ZONALITERASI.ID – Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Gajah Mada (UGM) mengirim surat terbuka ke United Nations Children’s Fund (Unicef) untuk merespons tragedi siswa sekolah dasar (SD) yang bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dilaporkan sebelumnya, diduga siswa SD bunuh diri disebabkan karena tidak mampu membeli pulpen dan buku sekolah yang harganya kurang dari Rp10 ribu.
Ketua BEM KM UGM, Tyo Ardianto, menilai kejadian tersebut bertolak belakang dengan komitmen konstitusi Indonesia yang menyatakan bahwa setiap anak dijamin akses terhadap pendidikan, termasuk juga Pasal 28 Konvensi Hak-hak Anak.
“Di mana negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan akses terhadap pendidikan yang berkualitas, setara, dan adil bagi semua anak di negara tersebut,” kata Tyo, dalam surat terbukanya, dikutip dari akun instagram resmi @bem.ugm, Sabtu, 7 Februari 2026.
Tyo juga menyoroti bagaimana pemerintah saat ini lebih memilih memangkas anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) tinimbang membenahi masalah ketidaksetaraan dan keadilan sistemik.
“Alih-alih memprioritaskan anggaran untuk memperbaiki ketidaksetaraan dan keadilan sistemik, ia (Presiden Prabowo-Red.) sengaja memangkas anggaran pendidikan untuk kebijakan yang membawa bencana, berbiaya tinggi, dan berpotensi menyebabkan keracunan makanan yang disebut Makan Bergizi Gratis,” jelas Tyo.
Maka dari itu, BEM KM UGM meminta agar lembaga PBB Unicef ikut memperhatikan dan mengadvokasi kebijakan perlindungan anak di Indonesia.
“Mengingat tragedi ini, kami mendesak Unicef untuk meningkatkan perannya di Indonesia dengan mengadvokasi kebijakan perlindungan anak yang lebih kuat, menjaga anggaran pendidikan, dan memastikan masa depan setiap anak,” tegas Tyo. (Nabil Haqqillah)***





