ZONALITERASI.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan 83 SMA di 20 provinsi penyelenggara 1 dan Sekolah Indonesia Luar Negeri siap menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) tahun 2026 dengan menggunakan modul-modul cetak terstandarisasi.
Kemendikdasmen menargetkan tahun ajaran baru ini, sebanyak 3.500 anak tidak sekolah (ATS) yang terlayani.
Sebagai informasi, Kemendikdasmen melalui Direktorat Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) akan mengimplementasikan kebijakan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) tahun 2026.
Ini sebagai tindak lanjut kebijakan transformasi digital di bidang pendidikan.
Direktur PKPLK Kemendikdasmen, Saryadi, mengatakan, siswa berstatus ATS ini diproyeksikan untuk menjadi murid SMA negeri dan mendapatkan pendidikan formal.
Nantinya dalam layanan PJJ yang digelar Kemendikdasmen, mereka bisa mengakses materi-materi pembelajaran itu secara online.
Mereka juga disediakan materi-materi pembelajaran secara offline.
“Prinsipnya para murid dari ATS ini bisa belajar mandiri. Bagi yang ingin konsultasi dengan gurunya mereka bisa mendatangi sekolahnya,” terang Saryadi, dalam keterangan dari Kemendikdasmen, dikutip Sabtu, 25 April 2026.
“Kemendikdasmen menyiapkan modul-modul cetak yang telah terstandarisasi. Modul ini disusun secara kolaboratif dengan melibatkan Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, SEAMOLEC, Universitas Terbuka,” sambungnya.
Menurut Saryadi, modul-modul yang digunakan di dalam implementasi PJJ itu adalah modul untuk siswa yang belajar secara mandiri.
Kemudian, pada kesempatan berikutnya siswa akan mengerjakan tugas-tugas yang disiapkan di dalam modul.
“Modul yang disiapkan untuk PJJ ini adalah modul yang akan bisa memandu, ada instructional design, sehingga pada akhirnya nanti mereka bisa menguasai materi-materi yang ada di dalam kurikulum dan capaian-capaian pembelajaran yang memang menjadi penguatan dari kurikulum,” imbuhnya.
Bimbingan Teknis
Kata Saryadi, di dalam bimbingan teknis yang dilaksanakan saat ini, Kemendikdasmen membekali sekolah-sekolah tersebut dengan konsep PJJ, pemanfaatan teknologi, kemudian bagaimana nanti mengimplementasikan tata pengelolaan yang baik terkait dengan PJJ dan lain sebagainya.
Dukungan itu dilanjutkan termasuk dengan pelatihan bagi para guru yang akan ditugaskan untuk mengampu PJJ.
“Nanti akan ada pelatihan-pelatihan bagi para guru dalam penggunaan teknologi, kemudian juga penyesuaian pembelajaran. Tentu PJJ berbeda dengan belajar secara konvensional,” terang Saryadi.
Dia menambahkan, di periode saat ini (April sampai Juni) akan dimaksimalkan dukungan-dukungan tersebut sehingga tahun ajaran baru 2026/2027, PJJ ini sudah bisa diimplementasikan di masing-masing daerah.
Untuk tahap awal, Kemendikdasmen akan memberikan stimulus ke sekolah-sekolah pelaksana PJJ ini. Karena konsep yang diusung dalam PJJ ini, sekolah mendatangi anak yang tidak sekolah (ATS).
“Untuk menjangkau ATS ini bisa saja disosialisasikan melalui medsos, nanti ada yang daftar. Namun, kami juga mendorong sekolah menjangkau anak-anak yang memang tidak terjangkau, mungkin dari sisi informasi atau pun dari sisi pemahaman terkait layanan PJJ,” pungkas Saryadi. (des)***











