Menuju Murid Menjadi Insan Being

511306914 10214296623725663 8419639883592294874 n
Dadang A. Sapardan, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Dadang A. Sapardan

BEBERAPA hari yang lalu sempat bertemu dengan seorang teman yang selama ini bekerja sebagai konsultan pendidikan pada unit Kemendikdasmen. Karena sudah lama tidak bertemu, terjadi obrolan ringan tentang berbagai hal, termasuk tentang fenomena pembelajaran yang saat ini tengah dilaksanakan oleh para guru pada setiap sekolah. Obrolan mengarah pada upaya pembelajaran yang lebih cenderung mendorong para guru untuk mau dan mampu menyelenggarakan pembelajaran dengan memanfatkan perangkat digital. Langkah ini mengarah pada pemberian kemudahan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran serta memperkuat kompetensi para murid agar memiliki kepiawaian dalam menggunakan perangkat ini. Nuansa pemanfaatan perangkat digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam konteks pembelajaran saat ini.

Kesadaran untuk terus mendorong ranah pendidikan, terutama para guru dalam memanfaatkan perangkat digital perlu dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan masiv. Upaya ini merupakan langkah strategis dalam merespons fenomena kehidupan revolusi industri 4.0 yang penuh dengan muatan pemanfaatan perangkat digital dalam kehidupan keseharian.

Generasi saat ini dan masa depan berada di era VUCA. Era VUCA sendiri merupakan akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity. Era penuh gejolak/anomali, ketidakpastian, kompleksitas, dan ketidakjelasan/ambiguitas. Era yang dibangun dengan fenomena revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 serta kehidupan milenial. Keberadaan kedua warna kehidupan tersebut diperkuat pula dengan merebaknya pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Secara lebih simple, era VUCA telah melahirkan dinamika kehidupan dengan perubahan yang begitu cepat serta berbagai ketidakpastian yang tidak bisa diprediksi dengan mudah oleh siapapun.

Pada era VUCA, berbagai aktivitas tidak dapat terlepas dari pemanfaatan perangkat digital sebagai bagian dari kehidupan. Berbagai aktivitas dapat berlangsung dengan sukses dan lancar karena ditopang kepiawaian penggunaannya. Dengan demikian, siapapun harus adaptif dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupan ini. Tentunya, tuntutan adaptif ini mengarah pula kepada para guru dan murid.

Sekolah harus menjadi lembaga pertama yang memberi pemahaman terhadap setiap muridnya akan perlunya mereka melek terhadap pemanfaatan perangkat digital. Hal itu perlu dilakukan karena sekolah menjadi andalan berbagai pihak dalam menyiapkan setiap murid agar menjadi outcomes yang kompeten dalam menghadapi kehidupan masa depan. Sekolah menjadi salah satu ekosistem kehidupan yang diharapkan mampu melahirkan setiap murid menjadi outcomes yang memiliki kompetensi. Kompetensi yang dimaksud tentunya berkenaan dengan kesiapan mereka dalam mengarungi kehidupan masa kini dan masa depan.

Menelaah beberapa referensi terkait dengan tipologi outcomes pendidikan, ditemukan dua tipikal outcomes pendidikan dalam mengimplementasikan setiap program terhadap setiap muridnya. Pertama, tipikal yang mendidik murid untuk menjadi insan ‘knowing’. Kedua, tipikal yang mendidik murid untuk menjadi insan ‘being’.

Pendidikan dengan tipikal ‘knowing’ merupakan upaya men-treatment setiap muridnya guna sekadar tahu pengetahuan tanpa menekankan lebih jauh tentang kebermaknaan dan kebermanfaatan pengetahuan yang dimiliki oleh setiap muridnya. Dengan demikian, saat murid sudah memahami pengetahuan yang diberikan, maka murid sudah dianggap tuntas mengenyam pendidikan.

Pendidikan dengan tipikal ‘being’, memberi perlakukan yang lebih jauh lagi. Pengetahuan yang diberikan tidak menjadi pengetahuan murid semata, tetapi harus pula diimplementasikan atau dimanfaatkan dalam kehidupan keseharian mereka. Dengan demikian, pasca-penerimaan pengetahuan oleh murid, mereka memiliki kewajiban untuk mampu mengimplentasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupannya.

Sekolah sebagai elemen dari sistem pendidikan yang menjadi ujung tombaknya dituntut untuk mampu mentreatment muridnya sehingga menjadi insan ‘being’ bukan menjadikan insan ‘knowing’. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki setiap murid akan memiliki kebermanfaatan dalam kehidupan masa kini dan masa depan mereka. Kondisi demikian akan berdampak pada kemampuan murid untuk survive dalam menghadapi kehidupannya.

Dalam upaya menjadikan murid sebagai outcomes yang bernuansa knowing, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengenalkan mereka dengan pemanfaatan perangkat digital dalam pembelajaran. Pengenalan ini menjadi upaya yang tidak bisa dinihilkan dalam dinamika pembelajaran karena para guru sedang menyiapkan murid yang mampu survive dalam kehidupan dengan nuansa era digital. Pemberian bekal kemampuan memanfaatkan perangkat digital inilah yang harus terus dilakukan para guru kepada setiap muridnya.

Merujuk pada konsep pembelajaran kekinian yang menjadi tugas dan fungsi utamanya, guru harus berperan sebagai tutorresource linkersfasilitatorgate keepers, dan catalyst. Dalam kaitan dengan pemanfaatan perangkat digital terhadap setiap muridnya, guru menempatkan posisi sebagai gate keepers. Posisi gate keepers mengarah pada penempatan guru sebagai penyeleksi materi yang dianggap penting dan esensial untuk dipahami siswa dalam pembelajaran yang dilaksanakannya. Guru memiliki tugas untuk menyeleksi materi yang sangat banyak dalam perangkat digital. Hasil seleksi yang dilakukannya menjadi bahan ajar. Dengan pemanfaatan perangkat digital inilah materi ajar dapat dikenalkan serta dikuatkan kepada muridnya.

Salah satu pemanfaatan platform teknologi di antaranya pemanfaatan perangkat digital dalam pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dari setiap sekolah. Pemanfaatan perangkat digital merupakan kegiatan yang tidak bisa dinihilkan atau dikesampingkan di tengah tuntutan setiap orang untuk mampu memanfaatkan perangkat ini dalam kehidupan kesehariannya. Dengan memberi pengenalan pemanfaatan perangkat digital dalam konteks pembelajaran, minimal terdapat dua manfaat yang diraih. Pertama, memberi kemudahan bagi guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Kedua, siswa akan memiliki kebiasaan dan kompetensi sehingga ketika dihadapkan dengan fenomena kehidupan yang diwarnai dengan pemanfaatan perangkat digital, mereka akan dengan mudah dan cepat beradaptasi kerena sudah memiliki dasar-dasar pengetahuan yang dibutuhkan.

Untuk itu, para guru harus menjadi elemen pertama yang mampu memanfaatkan perangkat digital. Pembelajaran yang dilaksanakan akan dapat berjalan lancar dan mudah. Selain itu, menjadi ajang dalam merespons dinamika perkembangan kehidupan yang tidak terlepas dari peran pemanfaatan perangkat digital. Pemanfaatan perangkat digital dalam pembelajaran, diharapkan dapat mengurangi kompleksitas, meningkatkan efisiensi, menambah inspirasi, dan menerapkan pendekatan yang disesuaikan, sehingga para guru dan murid mendapat kemudahan dalam implementasinya.

Melalui pembelajaran yang diwarnai dengan pemanfatan perangkat digital, setiap murid dimungkinkan akan tertantang untuk terus mengasah kompetensinya. Dengan memanfaatkan kemudahan yang diberikannya, setiap murid akan terbekali dengan kompetensi yang dibutuhkan dalam menghadapi kehidupan masa kini dan masa depannya. Untuk mencapai hal itu, tentunya tidak dapat disandarkan pada guru semata, tetapi disandarkan pada seluruh unsur yang terlibat dalam ranah pendidikan.

Alhasil, setiap guru harus mulai memampukan diri sebagai sosok yang menyiapkan para muridnya agar dapat memanfaatkan perangkat digital dalam upaya melakukan penguatan kompetensi. Tentunya, upaya tersebut dilakukan dalam rangka melahirkan murid menjadi insan ‘being’, murid yang mampu memanfaatkan pengetahuan dari hasil proses pembelajaran untuk survive dalam kehidupannya. ***

Dadang A. Sapardan, Pemerhati Pendidikan.