Ratusan Santri Kunjungi Kampung Ramadan Komunitas Gada Membaca, Mengeksplorasi Kreativitas lewat Pohon Literasi

WhatsApp Image 2026 03 08 at 13.01.49 scaled
Sebanyak 110 peserta Pesantren Ramadan Khas Realistiq 1447 H. mengunjungi Kampung Ramadan Komunitas Gada Membaca, Minggu, 8 Maret 2026, (Foto: Komunitas Gada Membaca).

ZONALITERASI.ID – Deretan rak buku di Komunitas Gada Membaca mendadak riuh oleh antusiasme ratusan santri pada Minggu, 8 Maret 2026.

Sebanyak 110 peserta Pesantren Ramadan Khas Realistiq 1447 H., tumpah ruah dalam sebuah misi mulia: menumbuhkan minat baca sejak dini. Kegiatan yang digagas oleh Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Al-Istiqomah Desa Kawali, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis ini menjadi oase literasi yang menyegarkan di tengah ibadah puasa.

Menariknya, peserta tidak hanya datang dari kalangan pelajar. Mulai dari anak usia TK hingga para orang tua, semuanya melebur dalam satu ruang kolaborasi. Pemandangan ini menegaskan bahwa literasi tidak mengenal batas usia, dan Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki kualitas diri melalui kedekatan dengan ilmu pengetahuan.

Jejak Kreatif dari Lembar Buku

Kegiatan ini tidak hanya mengajak peserta untuk sekadar “menatap” huruf, namun juga memproses informasi secara mendalam. Melalui inovasi dari PIK-R Al-Istiqomah, setiap peserta diwajibkan menuliskan intisari atau hikmah dari buku yang mereka baca pada selembar kertas berwarna-warni. Tulisan-tulisan tersebut kemudian dirangkai dan digantungkan pada “Pohon Literasi”.

Ketua Pelaksana Pesantren Ramadan Realistiq, Desa Kawali, Ana Maulana Nugraha, menjelaskan, sinergi ini merupakan bentuk konsistensi yang telah terjaga selama tiga tahun terakhir.

“Berkunjung ke Kampung Ramadan Komunitas Gada Membaca setiap tahun, selalu menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Kami tidak hanya sekadar membaca secara pasif, tapi juga memanfaatkan fasilitas mumpuni yang ada di komunitas ini untuk mengeksplorasi kreativitas tanpa batas,” ujar Ana, di sela Pesantren Ramadan Khas Realistiq 1447 H., Minggu, 8 Maret 2026.

Pembina Pesantren Ramadan Realistiq, Kawali, Farhan Maulana Dharsono, menekankan bahwa output dari kegiatan ini jauh lebih berharga daripada sekadar pengisi waktu luang saat berpuasa. Menurutnya, literasi adalah fondasi utama pembangunan karakter generasi masa depan.

“Literasi sebagai gaya hidup yang melekat. Melalui metode pohon literasi ini, kita sebenarnya sedang melatih anak-anak untuk berani berpendapat dan berpikir kritis sejak dini. Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan; justru ini adalah waktu emas untuk memperkaya wawasan dan spiritualitas sekaligus,” tegas Farhan.

Dampak emosional dan intelektual juga dirasakan langsung oleh panitia penyelenggara. Nada Mutiara Pertiwi, salah satu panitia pelaksana, mengakui adanya transformasi personal selama mendampingi para peserta.

“Secara pribadi, kegiatan ini memberikan manfaat luar biasa. Selain meningkatkan kemampuan literasi, saya merasa ada dampak positif dalam cara saya memahami isi bacaan dan berkomunikasi dengan orang lain. Ini benar-benar memicu semangat saya untuk terus tumbuh menjadi individu yang literat,” tutur Nada.

Kesuksesan acara ini tercermin dari keceriaan para peserta yang hadir. Salah satunya adalah M. Falah Al-Hafidz, yang tampak begitu bersemangat saat membuat tulisannya untuk pohon literasi.

“Kegiatan ini seru sekali, kreatif, dan tidak membosankan sama sekali. Wawasan saya jadi bertambah karena bisa menemukan banyak buku unik yang jarang saya temui sebelumnya. Benar-benar menambah pengalaman baru di bulan Ramadhan tahun ini,” ungkap Falah.

Keberlanjutan kegiatan ini membawa dampak positif yang signifikan terhadap perkembangan kognitif dan sosial para peserta. Melalui metode menuliskan kembali hasil bacaan, para santri secara tidak langsung melatih kemampuan analisis dan sintesis informasi, yang merupakan pilar utama dari kecerdasan kritis.

Selain itu, keterlibatan orang tua dalam kegiatan ini menciptakan sebuah ekosistem literasi yang sehat di lingkungan keluarga, sehingga aktivitas membaca tidak lagi dianggap sebagai kewajiban sekolah yang membosankan, melainkan sebuah kebutuhan intelektual yang menyenangkan.

Lebih jauh lagi, kolaborasi ini memperkuat kedisiplinan dan manajemen waktu para remaja selama bulan suci. Alih-alih menghabiskan waktu dengan aktivitas yang kurang produktif, para peserta mendapatkan wadah untuk menyalurkan energi positif mereka melalui eksplorasi literasi yang mencerahkan.

Kemudahan dan fasilitas yang dinikmati oleh para peserta di Komunitas Gada Membaca ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Komunitas Gada Membaca menegaskan komitmennya untuk selalu terbuka bagi semua pihak secara gratis. Siapa pun, baik individu, sekolah, maupun komunitas, diperbolehkan datang untuk membaca, belajar, dan berdiskusi. Semangat inklusivitas ini diharapkan dapat meruntuhkan hambatan akses terhadap ilmu pengetahuan, sehingga cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa dapat dimulai dari langkah sederhana di perpustakaan komunitas. (des)***