5 Jenis Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak

1295592297
Ilustrasi "5 Jenis Pola Asuh Orang Tua terhadap Anak", (Foto: Pixabay).

ZONALITERASI.ID – Perubahan status menjadi orang tua merupakan fase yang penuh tantangan dan memerlukan adaptasi. Hal tersebut dikarenakan individu yang bersangkutan akan memasuki fase menjadi orang tua.

Salah satu peranan orang tua yaitu menentukan pola asuh anak mereka. Pengasuhan atau parenting pada umumnya memiliki tujuan yang hampir serupa yakni memastikan kesehatan dan keselamatan anak, menyiapkan anak untuk menjalani kehidupan yang produktif saat dewasa, serta mewariskan nilai-nilai budaya.

Selain itu, pengasuhan juga turut andil dalam pembentukan karakter, sifat, perilaku seorang anak yang nantinya akan dibawa hingga akhir hayat.

Berdasarkan berbagai teori dan literatur yang ada dalam psikologi anak, terdapat sebuah konsep yang selalu menjadi rujukan dalam membahas tipe pola asuh atau parenting styles.

Berikut 5 jenis pola asuh orang tua, dikutip dari kampuspsikologi.com.

5 Jenis Pola Asuh Orang Tua

1. Pola asuh otoriter

Tipe pengasuhan otoriter atau authoritarian merupakan sebuah pengasuhan anak di mana orang tua melihat keluarga sebagai sebuah hirarki dan melihat diri mereka sebagai sosok yang berada di puncak hirarki tersebut. Orang tua juga memberikan aturan-aturan sebagai bentuk pengontrolan dan pembatasan dengan harapan anak akan patuh dan tidak melanggar aturan yang ada.

Pada praktiknya, apabila anak tidak mengikuti aturan yang diberikan, orang tua cenderung akan memberikan hukuman. Tidak hanya itu, hubungan antara keduanya juga tidak terjalin dengan baik karena adanya batasan komunikasi verbal. Hal ini salah satunya dikarenakan orang tua dengan tipe pola asuh otoriter cenderung tidak menerima perbedaan atau pertentangan, yang berujung pada sedikitnya penggunaan kalimat yang mendukung anak serta cenderung memberikan respon yang mengecilkan hati.

2. Pola asuh otoritatif

Secara sederhana, authoritative parenting atau tipe pola asuh otoritatif merupakan tipe pengasuhan yang mengkombinasikan kontrol dan dukungan emosional orang tua terhadap anak dengan seimbang. Komunikasi yang terjalin antara orang tua dan anak juga terbilang baik karena menerapkan komunikasi dua arah yang supportive dan memungkinkan anak untuk melakukan diskusi dengan orang tuanya.

Dengan adanya kesempatan untuk matang sesuai usianya, anak dengan tipe pola asuh otoritatif cenderung memiliki karakter yang mandiri, riang, berorientasi pada pencapaian, hingga memiliki kontrol diri yang baik.

3. Pola Asuh Permisif

Tipe pengasuhan permisif berupa pola asuh yang mana orang tua memberikan dorongan agar anak mandiri, dengan memberikan kebebasan dan otoritas sepenuhnya kepada anak, tanpa adanya aturan, kontrol, dan hukuman. Orang tua dengan pengasuhan ini melakukan konfrontasi terhadap perilaku yang dilakukan sang anak.

Memberikan kebebasan kepada anak tanpa aturan, kontrol maupun hukuman dapat memberikan efek buruk dalam tumbuh kembang mereka.

4. Pola asuh indulgent

Secara general, orang tua memiliki anggapan bahwa dengan memberikan kebebasan melalui pola asuh ini, anak dapat tumbuh dengan baik karena anak tidak terkekang.

Walaupun terlihat membawa dampak positif bagi perkembangan anak, pola asuh indulgent dalam jangka panjang dapat memberikan efek yang tidak diharapkan. Beberapa efek yang muncul pada perilaku anak yakni jarang belajar untuk menghargai orang lain, kontrol diri yang buruk, mendominasi, kesulitan dalam relasi dengan teman sebaya, dan lain sebagainya.

Selain itu, orang dewasa yang diasuh tipe indulgent di masa anak-anak dan remajanya cenderung lebih banyak mengembangkan gejala depresi dan kecemasan serta memiliki kemampuan regulasi emosi yang buruk.

5. Pola Asuh Neglectful

Apabila pada pola asuh indulgent orang tua masih terlibat dalam pengasuhan, maka berbeda dengan tipe pola asuh neglectful atau mengabaikan. Tipe pola asuh neglectful ini serupa dengan artinya, yang mana aspek demandingness maupun responsiveness pada orang tua rendah.

Orang tua yang menerapkan pola asuh neglectful cenderung memiliki keyakinan bahwa peran mereka sebagai orang tua hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan dasar. Kondisi tersebut juga berakibat pada kurangnya perhatian orang tua pada aspek non material, seperti perkembangan emosi, sosial, dan emosional yang juga membutuhkan peran orang tua agar dapat berkembang dengan baik.

Tumbuh dengan tipe pola asuh neglectful memberikan dampak buruk yang cukup besar bagi seorang anak. Anak yang diasuh dengan tipe pola asuh tersebut memiliki harga diri yang rendah serta ketidaksesuaian psikologis yang paling parah, sama seperti anak yang diasuh secara otoriter.

Dari segi akademis, pola asuh neglectful memberikan dampak paling buruk dibandingkan tipe pola asuh yang lain. Kondisi ini sangat mungkin terjadi karena kurangnnya komunikasi dan sumber belajar menjadikan anak sulit untuk mengembangkan perilaku belajar yang baik.

Demikian 5 tipe pola asuh yang banyak menjadi rujukan di ranah psikologi beserta contoh dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Berdasarkan penjelasan tersebut terdapat tipe-tipe pola asuh yang dapat dipertimbangkan ketika di masa depan kita mendapatkan peran sebagai orang tua.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa baik dan benarnya praktik pengasuhan kembali lagi pada situasi, nilai dan budaya yang dipegang dan diyakini oleh keluarga. Hal tersebut dikarenakan tidak semua kondisi keluarga sama antara satu dengan yang lain, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam menerapkan salah satu atau mengkombinasikan beberapa tipe pola asuh di atas. ***