasi menjadi model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat memperkuat posisi Desa Wisata Kertawangi sebagai destinasi wisata berbasis edukasi lingkungan.

Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memahami konsep pertanian sirkular secara teoretis, tetapi mampu mengimplementasikannya secara mandiri. Budidaya maggot menjadi solusi konkret untuk menciptakan sistem pengelolaan limbah terpadu yang mampu menekan pencemaran lingkungan sekaligus menghadirkan manfaat finansial bagi warga.

Sinergi antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media dalam kegiatan ini membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama dalam melahirkan inovasi untuk pembangunan desa wisata yang mandiri dan berdaya saing. (daf)***