Yang Hilang di Tanah Kelahiran (2, Bersambung)

Oleh Suheryana Bae

462377 3684294078885 394474135 o
Ademnya suasana desa, sawah-sawah diselingi kolam ikan, (Foto: Mbah Dudul).

MASIH lanjutan cerita tentang kebiasaan, pekerjaan, dan keasyikan di Desa dahulu kala yang sekarang sudah tidak ditemukan lagi.

Keenam, sesungguhnya orang kampung itu sangat produktif. Pada saat terang bulan, mereka berkumpul di ruang terbuka sambil menganyam tikar pandan dan ngobrol tidak berisi. Mengobrol saja untuk mengisi keheningan malam dan berhaha-hihi. Sementara anak-anak muda, hilir mudik bermain-main untuk mengisi waktu atau berpacaran era zaman dulu yang tidak membahayakan kehidupan.

Melihat para ibu menganyam diterangi sinar rembulan sangatlah mengasyikan. Sesuatu yang sekarang sudah tidak ada, bahkan pandan dan menganyamnya sudah tidak ditemukan lagi. Orang kekinian, lebih banyak menggunakan tikar plastik atau karpet yang harganya lebih murah dan kelihatannya lebih indah.

Ketujuh, ngobor ikan. Alatnya adalah lampu petromak, golok, ayakan bambu dan ember. Betapa mudah mencari ikan di saat itu. Berombongan menyusuri pematang sawah dan selokan di malam hari untuk mencari ikan yang bermunculan di selokan dan sawah, sesekali belut juga ada. Plash dibacok atau disair menggunakan ayakan bambu. Setengah ember falcon ukuran dua puluh kilogram berisi bermacam-macam ikan siap dibakar di tengah malam . Ngaliwet dan makan besar.

Ada juga sesuatu yang lebih mengasyikan. Mancing atau ngambil ikan dari kolam milik orang tua sahabat sepermainan. Kemudian dibawa ke rumahnya untuk dimasak. Ngaliwet di rumahnya, bikin sambal dan enak-enak. Tentu dia dan keluarganya tidak tahu bahwa ikan yang diambil itu dari kolamnya. Nanti berminggu-minggu atau berbulan-bulan kemudian barulah diceritakan sambil ketawa-ketawa dan minta diikhlaskan. Tidak masalah.

Kedelapan, untuk memenuhi kebutuhan alat olah raga, entah itu bola sepak, bola voly dan net dulu menggunakan kreativitas anak kampung dan kondisi alam. Caranya adalah berburu tupai. Dosa sang tupai adalah membolongi kelapa di pohonnya, sehingga penghasilan para petani terganggu. Maka dibuatlah komitmen, orang yang dapat membunuh satu tupai berhadiah satu butir kelapa diambil langsung di pohonnya. Untuk pembuktian buntut tupai dipotong dan ditunjukkan kepada warga.

Kelapanya kemudian dikumpulkan dan dijual ke bandar. Hasilnya dibelikan peralatan olah raga.

Pasti ada juga yang sedikit nakal, ngambil kelapa tanpa mendapat tupai.

Kesembilan, nonton TV ramai-ramai. TV-nya hitam putih dan penuh semut. Tidak bening walaupun sudah dipasang antene sepanjang satu pohon bambu ke atas. Nonton Rudi Hartono, Liem Swie King, Susi Susanti, Ii Sumirat, Svenfri, Verawati Fajrin, Mohammad Ali bertinju secara beramai-ramai. Tentu pakai suit-suit, tepuk tangan, dan komentar amatiran. All England, Thomas Cup, Uber Cup membuat kampung lebih meriah.

Film Rintintin, Scoobedoo, CHIP, di antara filem yang populer di kala itu. Malam minggu dan hari minggu paling rame penonton. Ada yang di dalam rumah, lesehan; ada juga yang di luar rumah melalui jendela yang dibuka. Sekarang setiap rumah punya TV.

Kesepuluh, nonton misbar gratisan. Dua kali seminggu diputar filem di ibukota kecamatan. Di tempat terbuka yang dikelilingi gedeg bambu agar penonton masuk membeli tiket.

Bagi anak bermodal keberanian dan kenekadan, nontonnya dari luar arena. Naik ke pohon. Biasanya setelah setengah maen gedeg dibuka dan digratiskan. Inilah momen yang ditunggu-tunggu. Tapi seninya adalah, ketika berada di pohon, akan ada Sersan Sardaya patroli bermodal baterai dan seragam loreng. Pasti dia teriak-teriak menyuruh turun, kalau kena sial ada anak tertangkap dan ditendang pake sepatu lars. Tapi lebih sering menyelamatkan diri dengan berlari dan bersembunyi. Sendal di tangan, sarung di bahu, dan berlari di kegelapan. Horee Sersan Sardaya kehilangan jejak.

Berangkat dan pulang nonton, jalan kaki. Tidak terlalu jauh. Paling dua kilometer ditempuh dalam setengah atau satu jam. Sambil mengobrol dan menggoda-goda gadis desa perjalanan tidak terasa melelahkan.

Tidurnya, ya di surau, karena setelah subuh mengaji kitab kuning sambil mengantuk. Atau pulang ke rumah, lewat jendela yang tidak dikunci. Waktu itu aman-aman saja. Tidak ada pencuri menyalahgunakan kesempatan. ***

Suheryana Bae terlahir di desa. Berangan menjadi penulis, penyair, atau novelis tetapi dalam perjalanan hidupnya tercatat sebagai ASN sepuluh tahun mengabdi di Timor Timur. Sekarang Asisten Administrasi Umum Pemda Pangandaran.

Respon (48)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *