Bukan Saya Dukung Bahasa Indonesia sebagai Bahasa ASEAN

290566772 801420041052001 6789523480599145316 n
Julius Jose Rizal, (Foto: Dok. Pribadi).

Oleh Julius Jose Rizal, S.Pd., M.M.

BEBERAPA bulan yang lalu sempat hangat pembicaraan di berbagai media mulai dari cetak, elektronilk, hingga sosial ihwal pro-kontra wacana menjadikan Bahasa Melayu sebagai Bahasa ASEAN. Wacana ini digulirkan oleh Perdana Menteri Malaysia, Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yaakob pada tanggal 23 Maret 2022 (https://voi.id:Aktual, Berita) yang menimbulkan reaksi dari Bangsa Indonesia sebagai pengguna terbesar
Bahasa Indonesia yang lingkupnya telah mendunia, jauh melampaui batas wilayah ASEAN.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia, Prof. Dr. Endang Aminuddin Aziz memberikan tanggapannya pada tanggal 31 Maret 2022 bahwa Bahasa Indonesia lebih layak untuk dijadikan sebagai Bahasa ASEAN karena jumlah penuturnya sangat banyak dan tersebar di seluruh dunia. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan penutur Bahasa Melayu yang terbatas dalam lingkup Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan sebagian wilayah Pattani Thailand. Namun beliau lebih memilih berhati-hati dan menunggu pernyataan yang lebih kuat dari pejabat negara yang lebih berwenang mengeluarkan pernyataan resmi (https://humbanghasundutankab go.id).

Tanggapan Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia tersebut kemudian dipertegas oleh dengan pernyataan Mendikbudristek, Nadiem Makarim. Dalam pernyataan resminya tanggal 4 Maret 2022, Mendikbudristek dengan tegas menolak ide PM Malaysia. Beliau bahkan menyampaikan argumen bahwa Bahasa Indonesia yang sudah tersebar di empat puluh tujuh negara di dunia dan jumlah penuturnya jauh lebih banyak melampaui jumlah penutur Bahasa Melayu, adalah bahasa yang paling layak menjadi bahasa ASEAN (https://diplomasi republika.co id).

Dari wacana inilah lahir dukungan dari Bangsa Indonesia dalam bentuk twibbon (postingan foto dengan menggunakan bingkai menarik) dengan tulisan Saya Dukung Bahasa Indonesia sebagai Bahasa ASEAN. Twibbon ini beredar luas terutama di lingkungan pendidikan terutama para mahasiswa, pelajar, dan pendidik yang terdiri dari guru dan dosen. Lebih spesifik lagi pendidik dalam konteks ini adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia dan dosen mata kuliah kebahasaan.

Sepintas kalimat tersebut tampak wajar dan baku. Namun jika dianalisis dengan kajian sintaksis, terdapat kesalahan berbahasa. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut.

Saya dukung Bahasa Indonesia sebagai Bahasa ASEAN. (Saya: S, dukung: P, Bahasa Indonesia: O, sebagai Bahasa ASEAN: Ket. Pewatas).

Kalimat tersebut tentunya dimaksudkan sebagai kalimat aktif karena menempatkan Predikat sebelum Objek. Namun penggunaan klausa Saya dukung justru merusak struktur kalimat aktif yang hendak diusung kalimat tersebut.

Klausa Saya dukung pada kalimat tersebut merupakan bentuk pasif dalam sintaksis Bahasa Indonesia. Klausa[1]klausa seperti: saya dukung, kami dukung, kamu dukung, kalian dukung, dan mereka dukung merupakan klausa dalam kalimat pasif. Maka penggunaan klausa Saya dukung dalam kalimat Saya dukung Bahasa Indonesia sebagai bahasa ASEAN, menjadikan kalimat tersebut rancu.

Jika kalimat tersebut hendak dijadikan bentuk aktif, Predikatnya harus berawalan me-.

Perbaikannya menjadi seperti kalimat berikut.

Saya mendukung Bahasa Indonesia sebagai Bahasa ASEAN. (Saya: S, mendukung: P, Bahasa Indonesia: O, sebagai Bahasa ASEAN: Ket. Pewatas).

Sebaliknya jika kata dukung (tanpa awalan me-) tetap dipertahankan, kalimat tersebut harus berbentuk pasif.

Perbaikannya menjadi seperti kalimat berikut.

Bahasa Indonesia saya dukung sebagai Bahasa ASEAN. (Bahasa Indonesia: S, saya: Pel, dukung: P, sebagai Bahasa ASEAN: Ket. Pewatas).

Akan tetapi jika dilihat dari latar belakang lahirnya twibbon yang berupa reaksi pecinta Bahasa Indonesia untuk mendukung bahasanya menjadi Bahasa ASEAN, kalimat tersebut lebih tepat berbentuk kalimat aktif.

Alhasil, berdasarkan analisis sintaksis, seharusnya kalimat dalam twibbon tersebut bukan Saya dukung Bahasa Indonesia sebagai Bahasa ASEAN, melainkan Saya mendukung Bahasa Indonesia sebagai Bahasa ASEAN. ***

Julius Jose Rizal, Kepala SMP Negeri 3 Satu Atap Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.