Terang

Oleh Ipit Saefidier Dimyati

WhatsApp Image 2023 08 29 at 17.23.11
Ipit Saefidier Dimyati, Dosen Jurusan Teater ISBI Bandung, (Foto: Dok. Pribadi).

MENGAPA ada gelap dan terang? Sebab kita memiliki mata. Betul bahwa cahaya, seperti lilin atau matahari, memberi kita penerangan, sehingga segalanya terlihat terang. Tetapi, seandainya makhluk hidup tidak punya mata, apakah gelap dan terang itu masih ada? Bahkan jika mata tak ada, kategori gelap dan terang pun tampaknya mustahil ada.

Tetapi apakah itu sebenarnya terang? Terang itu sumber energi. Seandainya di dunia ini tidak ada terang, maka pasti kehidupan juga tidak ada. Para ahli mengatakan bahwa matahari merupakan sumber energi utama di dunia. Banyak suku bangsa memuja matahari sebagai dewa, sebab memang tak akan ada kehidupan jika tak ada matahari.

Sebetulnya matahari itu bola panas yang besarnya 330.330 kali lebih besar daripada bumi. Panasnya bisa mencapai 15 juta derajat celsius. Posisinya yang berada sekitar 149,6 juta kilometer dari bumi, menyebabkan timbulnya kehidupan di bumi. Bisa ditebak bahwa jika ada planet dan bintang yang posisinya sama seperti bumi dan matahari, maka di sana akan muncul kehidupan.

Secara sederhana Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul “The Magic of Reality” (sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia) menunjukkan bagaimana energi dari sinar matahari tersimpan dalam berbagai bentuk di dunia. Awalnya sinar matahari dikumpulkan oleh tumbuhan dan menjadikan energinya tersedia bagi makhluk hidup lainnya. Sewaktu hewan-hewan herbivora memakan tumbuhan, maka energi yang ada di tumbuhan, dan tentu saja ada yang lepas, berpindah ke dalam hewan tersebut. Ketika karnivora memakan binatang yang memakan tumbuhan itu, maka energi matahari sebagian pindah ke pemakan binatang itu. Singkat kata, matahari pada dasarnya merupakan penyedia energi utama bagi makhluk di bumi, meskipun energi itu mencapai hewan, termasuk manusia, secara tidak langsung.

Apakah sinar lampu yang kita terima setiap saat itu berasal dari matahari? Tentu saja ya. Air yang menggerakkan turbin, yang mengalir dari gunung, awalnya berupa awan. Awan adalah air yang diserap matahari ke langit, kemudian menjadi hujan. Air bisa ada di atas, artinya memiliki kondisi mengalir, karena diserap oleh matahari ke atas langit. Tak terbayangkan jika air tak berubah jadi hujan. Air hanya tergenang di bumi atau menggumpal menjadi bongkahan es.

Konon hidup di dunia ini akan punah. Dalam bahasa agama disebut kiamat. Kepunahan dunia telah diprediksi oleh ilmuwan, dan kemungkinan besar oleh perubahan sinar matahari. Sinar matahari pada miliaran tahun mendatang akan terasa semakin panas, dan akhirnya menjadi bola api yang membakar seluruh planet yang ada di sekitarnya, termasuk bumi. Bumi tak lagi memungkinkan untuk dihuni oleh makhluk hidup. Kita tidak tahu, apakah ketika bumi tak lagi layak dihuni, manusia sudah pindah ke planet lain atau ikut musnah?

Tapi jika nanti manusia menemukan planet lain yang layak dihuni, pasti di planet itu sudah ada kehidupan. Mungkin makhluk yang mendiaminya masih primitif atau mungkin juga sudah lebih maju daripada kehidupan manusia di bumi. Yang jelas, pasti manusia harus siap berperang dengan mereka. Apa mau dikata, manusia selalu bermimpi untuk selalu bisa abadi. Untuk mimpinya tersebut, manusia tak segan-segan membunuh makhluk yang lainnya, bahkan, jika terpaksa, sesamanya.***

Ipit Saefidier Dimyati, Dosen Jurusan Teater ISBI Bandung.

Respon (25)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *