Sunda: Antara Label di Baju dan Cahaya di Kalbu

iket sunda
Iket Sunda, (Foto: Istimewa).

Oleh Didin Tulus

BELAKANGAN ini, ada sebuah tren yang cukup mencolok di tanah Pasundan: gelombang “identitas visual”. Kita bisa dengan mudah menemukan orang-orang yang mengenakan kaos bertuliskan “Urang Sunda” dengan font yang gagah, atau mereka yang melilitkan iket kepala dengan berbagai lipatan seni yang rumit. Secara estetika, ini tentu menggembirakan. Kebudayaan kita kembali “berani” tampil di ruang publik. Namun, di balik semaraknya atribut itu, terselip sebuah tanya yang mengusik: apakah Sunda hanya sekadar merek dagang atau label untuk mendongkrak rasa percaya diri semata?

Banyak orang begitu bangga melabeli diri sebagai “Urang Sunda”, padahal jika ditanya apa itu filosofi Sunda, mungkin jawabannya hanya sebatas tahu “seblak” atau “wayang golek“. Identitas Sunda kini sering kali dipersempit menjadi komoditas. Kita menjual kaos, menjual aksesori, menjual narasi kemegahan masa lalu, namun sering kali abai pada “ruh” yang seharusnya menghidupkan label tersebut.

Mari kita berkaca pada saudara tua kita, masyarakat Baduy (Urang Kanekes). Pernahkah kita melihat seorang pria Baduy memakai kaos bertuliskan “I am Baduy” atau “The Real Sundanese“? Tidak pernah. Mereka tidak butuh label. Mereka tidak butuh pengakuan lewat sablonan kain. Dunia tahu mereka Sunda justru karena laku lampah-nya, karena konsistensinya menjaga alam, dan karena kesederhanaan ucapannya. Bagi mereka, Sunda bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dijalani dalam keheningan pengabdian pada adat.

Kontras yang nyata terjadi di tengah kita. Banyak yang berteriak “Sunda!” di media sosial atau panggung publik, namun tingkah lakunya justru menjauh dari nilai Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh. Kita melihat orang yang ber-iket kepala tapi bicaranya kasar dan penuh kebencian. Kita melihat orang yang bangga dengan “darah Pajajaran” tapi perilakunya justru menindas sesama dan merusak lingkungan. Jika demikian, lantas apa bedanya kita dengan orang luar yang sekadar memakai kostum karnaval?

Sunda yang sejati sesungguhnya bukan terletak pada atribut lahiriah. Sunda mah ayana dina laku lampah. Ia berada dalam setiap langkah kaki yang santun, dalam setiap ucapan yang meneduhkan (someah), dan dalam tekad yang lurus untuk menebar manfaat. Menjadi Sunda adalah sebuah kerja spiritual untuk menyatukan antara ucap, lampah, jeung tekad.

Jika kita mengaku Urang Sunda tapi masih gemar memfitnah, masih rakus pada hak orang lain, atau sombong dengan identitas kelompok, maka label “Sunda” di baju kita hanyalah sebuah kebohongan visual. Iket kepala yang kita pakai seharusnya menjadi pengikat pikiran agar tetap jernih, bukan sekadar hiasan untuk swafoto agar terlihat “berbudaya”.

Otokritik ini bukan bermaksud melarang penggunaan simbol-simbol kebudayaan. Memakai baju adat dan aksesorinya adalah bagian dari pelestarian. Namun, jangan sampai kita terjebak dalam “Sunda Kosmetik”. Budaya kita terlalu agung jika hanya berakhir menjadi katalog produk di toko daring.

Menjadi Sunda adalah menjadi manusia yang masagi. Artinya, kita harus tuntas secara batiniah sebelum memamerkan identitas lahiriah. Mari kita mulai menata kembali jati diri kita. Jangan hanya bangga menjadi “Urang Sunda” karena garis keturunan atau tempat lahir, tapi banggalah karena kita mampu memanifestasikan kelembutan dan kebijaksanaan Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, orang akan mengenali kita sebagai Urang Sunda bukan dari apa yang tertulis di baju kita, melainkan dari kedamaian yang mereka rasakan saat berada di dekat kita. ***

Didin Tulus, penggiat buku, tinggal di Cimahi.