Oleh Didin Tulus
AKHIR-AKHIR ini, ruang publik kita seolah dipenuhi aroma anyir kebusukan. Setiap membuka layar gawai atau membaca lembaran koran, kita kerap disuguhi parade perilaku para pemangku jabatan yang jauh dari nilai-nilai luhur. Malu seolah telah menjadi barang langka, digadaikan dengan ambisi pribadi dan kelompok. Rakyat dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan mereka yang duduk di kursi kekuasaan dengan mudahnya mengambil yang bukan hak, merampok fasilitas negara, bahkan tega merusak tatanan alam tanpa bergeming rasa dosa. Di tengah kegamangan itulah, saya menyambut dengan antusias dan penuh harap kebijakan yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Sebuah kebijakan yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar mengobati gejala: pembenahan karakter melalui penekanan pada pendidikan akhlakul karimah.
Kebijakan Pak Gubernur ini, bagi saya, adalah oase di tengah gurun moral yang tandur. Betapa tidak, selama ini kita terlalu sering terjebak pada dikotomi yang keliru. Pendidikan tinggi dan segudang gelar kerap dianggap sebagai jaminan kecerdasan dan kesuksesan. Padahal, jika kita renungkan lebih dalam, hakikat pendidikan yang sesungguhnya bukanlah sekadar transfer ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, inti dari pendidikan adalah pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai kebaikan, dan yang terpenting, pembinaan akhlakul karimah. Seorang pemimpin yang hebat, tidak cukup hanya cerdas secara intelektual. Ia harus memiliki landasan iman yang kokoh dan akhlak yang mulia, sehingga kekuasaan tidak membuatnya lupa diri, dan jabatan tidak menjadikannya tamak.
Kini, kita semua menyaksikan betapa bobroknya sebuah bangsa ketika akhlak tercerabut dari para pemimpinnya. Fenomena “putus urat malu” yang saya sebut di awal adalah buah dari pendidikan yang hanya mengagungkan nilai rapor dan mengabaikan pembentukan hati. Ketiadaan kendali akhlak dan iman inilah yang membuat seseorang dengan mudahnya menghalalkan segala cara. Mereka lupa bahwa di balik jabatan ada amanah, di balik kekuasaan ada tanggung jawab vertikal kepada Sang Pencipta. Akibatnya, rakyat kecil yang menjadi korban, alam dieksploitasi tanpa rasa bersalah, dan masa depan bangsa pun dipertaruhkan.
Oleh karena itu, langkah pembenahan yang dimulai dari Jawa Barat ini saya nilai sangat strategis dan fundamental. Dengan menjadikan akhlak sebagai fondasi kebijakan, kita sedang menanam benih kebaikan untuk jangka panjang. Membangun gedung sekolah memang penting, tetapi membangun mental dan karakter anak-anak bangsa jauh lebih krusial. Jika generasi muda saat ini dididik dengan keseimbangan antara ilmu dan iman, antara kecerdasan dan akhlak, maka kita sedang mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas otaknya, tetapi juga bersih hatinya.
Saya yakin, keberanian dan visi Pak Gubernur ini tidak hanya akan dirasakan oleh masyarakat Jawa Barat, tetapi juga diharapkan dapat menjadi percikan api yang membakar semangat perubahan di seluruh pelosok negeri. Mudah-mudahan apa yang dimulai di tanah Pasundan ini bisa menjadi contoh nyata bahwa pembangunan karakter adalah kunci utama kemajuan sebuah bangsa.
Untuk itu, izinkan saya mewakili hati nurani rakyat yang gelisah akan masa depan bangsanya, untuk menyuarakan: segerakan, Pak Gub. Waktu terus berjalan, dan generasi muda kita menanti teladan serta kebijakan yang membangun peradaban. Semoga Allah SWT senantiasa meridai dan memberi kekuatan untuk mewujudkan cita-cita luhur ini. Aamiin. ***
Didin Tulus, pegiat literasi, tinggal di Kota Cimahi.











