PUISI Fiqih Mulia Akasah dan Nurul Aéni Fitriah

mulia
Ilustrasi “PUISI Fiqih Mulia Akasah dan Nurul Aéni Fitriah”, (Foto: Nu.or.id).

Puisi Fiqih Mulia Akasah

HITAM PUTIH

Hitam putih adalah aku
Yakni manusia pasca-tradisional
Flamboyan bukanlah aku
Akulah hollyhock yang tumbuh di iklim pneunoia

Akulah generasi hitam putih
Mengikuti arus peradaban
Yang teronggok pada dongeng masa depan
Akulah kaki bangsa, yang masih gugup untuk berjalan

Akulah hitam putih
Gambaran tatanan zaman yang semrawut
Langit bukanlah aku
Akulah tanah yang menyerap segala bentuk kepedihan dan penderitaan

Akulah hitam putih
Bayangan gelap masa lalu
Cahaya terang masa depan
Menjadi penengah dari segala macam warna warni dunia

***

FENOMENA

Fenomena despotisme marak memang
Dari dulu hingga sekarang
Perundingan di meja sidang hanya menghasilkan genderang perang.
Benteng Feodal semakin angkuh mengekang.

Rakyat tenggelam dalam mimpi demagogi
Memberontak hanya akan mengundang mati.
Kelaparan sudah menjadi tradisi.
Pemerintah tak pernah menggunakan hati,
mereka lebih sering menggunakan belati.

Suara jerit penderitaan tak jemu-jemu berkumandang
Hasil panen petani dirampas demi kebutuhan perang
Penindas dan Penjajah sama saja,
tak pernah membuat tenang.
Ambisi kekuasaan selalu menghadirkan penderitaan panjang.

***

KULTURALISME PEMUDA

Teramat apatis tingkah laku kita
Buta terhadap segala macam warisan budaya
Pasif untuk menerobos cakrawala sejarah
Malu tenggelam dalam samudera keambiguan adat istiadat

Palung kulturalisme budaya enggan kita pelajari
Sedang beribu budaya modernitas kita junjung tinggi
Segala bentuk kebudayaan dikomersialisasi

Sebab seni sekarang ini, hanya memperhitungkan untung rugi

Menangis nenek moyangku
Melihat sang pewaris menjual harta warisannya
Lemah langkah pemuda
Kena tampar ruh moyangnya

***

Puisi Nurul Aéni Fitriah

TULUS DAN SEWINDU

Satu dekade lalu,
sedang hangat-hangatnya sewindu.
Aku, mengubah pandangan menjadi tulus.
Mengganggapmu sebagai larapku.
Bédanya, aku tidak menunggu di depan pintu.
Aku menunggumu, di ujung jalan itu.

Tulus mencoba memberiku peringatan.
Lalu mendatangkanmu seseorang dengan harapan.
Merampas pagi, siang, dan malam.
Membuatmu lupa aku yang di ujung jalan.
Membuatku semakin sadar,
bahwa hanya aku yang kegeeran.

***

HURU

Sadar teu sadar,
nya urang pisan nu saenyana geus méré lolongkrang.
Malah milu ngadalangan ngagedurna éta seuneu durukan.
Urang mémang henteu mirun,
henteu ogé milu ngahuru.
Tapi naha urang teu milu mindingan,
supaya ngaléntabna teu ngalegaan?

***

Fiqih Mulia Akasah, alumni SMKN 1 Kadipaten, tinggal di Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten, Kabupaten Majalengka.

Nurul Aéni Fitriah, guru Basa Sunda MTs Persis Katapang, Kabupaten Bandung.