Oleh Nunu A. Hamijaya
KONSEP religiusitas dalam Al-Quran dijabarkan secara jelas melalui nilai-nilai ketauhidan. Melalui konsep ‘bismilah’ bahwa segalanya berawal atas nama Allah SWT, sebagai sumber perintah dan ibadahnya bergantung atas ridho-Nya. Maka, tatkala religiusitas seorang mukmin diwujudkan dalam karya sastra, isinya adalah refleksi atas pemahaman dan penghayatannya terhadap Tauhid berdasarkan perspektifnya terhadap diri dan lingkungannya. Penelitian Bergin membuktikan bahwa orientasi religius intristik diasosiasikan dengan bebas dari keragu-raguan, minimasi kecemasan, kegigihan berusaha dan kesiapsiagaan.
Religiusitas dalam Islam adalah penghayatan mendalam terhadap ajaran Islam yang diwujudkan melalui keyakinan (iman), pelaksanaan ritual (ibadah), dan pengamalan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Ini mencakup internalisasi akidah dan kaidah agama secara totalitas untuk menuntun individu menuju jalan yang benar.
Religiusitas dalam karya sastra mendapat penguatan dari pernyataan Mangunwijaya (1988:11) yang mengatakan bahwa pada awalnya, seluruh karya sastra adalah religius. Sebagai contoh, novel Khotbah di Atas Bukit (1976), karya sejarawan muslim, Kuntowijoyo.
Perubahan fokus religiusitas dalam karya sastra , misalnya nampak pada karya novel “Atheis” (1948) dan novel “Manifesto Khalifatullah’ (2005), keduanya karya maestro novel Achdiat K. Mihardja. Dua novel ini mengangkat tema filosofis religiositas sang tokohnya.
Adapun Ganjar Kurnia adalah budayawan Sunda asal Bandung yang belum lama ini genap berusia 70 tahun dan telah purnatugas sebagai profesor. Dua periode menjabat Rektor Unpad (2007-2015). Sosoknya sebagai budayawan Sunda telah dirintis sejak aktif di Damas (Daya Mahasiswa Sunda) yang didirikan pada 14 Oktober 1956. Beberapa nama pendiri di antaranya Adjat Sudradjat, Arifin Joesoef. Memet H. Hamdan, dan Yus Ruslan Ahmad
Religiusitas ala Ganjar Kurnia, tentunya perlu ditelaah berdasarkan perjalanan hidup yang membentuknya di awal pertumbuhan pribadinya. Menurutnya, ia sangat berutang budi pada organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII), berdiri 4 Mei 1947, yang pernah diikutinya sejak tahun 70-an, bersama Tatang Sumarsono. Bahkan, Ganjar Kurnia menjabat seksi pendidikan dan kebudayaan dalam kepengurusan PII Wilayah Jawa Barat di era Tenny Wiswarman.
Dalam orasinya sebagai Guru Besar, Ganjar Kurnia menyatakan bahwa pengalaman mengikuti sistem training di PII, sama kualitasnya bahkan tidak akan ditemuinya dalam pendidikan S-3.
Kecintaan terhadap budaya Sunda, yang diwujudkannya dengan merintis Pusat Budaya Sunda (PSB) Unpad, dan berkiprah pada Yayasan Pusat Studi Sunda (PSS) adalah wujud konkret religiusitasnya yang membumi. Pada titik ini, ia sependapat dengan Mang Endang Saefudin Anshori (yang juga seniornya di PII), bahwa Islam itu Sunda dan Sunda itu Islam. Ia menjaga secara dinamis agar Sunda tidak lepas dari nilai-nilai Islam inklusif.
Sastra Sunda Ngigelan Zaman Digital: Fiksi Mini
SAJAK KEUR SUNDA
Ganjar Kurnia
Kungsi hurung dina dada peuting,
ayeuna kari raga —
anu jiwana
geus dikurebkeun
ku diri sorangan.
Di hareup,
jaman ngadodoho —
mawa panyakit
anu siap narajang
Lamun ayeuna cicing,
urang ngan bakal jadi lebu
nu diapungkeun ku sajarah.
Mangka hudang.
Seungeut deui sumanget,
saméméh batur
nyebut urang:
éléh.
Pusat Digitalisasi Sunda Unpad yang didirikan oleh Ganjar Kurnia adalah bagian dari visioneritasnya dalam melestarikan karya sastra Sunda agar mampu ‘ngigelan zaman’. Salah satu bentuk kreasi karya sastra misalnya dengan karya penulisan fiksi mini.
Adapun fiksi mini Sunda, pertama kali dikenalkan pada tahun 2011 dengan munculnya satu akun di jejaring sosial facebook yang menampung tulisan-tulisan dari para penulis fiksi mini atau yang dikenal dengan istilah fikminer. Wadah ini merupakan salah satu upaya dari para pemerhati sastra Sunda khususnya dan bahasa Sunda pada umumnya untuk melestarikan bahasa dan sastra Sunda. Karena ada ketakutan bahwa bahasa dan sastra Sunda akan punah.
Pengertian fiksi mini dalam bahasa Sunda sebenarnya hampir sama seperti pengertian fiksi mini pada umumnya. Fiksi mini Sunda adalah tulisan dalam bentuk prosa yang menggunakan bahasa Sunda, terdapat plot dan panjang tulisan tidak lebih dari 150 kata.
Terkait dengan pengertian fiksi mini ini, Ganjar Kurnia menghasilkan karya buku fiksi mininya yang berjudul ‘Nu keur Neangan’. Ia menyatakan bahwa hampir semua karya yang dihasilkannya selalu bersifat spontan, tanpa rancangan seperti karya sastra lain. Menurut Ganjar Kurnia, spontan berarti didasarkan pada apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan pada saat mencari hal-hal yang dianggap unik dan langsung dicurahkan melalui fiksi mini.
Fiksi mini karya Ganjar Kurnia bukan fiksi mini yang susah untuk dipahami alur dan maksudnya. Karyanya tidak dipenuhi istilah atau kata asing, bukan pula fiksi mini yang dari awal kalimat sampai akhir kalimat yang dipenuhi oleh metafor, ataupun yang dibuat secara perlahan dengan merekayasa diksi dan alur cerita. Tapi fiksi mini yang ditulis oleh Ganjar Kurnia adalah yang ditulis dengan spontan, dari ide yang lewat masih segar dan renyah untuk dibaca. Sejak awal menulis fiksi mini sampai sekarang, Ganjar Kurnia tetap dalam gayanya yang mandiri, ia mewujudkan esensi fiksi mini yaitu imajinatif, mengajak berpikir pembacanya serta mengungkap makna yang luas dalam kata dan kalimat yang singkat.
Puisi Sunda Religius: Pupujian dan Syair
Puisi Sunda religius disebut Yus Rusyana, sebagai pupujian yang berisi puja-puji, doa, nasihat, dan pelajaran yang beijiwakan agama islam. Puisi pupujian ini biasa diucapkan dengan berlagu (Yus Rusyana, 1971 :1). Menurut Kamus Basa Sunda R. Satjadibrata (1954) pupujian berasal dari kata puji, muji yang berarti mengucapkan kata-kata kebaikan atau kelebihan. Pupujian dalam bahasa Sunda kadang-kadang disebut juga nadoman, artinya untaian kata-kata yang terikat baris dan bait. Kadang-kadang pula istilah pupujian dibedakan dari istilah nadoman. Istilah pupujian diterapkan untuk puisi yang berisi puja-puji kepada Tuhan sedangkan nadoman diterapkan pada puisi yang berisi ajaran keagamaan, biasanya jumlah baitnya lebih banyak.
Puisi-puisi religius Ganjar Kurnia lebih bersifat puisi bebas, karena hadir di era zaman kontemprorer. Bahkan lebih visioner, Ganjar Kurnia menampilkan syair sebagai puisi lama dalam tampilan puisi modern dengan diksi-diksi yang modern. Dalam khazanah kesusastraan, syair sebetulnya tergolong ke dalam jenis puisi lama. Syair berasal dari Persia. Kata syair berasal dari bahasa Arab syu`ur yang berarti perasaan. Kata syu`ur berkembang menjadi kata syi`ru yang berarti puisi dalam pengertian umum.
Sedangkan syair dalam kesusastraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Namun dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair di negeri Arab.
Sebagai penyair yang tergolong “nyleneh“, Ganjar mengubah sedemikian rupa batasan syair menjadi semacam puisi (sajak) seperti sekarang. Baik dalam pemilihan rumpaka maupun tipografi syair, syair karya Ganjar keluar dari pakem-pakem syair. Akan tetapi ia tetap berpegang teguh pada pesan (muatan) yang ingin disampaikan dari syair, yakni sebagai media dakwah.
Syair memang terbagi ke dalam berbagai macam, salah satunya adalah syair agama. Syair agama dibagi menjadi empat yaitu, syair sufi, syair tentang ajaran Islam, syair riwayat cerita nabi, dan syair nasihat. Jenis-jenis syair ini mempunyai pesan tertentu. Dan Ganjar menyampaikan semua pesan itu dalam bentuk syair “kekinian”.
Genep Mangsa sakedet netra
Alloh nyipta dunya
Langit diluhurkeun
Ngagantung estu sampurna
Peuting dilanteraan
Ku gurilap bentang jeung bulan
…
Kun fayakun – kun fayakun
Dalam “Sya`ir keur Syi`ar” ini Ganjar ingin memberikan warna baru dalam ranah musik Islami, yang selama ini notabene garapan warna musiknya lebih banyak terpengaruh musik Timur Tengah. Selain “Kun Fayakun“, ada sembilan rumpaka syair lain karya Ganjar Kurnia yang akan dipersembahkan pada pergelaran ini, antara lain “Adzan Munggaran”, “Rosul Pinilih”, “Kalindih”, “Warta Ti Sidratul Muntaha”, “Tanceb Kayon”, “Sakaratul Maot”, “Titis Tulis”, “Qiyama”, dan “Tobat”.
HAPÉ TOBAT
Ganjar Kurnia
Siki tasbéh nu ngabeulit —
dina leungeun karijut
robah jadi jadi sinyal 4G
Kuring muka aplikasi “Sujud-Online”
Dina layar smartphone
aya notifikasi :
“Pépéling, mémori kasombongan anjeun geus pinuh,
geura tobat!”
Bateré iman tinggal sapersén
Dicas ku sora adzan ti tajug.
Kuring nga restart batin
dina kasadrah
Anténeu-anténeu di luhureun imah
jadi ramo anu ngacung ka langit,
néangan password haratis
pikeun nembus panto MantenNa.
Dua dampal leungeun
anu ditamprakkeun
neneda langsung ka Arasy.
Sajadah jadi motherboard raksasa,
nganteur sujud uploading dosa
ka mega (cloud) hampura.
Dina layar touchscreen nu peupeus,
kuring diudag-udag kalangkang diri sorangan
Aya karumasaan:
diri téh ngan ukur software
anu keur diajar jadi manusa.
130326
MAMALEMAN
Ganjar Kurnia
Di luhur sajadah digital,
urang keur log-in
kana angka-angka mamaleman
21, 23, 25, 27, jeung 29.
Langit peuting
lain ngan saukur kempis atum,
tapi monitor résolusi luhur,
dimana malaikat
lungsur mawa paréntah
dina wangun kode-kode berkah.
Jemplingna kota
méré simulasi sawarga
nu leuwih jero
tibatan nu kungsi dibayangkeun.
Biométrik anu jadi ciri Positivisme
nétra kateuteup ku layar batin
Ketug jajantung karékam
dina aplikasi dzikir
Hawa tiis nu kabaca dina térmométer iman,
sagalana nyata, sagalana data,
tapi angger aya Hiper-réalitas
nu teu bisa karampa
Urang teu bisa ngabédakeun
mana geter du’a —
mana geter sinyal sélulér
Dina sela-sela sujud,
urang papada néangan
lolongkrang sistem dunya nu fana,
pikeun nembus jerona Hermeneutika.
Di balik sagala simulasi dunya,
aya Nu Maha Nyata
nu keur nungguan diri disconnect tina ego,
sangkan sakabéhna bisa upload kana ridhoNa.
Peuting mamaleman,
lain saukur rotasi waktu dina poé,
tapi hyper-link anu nyambungkeun
titik hina urang,
ka singgasana agung di Arasy-Na.
Mangsa tanda leuwih nyata
tibatan nu ditandaan,
di dinya iman manggihan jalan
100326
MUDIK
Ganjar Kurnia
Aspal jalan
robah jadi walungan cipanon
Ban mobil muterkeun waktu jeung jarak
Kuring diuk dina korsi beus
anu dijieun tina haseup panineungan,
nyekel tikét mangrupa salembar daun garing
Dina éta daun,
ngaran kuring katingal
geus luntur ku poé
Kawas anu nandaan
yén beuki jauh urang laju,
beuki deukeut ka titik ngamimitian —
di luar jandéla,
daun-daun dina tangkal maluguran
Sora klakson,
nganteur gumuruhna jiwa
anu rurusuhan hayang nepi ka lembur
Macét,
lain ku kandaraan,
tapi ku tumpukan harepan
nu geus kadaluwarsa,
jeung dosa-dosa anu dibungkus ku kabohongan
“Mang, dupi ieu téh, leres jalan ka sawarga?”
tanya kuring ka supir rada heureuy
“Ieu mah jalan ka diri sorangan”
walonna bari ngalungkeun seuri bau kasturi.
Mudik téh horéngan
lain ukur pindah raga,
tapi pindah tina titingalian
kana pangreungeu.
Sajatining mudik,
lain balik ka karang pamidangan
tapi ka imah
anu hateupna dijieun tina cahaya kafitrahan
110326
Dengan karya prosa dan banyak puisi religius yang dihasilkannya ini patut mendapat apresiasi yang menempatkan Ganjar Kurnia sebagai salah satu penyair Sunda era 70-an yang masih berkarya hingga saat ini. Berkemampuan meramu unsur-unsur klasik, seperti pupujian, nadoman, dan syair ke dalam teks puisi modern kontemporer yang dapat dinikmati oleh generasi milenial dan Gen Z. ***
Kaum al I’anah, 15 April 2026.
Nunu A. Hamijaya, Pusat Studi Sunda (PSS) Bandung.











