Sanggar Purwa Kencana: Merawat Cahaya Emas di Losari

WhatsApp Image 2026 02 01 at 11.33.16 1 2
Sanggar Purwa Kencana Topeng Losari, sebuah ruang kecil yang menjadi benteng terakhir bagi sebuah warisan tak ternilai: Tari Topeng Losari, (Foto: Istimewa).

Oleh Didin Tulus

DI pelosok Kabupaten Cirebon, jauh dari riuh panggung kota, sebuah cahaya budaya terus dijaga nyalanya. Ia bersinar dari Sanggar Purwa Kencana Topeng Losari, sebuah ruang kecil yang menjadi benteng terakhir bagi sebuah warisan tak ternilai: Tari Topeng Losari. Sanggar ini bukan sekadar tempat berlatih, melainkan sebuah ruang ingatan kolektif, di mana setiap gerak dan irama menyimpan jejak panjang sejarah.

Akar kesenian ini menghunjam ke masa lalu, merunut garis keturunan estetis hingga ke buyut dalang, Bapak Sumitra. Sejak era itu, kesenian ini hidup sebagai napas masyarakat, mengalir melalui pentas keliling atau bebarang (berkeliling kampung), menghidupi upacara hajatan seperti pernikahan dan sunatan. Pada 1984, dua perempuan tangguh, Ibu Dewi dan Ibu Sawitri, memutuskan untuk membakukan aliran sungai budaya ini dengan mendirikan sanggar. Nama yang dipilih sarat makna: “Purwa” yang berarti terdahulu, dan “Kencana” yang artinya emas. Sebuah pesan filosofis yang jernih: mereka bertekad menjaga seni masa lalu yang sepeninggal dan berharga laksana emas, warisan budaya Nusantara yang tiada tara.

Di antara pendiri itu, Ibu Sawitri adalah sosok yang melegenda. Sebagai generasi keenam pewaris tari ini, ia mengabdikan seluruh hidupnya dengan tangan dingin, sifat sederhana, namun semangat militan yang membara. Di bawah bimbingannya, Tari Topeng Losari tak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi mulai dilirik oleh mata dunia. Ia menari dan mengajar hingga detik terakhir, menghembuskan napas terakhir pada 12 Juni 1999. Warisannya bukan hanya gerak dan lagu, tetapi sebuah sanggar utuh yang ia titipkan kepada cucunya, Nur’Anani M. Irman. Sebuah tongkat estafet budaya yang berat, diemban di pundak generasi ketujuh.

Nur’Anani berdiri di sebuah persimpangan zaman. Di hadapannya, gelombang globalisasi yang deras seringkali mengikis identitas budaya lokal, menggantikannya dengan tren tanpa akar yang jelas. Eksistensi Tari Topeng Losari, seperti banyak kesenian tradisi lain, terancam punah. Namun, di tengah tantangan itulah komitmennya berkobar. Ia mengambil tugas suci untuk melanjutkan visi para pendahulu: memberikan wacana tradisi melalui apresiasi seni yang hidup dan relevan.

Komitmen itu bukanlah wacana kosong. Bersama Sanggar Purwa Kencana, Nur’Anani telah membuktikannya di panggung dunia. Ia dan sanggar kecil dari Losari itu telah diutus dalam misi kesenian ke 22 negara, memperkenalkan keanggunan dan kedalaman filosofi Topeng Losari kepada khalayak internasional. Setiap tepuk tangan dari penonton mancanegara adalah pengakuan bahwa warisan lokal memiliki resonansi universal. Di dalam negeri, penghargaan dari pemerintah dan komunitas pecinta seni pun mengalir, menjadi suntikan semangat bahwa perjuangannya diperhatikan.

Namun, di balik prestasi internasional dan penghargaan, inti dari segala perjuangan ini tetaplah sederhana dan personal. Seperti yang diucapkan Nur’Anani dengan hati yang tulus, “Saya akan terus menari… hingga kaki saya tidak bisa melangkah lagi.” Kalimat itu adalah mantra sekaligus sumpah. Ia adalah esensi dari dedikasi yang diturunkan dari buyut Sumitra, Ibu Sawitri, hingga kepadanya. Menari bukan sekadar pertunjukan, tetapi sebuah bentuk ketahanan, sebuah cara untuk tetap berdiri dan bersuara di tengah perubahan zaman.

Sanggar Purwa Kencana Topeng Losari, dengan demikian, adalah lebih dari sebuah institusi kesenian. Ia adalah living monument, monumen hidup yang bernapas melalui tarian. Di sana, yang “purwa” (terdahulu) tidak diam sebagai relik masa lalu, tetapi diolah menjadi “kencana” (emas) masa kini—berkilau, berharga, dan mampu menyinari masa depan. Di tangan Nur’Anani dan setiap penari yang setia, cahaya emas dari Losari itu akan terus menari, melintasi batas desa dan negara, membisikkan cerita tentang identitas, ketekunan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. ***

Didin Tulus, penggiat buku, tinggal di Cimahi, Jawa Barat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *