Oleh Dinn Wahyudin
ENAM tahun telah berlalu, tepatnya 3 Mei 2020 Prof. Dr. (HC) Muhammad Nu’man Somantri (Rektor IKIP Bandung, sekarang UPI) wafat menghadap Sang Khalik. Jejak pemikiran, keteladanan, dan pengabdiannya dalam dunia pendidikan Indonesia tetap hidup dan relevan hingga saat ini. Sebagai akademisi, guru besar, sekaligus mantan Rektor IKIP Bandung, almarhum meninggalkan warisan intelektual dan moral yang tidak hanya tercermin dalam gagasan pendidikan yang humanis, tetapi juga dalam nilai-nilai kepemimpinan (leadership value) yang ilmiah, edukatif, dan religius.
Tulisan ini mudah-mudahan dipandang sebagai ikhtiar kecil untuk mengenang sekaligus meneladani pemikiran Prof. Nu’man Somantri, yang memandang pendidikan bukan sekadar proses akademik, melainkan jalan membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, dan Allah SWT. Warisan beliau tidak hanya tersimpan dan dikenang dalam buku dan kebijakan pendidikan, tetapi juga tetap hidup menginspirasi dalam budaya akademik, semangat pengabdian, dan inspirasi yang terus hidup di tengah civitas akademika Universitas Pendidikan Indonesia dan dunia pendidikan Indonesia.
Muhammad Nu’man Somantri merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya dalam pengembangan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
Beliau dikenal sebagai akademisi, pemikir, sekaligus praktisi pendidikan yang konsisten memperjuangkan pendidikan yang humanis, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Gagasannya tidak hanya berpengaruh dalam pengembangan kurikulum, tetapi juga dalam membangun paradigma pendidikan yang menempatkan manusia sebagai pusatnya. Pemikiran beliau tetap relevan hingga kini, terutama dalam menghadapi tantangan pendidikan di era globalisasi dan perubahan sosial yang cepat.
Sebagai Rektor IKIP Bandung, beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dalam prinsip namun humanis dalam pendekatan. Ketegasan beliau tercermin, misalnya, dalam komitmennya menegakkan disiplin akademik dan integritas kelembagaan. Ia mendorong agar kampus tidak sekadar menjadi tempat belajar, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter ilmiah yang bertanggung jawab. Dalam berbagai kesaksian civitas akademika, beliau tidak ragu mengambil keputusan strategis yang mungkin tidak populer—seperti penertiban administrasi akademik, penguatan standar mutu pengajaran, termasuk memberikan sanksi kepada dosen, tenaga kependidikan atau mahasiswa yang melakukan pelanggaran.
Namun, ketegasan tersebut tidak menjadikan beliau sosok yang kaku. Ia juga dikenal memiliki sisi humanis dan humoris yang khas, terutama dalam interaksi akademik sehari-hari. Dalam forum-forum ilmiah maupun perkuliahan, beliau kerap menyisipkan humor cerdas yang kontekstual, bukan sekadar untuk mencairkan suasana, tetapi juga sebagai strategi pedagogis untuk mendorong refleksi kritis mahasiswa.
Ungkapan humor yang beliau gunakan sering kali bersifat “satir akademik”—menyentil praktik pendidikan yang terlalu formalistik atau hafalan, sehingga peserta didik terdorong berpikir lebih mendalam. Dalam beberapa kesempatan, beliau kerap menyisipkan candaan edukatif untuk mencairkan suasana diskusi ilmiah. Salah satu gaya beliau adalah mengingatkan dosen dan mahasiswa agar tidak terlalu serius “mengejar gelar tetapi lupa belajar.” Dengan nada ringan beliau pernah menyampaikan bahwa “kampus jangan sampai hanya melahirkan sarjana yang pandai berbicara, tetapi bingung ketika diminta memecahkan persoalan masyarakat.” Humor-humor seperti itu justru memperlihatkan karakter beliau sebagai pendidik humanis yang dekat dengan mahasiswa dan kolega. Di tengah ketegasannya terhadap disiplin ilmu dan moral akademik, terselip kehangatan dan kearifan yang membuat gagasannya terasa hidup, membumi, dan mudah diterima.
Legacy Pemikiran
Catatan berikut merupakan bagian kecil dari legacy pemikiran Prof. Nu’man Somantri dalam membangun pendidikan Indonesia. Gagasan Prof. Nu’man Somantri dapat dipandang sebagai warisan intelektual yang terus relevan bagi pengembangan pendidikan Indonesia.
Pertama, penggagas ”Pembaharuan Pendidikan IPS”. Salah satu mahakarya penting yang pernah ditulis Prof. Nu’man Somantri yaitu perlunya reformasi pembelajaran IPS agar lebih kontekstual, kritis, dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Ia mengkritik pendekatan hafalan dan mendorong IPS sebagai sarana membentuk kesadaran sosial dan kemampuan berpikir kritis.
Gagasan ini diterapkan melalui pembelajaran berbasis isu sosial, misalnya siswa diminta menganalisis masalah kemiskinan di lingkungan sekitar, melakukan wawancara sederhana, lalu merumuskan solusi. Model ini menggantikan pola lama yang hanya menghafal definisi tanpa memahami realitas sosial yang sebenarnya.
Kedua, pencetus “Perspektif Pendidikan IPS”. Sebagai seorang guru besar pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan (PKN), beliau menulis secara komprehensif landasan filosofis, sosiologis, dan pedagogis pendidikan IPS. Karya buku ini banyak dijadikan rujukan dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran IPS di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan sampai sekarang. Buku ini membantu calon guru merancang pembelajaran yang tidak hanya berisi materi, tetapi juga tujuan nilai dan sikap. Misalnya, ketika mengajarkan topik keberagaman budaya, guru tidak hanya menjelaskan fakta, tetapi juga merancang diskusi untuk menumbuhkan toleransi dan empati antarsiswa.
Ketiga, pelopor “Pembaharuan Pendidikan IPS”. Buku ini merupakan salah satu karya penting yang menekankan perlunya reformasi pembelajaran IPS agar lebih kontekstual, kritis, dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Prof. Nu’man Somantri mengkritik pendekatan hafalan dan mendorong IPS sebagai sarana membentuk kesadaran sosial dan kemampuan berpikir kritis. Gagasan dalam buku ini dapat diterapkan melalui pembelajaran berbasis isu sosial, misalnya siswa diminta menganalisis masalah kemiskinan di lingkungan sekitar, melakukan wawancara sederhana, lalu merumuskan solusi. Model ini menggantikan pola lama yang hanya menghafal definisi tanpa memahami realitas sosial yang sebenarnya.
Keempat, penggagas “Pendidikan IPS sebagai Disiplin Ilmu dan Program Pendidikan”. Pemikirannya menjelaskan posisi IPS tidak hanya sebagai mata pelajaran, tetapi juga sebagai disiplin ilmu yang memiliki struktur keilmuan yang jelas. Ia menegaskan integrasi berbagai ilmu sosial, seperti sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi dalam kerangka pendidikan ilmu sosial.
Contoh konkretnya adalah dalam satu tema “perubahan sosial”, siswa diajak melihat dari berbagai perspektif: sejarah (perkembangan masyarakat), geografi (pengaruh lingkungan), ekonomi (perubahan mata pencaharian), dan sosiologi (perubahan pola interaksi). Pendekatan terpadu ini membuat pembelajaran lebih utuh dan bermakna.
Kelima, tokoh yang tangguh dalam menyuarakan “Inovasi Pendidikan IPS”. Prof. Nu’man Somantri sangat produktif menulis makalah dan artikel ilmiah yang membahas inovasi pembelajaran IPS, termasuk pendekatan kontekstual, pembelajaran berbasis masalah, dan pendidikan nilai dalam IPS. Karya-karya ini berpengaruh dalam praktik pendidikan di sekolah dan kebijakan kurikulum nasional. Secara konkret, inovasi yang ditawarkan dapat berupa penggunaan metode project-based learning, seperti siswa membuat peta sosial desa atau kota mereka, mengidentifikasi masalah, dan mempresentasikan solusi. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman konsep, tetapi juga keterampilan kolaborasi dan komunikasi bagi para mahasiswa yang dibimbingnya.
Keenam, Prof. Muhammad Nu’man Somantri juga dikenal sebagai penggagas moto Universitas Pendidikan Indonesia: “Ilmiah, Edukatif, dan Religius,” yang mencerminkan visi pendidikan tinggi yang utuh dan berimbang. Dalam pandangan beliau, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus membentuk insan yang memiliki kepedulian pedagogis dan landasan moral-spiritual yang kuat. “Ilmiah” berarti kampus harus menjunjung tinggi tradisi berpikir kritis, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan secara objektif dan rasional. “Edukatif” menegaskan bahwa seluruh aktivitas akademik harus bernilai mendidik, membangun karakter, dan memanusiakan manusia. “Religius” menunjukkan pentingnya nilai-nilai keimanan, etika, dan tanggung jawab moral dalam kehidupan akademik maupun sosial. Melalui moto tersebut, Prof. Nu’man Somantri ingin menegaskan bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mampu memadukan kecerdasan intelektual, kematangan pedagogis, dan keluhuran akhlak, sehingga melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga bijaksana dan berintegritas dalam mengabdi kepada masyarakat dan bangsa. Beliau juga merupakan salah seorang Pembina Mesjid Al-Furqon Universitas Pendidikan Indonesia.
Ketujuh, Prof. Muhammad Nu’man Somantri juga dikenal memiliki kepedulian yang besar terhadap bidang seni dan kebudayaan sebagai bagian penting dari pendidikan manusia seutuhnya. Beliau meyakini bahwa pendidikan tidak hanya membangun kecerdasan intelektual, tetapi juga harus mengembangkan kehalusan rasa, kreativitas, dan identitas budaya bangsa. Kepedulian tersebut tercermin melalui dukungannya terhadap berbagai aktivitas seni, termasuk keterlibatannya dalam pengembangan kelompok seni “Kabumi” yang menghadirkan perpaduan nilai budaya, pendidikan, dan ekspresi artistik. Melalui berbagai pergelaran seni dan budaya, karya-karya yang didukung dan diinspirasi oleh semangat beliau bahkan tampil hingga ke mancanegara, menjadi media diplomasi budaya (a vehicle for cultural diplomacy) sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan seni Indonesia kepada dunia. Dalam pandangan beliau, seni bukan sekadar hiburan, melainkan wahana pendidikan karakter, penguatan jati diri bangsa, dan jembatan dialog antarbudaya yang memperkaya kemanusiaan.
Itulah sekilas jejak sunyi almarhum Prof. Muhammad Nu’man Somantri sebagai seorang akademisi, pemikir, sekaligus praktisi pendidikan yang konsisten memperjuangkan pendidikan yang humanis, kontekstual, dan berorientasi pada pembentukan karakter. Dalam pengkhidmatan yang tulus tanpa henti itulah, ia menemukan jalan pulang menuju Sang Khalik. Semoga Almarhum Prof. Muhammad Nu’man Somantri telah berada dengan tenang di Alam Barzah, di tempat yang sangat dimuliakan Allah SWT. Bisikan do’a terus mengalir: Allahummaghfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fuanhu. Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dan maafkanlah dia. Aamiin Ya Mujibasaillin. ***
Dinn Wahyudin, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).











