Oleh Bambang Q-anees
SEJAK dua hari sebelum Idulfitri, puluhan atau ratusan foto dan video ucapan selamat Idulfitri berseliweran. Rata-rata menampilkan wajah dan tubuh yang cantik dan ramping (entah karena pake filter atau menahan nafas saat dipotret): semuanya ingin menampilkan kemudaan dengan menggunakan teknologi AI.
Menilik itu, saya teringat rasa malu Promothean (Promethean Shame) yang dikemukakan Gunther Anders. Ini cukup lucu, paling tidak pada saat buku Die Antiquiertheit des Menschen (Kedaluwarsanya Manusia) ditulis, yakni tahun 1956 (jilid 1) dan 1980 (jilid 2). Gunther bilang manusia modern menderita rasa malu pada alat teknologi yang diciptakannya. Sementara mesin tak pernah lelah dan tidur, manusia gampang lelah dan ngantuk. Sementara manusia rapuh, mengekriput, dan loyo setelah bekerja lama, mesin justru tak pernah loyo.
Tapi saat ini, ramalan Gunther ada benarnya. Kita sering kali merasa malu karena tubuh kita bisa lelah, ingatan kita bisa lupa, dan perasaan kita tidak secepat algoritme. Kita terjebak dalam rasa minder di hadapan kesempurnaan mesin buatan kita sendiri, seolah-olah menjadi manusia yang memiliki keterbatasan adalah sebuah “cacat” produksi yang harus diperbaiki atau diganti. Kita menjadi manusia kadaluarsa.
Manusia Kedaluwarsa (The Obsolescence of Man) adalah sebuah kondisi tragis ketika manusia merasa dirinya tidak lagi relevan, tidak lagi cepat, dan tidak lagi sempurna jika dibandingkan dengan mesin atau teknologi yang ia ciptakan sendiri.
Anak-anak Gen Z merasa insecure bukan karena orang lain, tapi karena teknologi. Anak-anak Gen Z merasa “lemot” kalau nggak langsung paham tren baru, atau merasa “cupu” karena butuh istirahat, sementara AI bisa bikin tugas atau karya seni dalam 5 detik. Anak-anak gen Z mengidap Rasa Malu Promethean ketika merasa tubuh organiknya yang bisa jerawatan, capek, dan butuh healing sebagai “produk gagal” dibanding mesin yang selalu perfect dan makin canggih tiap hari.
Ini paradoks modern, tentu saja. Mulanya manusia modern merasa lebih hebat daripada peradaban agama dan menggantinya dengan rasio-teknik. Manusia modern dengan jumawa “membunuh Tuhan” dan mendepak agama sebagai cara berpikir yang kuno berdebu. Mesin diciptakan, teknologi dikembangkan untuk menunjukkan superioritas manusia. Eh, ujung-ujungnya manusia yang dulunya subjek yang menggunakan alat menjadi sekadar sekrup, pelengkap dari mesin.
Anak-anak Gen Z di mata media sosial atau industri besar hanya dianggap sebagai data point atau penyedia konten. Kalau anak-anak Gen Z nggak update, nggak posting, atau nggak “berfungsi” menghasilkan interaksi, mereka merasa kedaluwarsa. Mereka merasa hilang dari peradaban kalau nggak sinkron sama sistem. Mereka bukan lagi “tuan” atas HP kita, tapi kita yang “bekerja” buat algoritme biar dia tetap jalan.
Gunther Anders menyebutnya perubahan manusia dari subyek menjadi penonton pasif dari kehancurannya sendiri (seperti dalam perang nuklir atau dominasi media). Kalau sudah begini, manusia akan kehilangan kemampuannya untuk “merasakan” konsekuensi dari tindakannya sendiri karena semuanya dijembatani oleh teknologi.
Walaupun demikian Günther Anders tidak meminta kita untuk menghancurkan mesin, melainkan untuk merebut kembali kemanusiaan kita melalui kesadaran kritis.
Pertama, Gunther Anders mendorong kita memiliki “keberanian untuk takut” (the Courage to Fear). Anders berpendapat bahwa rasa malu muncul karena kita merasa “kecil” dan “lemah” di hadapan teknologi. Tawaran pertamanya adalah kita harus berani mengakui ketakutan kita terhadap dampak teknologi (seperti nuklir atau AI). Jadi, jangan malu kalau kamu merasa cemas dengan dunia yang serba otomatis. Ketakutan itu adalah kompas moral. Mesin tidak bisa merasa takut. Dengan merasa takut akan masa depan kemanusiaan, kamu sedang membuktikan bahwa kamu masih memiliki fungsi moral yang tidak dimiliki oleh alat tercanggih sekalipun.
Kedua, latihlah imajinasi, karena mesin tak punya imajinasi. Kita harus melatih imajinasi kita agar setara dengan kemampuan teknis kita. Jika teknologi membuat kita mati rasa (menjadi “operator” yang dingin), maka melatih empati dan membayangkan “wajah” korban adalah cara melawan rasa malu itu. Jangan malu menjadi “emosional”; justru emosi itulah yang menjaga kita agar tidak menjadi rongsokan mekanis.
Ketiga, menolak menjadi “suku Cadang” (non-conformity). Kita harus berhenti mencoba menyamai kecepatan mesin. Jika sistem menuntut kita untuk bekerja 24 jam tanpa henti seperti server, maka beristirahat, merenung, dan menjadi lambat adalah bentuk perlawanan. Rasa malu itu hilang ketika kita sadar bahwa ketidakefisienan manusia (seperti ragu-ragu, bimbang, atau gagal) bukanlah “bug” (kerusakan), melainkan “fitur” utama yang membuat kita berharga.
Pada titik inilah saya menemukan perlunya Idulfitri: mudik, sungkeman, makan bareng, mengaku bersalah dan minta maaf. Saat kita mudik, sungkeman, dan makan bareng keluarga tanpa gangguan layar HP, kita sedang menolak jadi “manusia kedaluwarsa”. Kita kembali ke Fitrah—sebuah kondisi ketika nilai kita nggak ditentukan oleh seberapa banyak likes atau seberapa cepat kita balas chat.
Momen saling memaafkan itu adalah pengakuan bahwa “Ya, gue manusia, gue punya salah, gue nggak seakurat mesin.” Dan itu oke banget. Meminta maaf adalah fitur manusia yang nggak akan pernah bisa dimiliki oleh AI mana pun.
Maka nikmatilah momen Lebaran, lawan rasa gengsi untuk merasa bersalah dan menitikkan air mata. Itu semua adalah perlawanan dan pernyataan bahwa kita bukan manusia kedaluarsa!
Mohon maaf Lahir Batin
Selamat Idulfitri!
Selamat menjadi manusia.
***
Bambang Q-anees, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.











