ZONALITERASI.ID – Kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam peristiwa kurban membuktikan bahwa dialog yang menghargai pendapat anak mampu melahirkan kepatuhan yang tulus tanpa rasa takut. Pendekatan komunikasi yang demokratis antara orang tua dan anak ini menjadi kunci utama untuk membangun ketahanan keluarga Islami di tengah gempuran era individualisme.
Meskipun membawa perintah langsung dari Allah SWT untuk menyembelih sang putra, Nabi Ibrahim AS tidak serta-merta memaksakan kehendak pribadinya sebagai seorang ayah. Beliau justru memilih untuk membuka ruang diskusi yang setara bersama Nabi Ismail AS. Langkah ini menjadi bukti nyata bagaimana pola asuh yang matang mampu melahirkan kepatuhan yang tulus, bukan karena paksaan.
Pengasuh Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta, Ustaz Sabili Izzulhaq, Lc., menegaskan, tindakan tersebut mencerminkan perpaduan luar biasa antara kecerdasan intelektual dan emosional. Nabi Ibrahim AS menempatkan sang anak sebagai mitra dialog yang dihormati pendapatnya.
“Nabi Ibrahim memiliki kecerdasan intelektual yang mampu melahirkan keterbukaan melalui dialog. Beliau tidak memaksakan kehendak secara otoriter kepada anaknya, tetapi mengajak Ismail berdialog secara terbuka dan demokratis sebagai bentuk kecerdasan emosional dan intelektual yang tinggi,” ujar Ustaz Sabili, dikutip dari pwmjateng.com, Kamis, 28 Mei 2026.
Menurut Ustaz Sabili, pendekatan parenting Islami Nabi Ibrahim ini menghasilkan dampak psikologis yang luar biasa. Melalui komunikasi orang tua dan anak yang sehat, Nabi Ismail AS dengan penuh keikhlasan menerima ketetapan tersebut. Kesepahaman batin inilah yang kemudian mengubah sebuah perintah berat menjadi ibadah yang bernilai agung.
Model cara mendidik anak menurut Islam ini sangat relevan untuk menjawab tantangan zaman. Saat ini, masyarakat modern menghadapi ancaman nyata berupa menguatnya sikap individualisme. Minimnya ruang diskusi yang hangat di dalam rumah tangga kerap memicu keretakan hubungan emosional antaranggota keluarga.
Umat Islam harus kembali meneladani esensi dari keteladanan yang ditunjukkan Nabi Ibrahim AS ini untuk meredam ego masing-masing. Momentum hari raya ini menjadi alarm penting bagi para orang tua untuk mengevaluasi kembali gaya pengasuhan mereka. Pengorbanan sejati dalam konteks keluarga adalah kesediaan meluangkan waktu dan menyingkirkan sikap otoriter demi mendengarkan suara anak. ***











